Viral Seorang Ibu Minta Tolong Anaknya Butuh Ganja Medis, Ini Manfaatnya Untuk Penderita Celebral Palsy

Bimo Aria Fundrika | Dinda Rachmawati | Suara.com

Senin, 27 Juni 2022 | 11:05 WIB
Viral Seorang Ibu Minta Tolong Anaknya Butuh Ganja Medis, Ini Manfaatnya Untuk Penderita Celebral Palsy
Andien Bertemu Ibu yang Viral Perjuangkan Legalisasi Ganja Medis di CFD. (Twitter)

Suara.com - Seorang ibu bernama Santi sempat viral dan mencuri perhatian banyak orang, saat berkeliling bersama sang anak di Car Free Day (CFD) sambil membawa sebuah poster "TOLONG, ANAKKU BUTUH GANJA MEDIS" pada Minggu (26/6/2022).

Hal tersebut sempat membut penyanyi Andien Aisyah menghampiri ibu tersebut, yang langsung memeluk dan menangis di pundaknya. Pasalnya, sudah dua tahun belakangan, Santi memperjuangkan legalisasi ganja medis untuk sang anak, Pika, yang mengidap Celebral Palsy atau lumpuh otak.

Menurutnya, salah satu terapi yang dibutuhkan Pika saat ini adalah CBD Oil atau minyak dari tanaman ganja yang konttoversial. Meski sudah membawa kasus ini ke Mahkamah Konstitusi (MK), keinginannya bersama banyak ibu yang bernasib sama dengannya belum juga terealisasi. 

CBD oil atau minyak Cannabidiol memang berasal dari ekstrak tanaman ganja dan telah populer untuk berbagai kondisi selama beberapa tahun terakhir. Dilansir Health Cleve and Clinic, kandungan cannabidiol sendiri adalah satu dari lebih dari 100 senyawa kimian yang ditemukan di tanaman ganja sativa.

Ilustrasi ganja sebagai bantuan medis (Shutterstock)
Ilustrasi ganja sebagai bantuan medis (Shutterstock)

Namun, CBD oil tidak mengandung THC (tetrahydrocannabinol), senyawa psikoaktif utama dalam ganja yang bisa memberi pemakainya euforia tinggi.

CBD diambil dari rami, sejenis tanaman ganja yang mengandung kadar THC yang sangat rendah, sehingga tidak membuat pemakainya mabuk. CBD oil hanyalah produk yang mengandung ekstrak CBD dan minyak, seperti minyak kelapa, yang biasanya untuk penggunaan topikal.

Pada website Celebral Palsy Guidance, ganja medis mungkin berguna dalam mengelola kejang parah dan epilepsi pada penderita celebral palsy. 

Meski penelitian tentang penggunaan ganja medis pada cerebral palsy masih terbatas, namun dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa ganja medis menawarkan sejumlah manfaat, termasuk pengendalian rasa sakit, pengurangan gerakan kejang, pengurangan kejang, dan banyak lagi.

Survei Studi Pengobatan Nyeri Pada tahun 2011, hasil penelitian tentang pengobatan nyeri pada penderita cerebral palsy diterbitkan oleh National Institutes of Health (NIH). 

Sebanyak 83 orang dewasa dengan cerebral palsy berpartisipasi dalam penelitian ini, yang terdiri dari mencoba 23 obat berbeda untuk nyeri, termasuk ganja medis. 

Studi tersebut melaporkan kaki, punggung bawah, dan pinggul sebagai area nyeri yang paling umum. Menurut laporan, “Perawatan yang dinilai paling melegakan adalah ganja; namun, kurang dari 5% dari sampel yang dilaporkan pernah menggunakan obat ini untuk nyeri.

Ganja Medis dan Kuadriplegia Spastik Kuadriplegia spastik adalah bentuk celebral palsy yang paling parah, mengenai semua ekstremitas, wajah, dan badan. Mayoritas anak dengan spastik quadriplegia tidak dapat berjalan, dan bicara mereka biasanya sangat terpengaruh. 

