facebook

Kak Seto Minta Orangtua Tidak Membandingkan Nilai Rapor Anak dengan Orang Lain: Bisa Bikin Anak Merasa Bodoh

M. Reza Sulaiman | Lilis Varwati
Kak Seto Minta Orangtua Tidak Membandingkan Nilai Rapor Anak dengan Orang Lain: Bisa Bikin Anak Merasa Bodoh
Seorang guru memberikan rapor kepada orang tua siswa saat penerimaan rapor dengan layanan tanpa turun di SD Darul Hikam, Bandung, Jawa Barat, Selasa (15/6/2021). ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Pemerhati anak Seto Mulyadi alias Kak Seto meminta orangtua untuk berhenti membandingkan nilai rapor anak dengan temannya. Apa bahayanya?

Suara.com - Pemerhati anak Seto Mulyadi alias Kak Seto meminta orangtua untuk berhenti membandingkan nilai rapor anak dengan temannya. Apa bahayanya?

Liburan sekolah kenaikan kelas sudah dimulai. Artinya, kebanyakan siswa juga sudah menerima rapor hasil pembelajaran selama satu tahun terakhir.

Seperti apa pun nilai sekolah anak-anak, orangtua diingatkan tidak membandingkannya dengan prestasi akademis anak maupun saudara lain.

Kak Seto mengatakan bahwa sering membandingkan nilai akademis anak justru bisa mematikan semangat belajarnya.

Baca Juga: Masih Enerjik di Usia Matang, Ini Rahasia Kesehatan dari Kak Seto

Seto Mulyadi alias Kak Seto. [Muhammad Anzar Anas/Suara.com]
Seto Mulyadi alias Kak Seto. [Muhammad Anzar Anas/Suara.com]

"Itu bisa mematikan semangat belajar karena dia merasa gagal, tidak mampu di bidang pendidikan, jadi merasa bodoh, putus asa, dan tidak termotivasi sama sekali. Malah dia akan semakin menjauh dari mata pelajaran dan akhirnya semakin mundur," ujar pria yang akrab disapa Kak Seto tersebut kepada suara.com, Minggu (26/6/2022).

Hal terburuk lainnya, anak juga bisa jadi mencari kegiatan lain yang negatif sebagai pelampiasan agar bisa diperhatikan. Misalnya, lanjut Kak Seto, merundung teman-temannya yang sukses di bidang akademi atau mencoba hal-hal yang menyimpang, seperti kebut-kebutan di jalan hingga ikut tawuran.

Kak Seto mengingatkan bahwa inti dari pendidikan ialah menghargai semua potensi kecerdasan anak. Setiap anak memiliki keunikan, otentik, dan tidak terbandingkan.

"Pemahaman cerdas itu luas, bisa dibidang akademik, tapi bisa juga di bidang non akademik, itu namanya tetap cerdas. Bisa cerdas musik, nyanyi, gambar, cerdas menari, cerdas olahraga, itu yang harus disadarkan kepada para orang tua dan oleh para guru," ujar Kak Seto.

Menurut Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) tersebut, setiap murid tidak harus mendapatkan nilai akademis hingga 90. Orangtua juga guru cukup memastikan anak-anak mampu mencapai standar minimal nilai yang sudah ditentukan.

Baca Juga: Sindiran Menohok Kak Seto Buat Orangtua yang Ngaku Tak Punya Waktu Buat Anak: Kenapa Punya Anak?

"Jadi guru harus melihat dan bicara dengan orangtua, kalau nilai anak tidak terlalu bagus, enggak apa-apa, enggak usah marah, yang penting standar minimalnya bisa tercapai," pesan Kak Seto.

Komentar