Ancaman Flu Burung Mutasi Mirip COVID-19, Peternakan Pabrik Diminta Tutup

M Nurhadi

Senin, 09 Desember 2024 | 19:25 WIB
Ancaman Flu Burung Mutasi Mirip COVID-19, Peternakan Pabrik Diminta Tutup
Ilustrasi flu burung. (Shutterstocks)

Suara.com - Industri peternakan jadi sektor yang paling terdampak buruk wabah virus flu burung H5N1. Sejak Oktober 2021, lebih dari 280 juta burung telah mati akibat virus ini.

Tidak hanya menyerang spesies burung, virus ini juga menginfeksi spesies yang terancam punah serta mamalia, menimbulkan kekhawatiran bahwa virus ini dapat menyebar ke manusia.

Organisasi Act for Farmed Animals (AFFA), bersama dengan Koalisi NGO Sinergia Animal dan Animal Friends Jogja, mendesak pemerintah untuk menangani penyebab utama krisis ini, yaitu peternakan industri intensif yang menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit seperti flu burung.

Sejak pertama kali ditemukan pada tahun 1996 di China, H5N1 menyebar secara global dan telah menyebabkan kematian massal pada burung, termasuk 40% pelikan Dalmatian di Eropa Tenggara dan hampir seluruh generasi singa laut serta anjing laut di Amerika Selatan.

Virus flu burung ini telah menginfeksi setidaknya 485 spesies burung dan 48 spesies mamalia, yang berakibat serius terhadap satwa liar dan biodiversitas.

“Para ahli sepakat bahwa krisis ini memerlukan perhatian global yang mendesak. Meskipun penularan H5N1 antar manusia masih jarang, virus ini dapat bermutasi dan menjadi lebih berbahaya, mirip dengan COVID-19,” kata Among Prakosa, Direktur Pengelola AFFA.

“H5N1 memiliki tingkat kematian 50% pada manusia, jauh lebih tinggi dibandingkan COVID-19 yang hanya 1,7%. PBB dan CDC telah mengeluarkan peringatan mengenai potensi bahaya ini,” tambahnya.

Berdasarkan riset terbaru di Universitas Harvard, ditemukan adanya hubungan erat antara peternakan industri dan risiko penyakit zoonotik (penyakit yang dapat berpindah dari hewan ke manusia). Laporan tersebut merekomendasikan pengurangan industri peternakan hewan intensif secara global sebagai langkah penting untuk mengurangi ancaman pandemi di masa depan. Program Lingkungan PBB (UNEP) juga menegaskan bahwa praktik peternakan industri intensif dapat memicu pandemi berikutnya jika tidak ada perubahan signifikan.

Peran Indonesia dalam Melawan H5N1

baca juga

Pada tahun 2024, wabah flu burung kembali merebak di berbagai belahan dunia, dan Indonesia masih merupakan daerah endemis flu burung. Sejak 2005, sebagian besar wabah terjadi di belahan bumi utara. Namun, menurut data dari World Organisation for Animal Health (WAHIS), Indonesia melaporkan jumlah wabah tertinggi pada tahun 2008, 2009, dan 2019.

Peternakan industri dengan kepadatan tinggi dan kurangnya kebersihan menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit seperti H5N1. Indonesia mencatat jumlah kasus dan kematian akibat flu burung tertinggi di dunia. Sejak virus ini terdeteksi pada burung di awal tahun 2004, lebih dari 29 juta burung telah dimusnahkan sebagai langkah penanggulangan.

Pemerintah terus memperkuat pengawasan dan langkah pencegahan setelah laporan dari WHO mengenai infeksi H9N2 terbaru di India. Ini menunjukkan komitmen Indonesia dalam melindungi kesehatan masyarakat dan mencegah penyebaran virus lebih luas.

AFFA menegaskan bahwa solusi untuk krisis H5N1 adalah menghentikan praktik peternakan pabrik yang menciptakan kondisi ideal bagi penyebaran penyakit. AFFA mengajak semua pihak untuk mengambil langkah nyata: meningkatkan kesejahteraan hewan, memperkuat biosekuriti, dan beralih ke sistem pangan berbasis nabati. Solusi ini tidak hanya lebih sehat bagi manusia tetapi juga lebih ramah lingkungan.

Di Indonesia, inisiatif Nutrisi Esok Hari sejak tahun 2021 bertujuan mempromosikan makanan berbasis nabati dengan dukungan dari berbagai institusi untuk menggantikan produk hewani dengan alternatif nabati.

“Krisis flu burung ini menunjukkan bahaya dari pola hidup yang tidak berkelanjutan serta industri peternakan intensif,” kata Among. “Sudah saatnya kita menghentikan pendanaan untuk praktik merusak ini dan mulai berinvestasi dalam alternatif berbasis nabati yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.”

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Sebut WHO Rancang Pandemi Baru, Epidemiolog UI Tepis Ucapan Dharma Pongrekun: Itu Omong Kosong

Sebut WHO Rancang Pandemi Baru, Epidemiolog UI Tepis Ucapan Dharma Pongrekun: Itu Omong Kosong

Kotak Suara | Senin, 18 November 2024 | 13:19 WIB

Negara Kaya Wajib Bantu Negara Berkembang? Ini Tuntutan AHF di WHO Pandemic Agreement

Negara Kaya Wajib Bantu Negara Berkembang? Ini Tuntutan AHF di WHO Pandemic Agreement

Bisnis | Rabu, 06 November 2024 | 17:05 WIB

Kasus Pertama! Babi Terjangkit Virus Flu Burung di AS, Berpotensi Pandemi Baru?

Kasus Pertama! Babi Terjangkit Virus Flu Burung di AS, Berpotensi Pandemi Baru?

News | Jum'at, 01 November 2024 | 11:55 WIB

Kartu Prakerja Catat Prestasi Signifikan Hingga Dapat Puja-puji Dunia

Kartu Prakerja Catat Prestasi Signifikan Hingga Dapat Puja-puji Dunia

Bisnis | Senin, 28 Oktober 2024 | 13:26 WIB

Dharma Pongrekun Sebut Penyebab Tanah Abang Sepi Akibat Pandemi Covid-19

Dharma Pongrekun Sebut Penyebab Tanah Abang Sepi Akibat Pandemi Covid-19

Kotak Suara | Minggu, 27 Oktober 2024 | 22:15 WIB

Kawal Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, 10 Tahun Jokowi Catat Kemajuan Pesat Bidang Telemedicine

Kawal Masyarakat Indonesia Selama Pandemi Covid-19, 10 Tahun Jokowi Catat Kemajuan Pesat Bidang Telemedicine

Health | Jum'at, 25 Oktober 2024 | 18:36 WIB

Terkini

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:03 WIB

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Bogor | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:57 WIB

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Jakarta | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:36 WIB

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Bali | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:09 WIB

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:59 WIB

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:41 WIB

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:40 WIB

×