Sementara anggota badan bisa sangat kaku, otot leher mereka mungkin lemah, sehingga sulit bagi mereka untuk mengangkat kepala. Nyeri fisik dan masalah komunikasi umum terjadi pada mereka yang menderita spastik quadriplegia. 

Meskipun lebih banyak data diperlukan, beberapa penelitian yang dilakukan tentang penggunaan ganja medis untuk gejala spastik quadriplegia menunjukkan bahwa ia menawarkan banyak manfaat terapeutik.

 Misalnya, sebuah penelitian yang diterbitkan oleh NIH pada tahun 2007 menyatakan bahwa pengalaman klinis dan penelitian pada hewan menunjukkan bahwa konstituen aktif dalam ganja membantu mengendalikan kejang parsial yang sering terlihat pada orang dengan spastik quadriplegia.

Studi lain yang diterbitkan pada tahun 2014 menunjukkan ganja efektif dalam mengurangi kejang otot yang menyakitkan. Meskipun penelitian ini berfokus pada orang yang mengalami kejang otot yang berhubungan dengan multiple sclerosis, kejang adalah salah satu gejala yang paling umum pada orang dengan cerebral palsy.

Sayangnya, larangan ganja di banyak negara mempersulit para ilmuwan untuk terus melakukan penelitian mendalam. Namun, banyak negara sekarang mengizinkan ganja medis digunakan untuk mengobati kejang dan nyeri. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Nyesek, Baru Dikabari Anak Meninggal Usai 1000 Hari Berlalu, Tangis Ibu Pecah Tak Tertahan

Nyesek, Baru Dikabari Anak Meninggal Usai 1000 Hari Berlalu, Tangis Ibu Pecah Tak Tertahan

News | Senin, 27 Juni 2022 | 10:33 WIB

Viral Video Pelanggan Lempar Uang Pembayaran ke Kasir Alfamart, Ternyata Hanya Sebagai Konten Edukasi

Viral Video Pelanggan Lempar Uang Pembayaran ke Kasir Alfamart, Ternyata Hanya Sebagai Konten Edukasi

News | Senin, 27 Juni 2022 | 10:29 WIB

Terpilih Masuk Video Kampanye PBB, Perempuan Asal Papua di Australia Jadi Viral di TikTok

Terpilih Masuk Video Kampanye PBB, Perempuan Asal Papua di Australia Jadi Viral di TikTok

News | Senin, 27 Juni 2022 | 10:27 WIB

Terkini

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Akreditasi JCI Perkuat Posisi Bali sebagai Destinasi Wisata Medis Dunia

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 12:18 WIB

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Bukan Sekadar Salah Makan: Mengenal IBD, Penyakit 'Silent Killer' yang Mengintai Usia Produktif

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 10:40 WIB

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Waspada! Ancaman Ebola Selevel Awal Pandemi Covid-19

Health | Minggu, 24 Mei 2026 | 06:58 WIB

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Obesitas Tak Lagi Sekadar Masalah Berat Badan, Kapan Perlu Bedah Bariatrik?

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:59 WIB

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Risiko Paparan Darah Tenaga Medis Masih Tinggi, Prosedur IV Jadi yang Paling Diwaspadai

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 18:39 WIB

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Dari Saraf hingga Kanker, MRI Berbasis AI Tingkatkan Akurasi dan Kecepatan Penanganan Pasien

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 11:30 WIB

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Merasa Sehat Bisa Menipu, Cerita Iwet Ramadhan dan Dave Hendrik Jadi Peringatan Bahaya Hipertensi

Health | Sabtu, 23 Mei 2026 | 09:30 WIB

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Robekan Aorta Tingkatkan Risiko Kematian Tiap Jam, Layanan Terpadu Jadi Kunci Penyelamatan

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 13:11 WIB

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Heboh Wanita Bekasi Tunjukkan Wajah Khas Gagal Ginjal, Waspadai Ciri-cirinya!

Health | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:27 WIB

Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini

Diskon BRI untuk Paket MCU dan Perawatan Ortopedi di Primaya Hospital, Cek di Sini

Health | Kamis, 21 Mei 2026 | 19:56 WIB