Kasus Transplantasi Jantung Babi ke Manusia, Ahli Temukan Virus pada Organ Itu!

Yasinta Rahmawati | Shevinna Putti Anggraeni | Suara.com

Minggu, 08 Mei 2022 | 09:20 WIB
Kasus Transplantasi Jantung Babi ke Manusia, Ahli Temukan Virus pada Organ Itu!
Ilustrasi babi. (shutterstock)

Suara.com - Para peneliti telah mencoba mencari tahu penyebab orang pertama yang menerima transplantasi jantung babi meninggal dunia.

Mereka menemukan jantung babi tersebut menyimpan virus hewan, tetapi belum bisa dikatakan virus itu menyebabkan kematian atau tidak.

David Bennett, pria yang menerima donor jantung babi itu meninggal dunia 2 bulan setelah transplantasi eksperimentan yang inovatif.

Para dokter Universitas Maryland mengatakan mereka menemukan hal yang mengejutkan dari DNA virus jantung babi.

Mereka tidak menemukan tanda-tanda bahwa virus yang disebut porcine cytomegalovirus ini menyebabkan infeksi aktif.

Ilustrasi babi. [PIxabay/Roy Buri]
Ilustrasi babi. [PIxabay/Roy Buri]

Tetapi dilansir dari Times of India, risiko utama dari transplantasi organ hewan ke manusia adalah infeksi virus baru pada manusia.

Karena, Dr. Bartley Griffith, ahli bedah yang melakukan transplantasi Bennett mengatakan beberapa virus bisa bersifat laten yang mengintai tanpa menyebabkan penyakit.

Namun, pengembangan sedang dilakukan untuk pengujian yang lebih canggih. Hal ini dilakukan untuk memastikan bahwa mereka tidak melewatkan jenis virus ini.

Virus hewan pertama kali dilaporkan oleh MIT Technology Review. Selama beberapa dekade, dokter juga telah mencoba menggunakan organ hewan untuk menyelamatkan nyawa manusia tanpa hasil

Sedangkan, kasus Bennett ini ia tidak cukup memenuhi syarat untuk menerima transplantasi jantung manusia.

Karena itu, ia mendapatkan donor jantung babi. Tim Maryland mengatakan babi donor itu sehat, telah lulus pengujian yang dipersyaratkan oleh Food and Drug Administration untuk memeriksa infeksi, dan dibesarkan di fasilitas yang dirancang untuk mencegah hewan menularkan infeksi.

Griffith mengatakan pasiennya sempat terlihat cukup baik setelah mendapatakan donor jantung babi. Kemudian, ia bangun dalam kondisi lebih buruk dengan gejala mirip infeksi suatu pagi.

Dokter pun melakukan banyak tes untuk mencoba mengetahui penyebabnya dan memberikan berbagai antibiotik, obat antivirus, dan perawatan peningkat kekebalan.

Tapi, jantung babi itu membengkak, berisi cairan dan akhirnya berhenti bekerja. Meski begitu, Griffith mengaku tidak tahu apa yang membuat virus menyebabkan pembengkakan jantung.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Medium Covid Juga Bisa Terjadi setelah Terinfeksi Covid-19, Kenali Gejalanya!

Medium Covid Juga Bisa Terjadi setelah Terinfeksi Covid-19, Kenali Gejalanya!

Health | Minggu, 08 Mei 2022 | 08:42 WIB

Virus Babi Diduga Kuat Picu Kematian Pasien Transplantasi Jantung Babi Pertama di Dunia

Virus Babi Diduga Kuat Picu Kematian Pasien Transplantasi Jantung Babi Pertama di Dunia

Health | Sabtu, 07 Mei 2022 | 13:30 WIB

Hepatitis Akut Berkaitan dengan Vaksin Covid-19? IDAI Beri Penjelasan

Hepatitis Akut Berkaitan dengan Vaksin Covid-19? IDAI Beri Penjelasan

Health | Sabtu, 07 Mei 2022 | 12:33 WIB

Terkini

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Suara.com dan Pertamedika IHC Jajaki Peluang Kolaborasi Lawan Hoaks Kesehatan di Era AI

Health | Selasa, 26 Mei 2026 | 23:23 WIB

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Mengenal Golden Period Stroke, Waktu Penting yang Menentukan Pemulihan Pasien

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 23:08 WIB

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:11 WIB