facebook

Studi Baru: Vaksin Hanya Memberi Sedikit Perlindungan Terhadap Long Covid

Arendya Nariswari | Rosiana Chozanah
Studi Baru: Vaksin Hanya Memberi Sedikit Perlindungan Terhadap Long Covid
Ilustrasi covid-19, gejala long covid pada anak (Pixabay)

Risiko long Covid pada orang yang sudah divaskinasi lengkap hanya berkurang sekitar 15 persen.

Suara.com - Meski vaksin terbukti mengurangi risiko Covid-19 parah, namun ini hanya menawarkan sedikit perlindungan terhadap long Covid.

Temuan yang terbit pada Rabu (25/5/2022) di jurnal Nature Medicine, ini cukup mengecewakan sebab para peneliti pernah berharap vaksin dapat mengurangi risiko long Covid secara signifikan.

Risiko long Covid pada orang yang sudah divaskinasi lengkap hanya berkurang sekitar 15 persen dibanding mereka yang tidak mendapatkannya.

"Vaksin itu ajaib dalam melakukan tugasnya sesuai apa yang dirancang. Tetapi vaksin hanya menawarkan perlindungan yang sangat sederhana terhadap long Covid," kata epidemiolog klinis di Universitas Washington, St. Louis, Ziyad Al-Aly.

Baca Juga: Soal Perlu Tidaknya Masyarakat Disuntik Vaksin Dosis Keempat, Epidemiolog UGM Beri Penjelasan Ini

Ilustrasi vaksin Covid-19 untuk Lansia. [Istimewa]
Ilustrasi vaksin Covid-19 untuk Lansia. [Istimewa]

Namun, direktur Program Rehabilitasi Aktivitas Covid Mayo Clinic di Rochester, Minnesota, Greg Vanichkachorn, mengaku bahwa hasilnya tidak mengejutkan.

"Kita tahu bahwa mayoritas penderita long Covid tidak mengalami infeksi parah," komentar Vanichkachorn, dilansir NBC News.

Dalam studi ini, peneliti menemukan bahwa vaksin lebih efektif dalam mencegah gejala Covid-19 yang paling mengancam jiwa, seperti risiko gangguan pari-paru dan gangguan pembekuan darah.

Al-Aly juga mencatat bahwa tidak semua orang yang mengalami infeksi terobosan akan menderita long Covid. Dia menemukan sekitar 10 persen dari kasus long Covid dari infeksi terobosan.

Baca Juga: Ditemukan 55 Kasus Cacar Monyet, Spanyol akan Beli Vaksin Imvanex

Komentar