facebook

CDC Waspadai Wabah Listeria Misterius, Sebabkan Keguguran Ibu Hamil Hingga Kematian!

Vania Rossa | Dini Afrianti Efendi
CDC Waspadai Wabah Listeria Misterius, Sebabkan Keguguran Ibu Hamil Hingga Kematian!
Ilustrasi hamil (pixabay.com)

Dari semua kasus infeksi, lima orang di antaranya sedang hamil dan salah satu diantaranya mengalami keguguran.

Suara.com - Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, CDC meningkatkan kewaspadaaan pada wabah listeria misterius yang menyebabkan kematian, keguguran, dan harus dirawat di rumah sakit pada ibu hamil.

Sebanyak 23 orang sudah jatuh sakit karena listeria, bakteri yang bisa menyebabkan penyakit parah dan keguguran.

Infeksi bakteri ini dikenal sebagai listeriosis, menginfeksi orang yang mengonsumsi makanan yang terkontaminasi bakteri. Tapi anehnya menurut CDC, hingga saat ini tidak ada makanan tertentu yang dikaitkan dengan wabah tersebut.

Ada satu orang yang terinfeksi harus dirawat di rumah sakit, dan ada satu orang yang meninggal karena penyakit ini.

Baca Juga: Viral Ibu Hamil Curhat Tak Dapat Kursi Prioritas saat Naik Transportasi Umum, Kisahnya Jadi Sorotan

Dari semua kasus infeksi, lima orang di antaranya sedang hamil dan salah satu diantaranya mengalami keguguran.

Orang hamil dan bayi lahir berisiko tinggi terinfeksi bergejala berat jika terinfeksi listeria. Gejalanya meliputi demam, kelelahan, dan nyeri otot. Tapi jika infeksi ini terjadi selama kehamilan, bisa menyebabkan keguguran, bayi lahir mati, hingga kelahiran prematur.

Selain itu, orang dengan sistem kekebalan tubuh yang lemah dan orang dewasa yang berusia lebih dari 65 tahun juga berisiko alami keparahan jika terinfeksi listeria.

Gejala lain penyakit ini jika sudah menyebar dari usus ke otak, yaitu sakit kepala, leher kaki, kebingungan, hilang keseimbangan, hingga kejang.

Parahnya, gejala bisa terjadi lebih dari dua bulan setelah terpapar makanan maupun air yang terkontaminasi.

Baca Juga: 3 Penyakit yang Biasa Menyertai Kehamilan dan Cara Menanganinya

"Sebagian dari masalah listeria adalah memiliki masa inkubasi 3 hingga 70 hari. Sehingga mereka harus melacak apa makanan yang dikonsumsi selama 60 hari terakhir, dan inilah yang menyulitkan, kecuali jika orang tersebut memang cepat jatuh sakit," ujar Pengacara Keamanan Pangan Bill Marler, mengutip Insider, Jumat (7/1/2022).

Komentar