Perlu Edukasi Inklusif, Penyakit Jantung Bawaan Ancam Anak dengan Kondisi Khusus

Vania Rossa | Suara.com

Jum'at, 16 Mei 2025 | 05:34 WIB
Perlu Edukasi Inklusif, Penyakit Jantung Bawaan Ancam Anak dengan Kondisi Khusus
Peluncuran Buku “101 Tanya Jawab Seputar Penyakit Jantung Bayi, Anak, Remaja dan Sindrom Down” (dok. POTADS)

Suara.com - Masalah kurangnya akses terhadap informasi kesehatan yang mudah dipahami masih menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga di Indonesia, terutama mereka yang memiliki anak dengan kondisi khusus seperti Down Syndrome dan penyakit jantung bawaan.

Situasi ini diperparah oleh studi yang menunjukkan fakta bahwa sekitar 40–50% bayi yang lahir dengan kondisi Down Syndrome ternyata dapat mengalami kelainan jantung bawaan yang memerlukan penanganan medis khusus sejak dini.

Gangguan jantung bawaan merupakan salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada anak, khususnya di tahun-tahun awal kehidupan.

Sayangnya, banyak keluarga masih kesulitan memahami diagnosis medis dan prosedur penanganan yang kompleks, informasi yang tersedia di internet kerap kali bersifat teknis atau justru tidak akurat, serta literatur medis yang masih menggunakan bahasa asing.

Hal Ini membuat keputusan medis menjadi lebih sulit dan penuh ketidakpastian, terutama bagi keluarga dengan keterbatasan akses terhadap layanan spesialis.

“Saya tahu bahwa pengidap jantung bawaan dan keluarganya sering kesulitan memahami hal-hal yang terlalu medis, terlebih lagi jika tidak menggunakan bahasa Indonesia,” ujar dokter anak Dr. dr. Syarif Rohimi, SpA(K) dalam Talkshow yang diselenggarakan oleh RSAB Harapan Kita di Jakarta, Kamis (15/5/2025).

Selain dari kurangnya akses terhadap informasi kesehatan, menurut Dr. Syarif, ada faktor lain terhadap risiko penyakit jantung bawaan seperti faktor genetik dan faktor lingkungan, di mana dalam kehidupan sehari-hari, dapat ditemui ibu yang berumur lebih dari 35 tahun, bisa memberikan risiko penyakit jantung bawaan terhadap anak.

“Risiko yang gampang diketahui sehari-hari itu ada ibu yang berumur lebih dari 35 tahun, ibu yang hamil lebih dari 5 kali juga dapat memberikan risiko jantung bawaan, ibu dengan cairan amnion yang berlebihan, ibunya punya penyakit diabetes melitus, anak yang pertumbuhannya tidak normal akan memiliki resiko penyakit jantung bawaan yang lebih tinggi,” tuturnya.

Ia juga menambahkan bahwa untuk mengatasi penyakit jantung bawaan ini, perlu adanya program Nasional yang dapat menekan angka terjadinya penyakit jantung bawaan, seperti adanya anjuran untuk ibu agar tidak hamil dan melahirkan di atas usia 35 tahun yang rentan akan adanya anak yang mengalami penyakit jantung bawaan, dan juga membatasi jumlah kehamilan.

Selain itu, juga perlu adanya sistem layanan kesehatan yang lebih inklusif dan responsif terhadap kebutuhan keluarga dengan anak berkebutuhan khusus.

Masih terbatasnya pusat rujukan khusus dan layanan konseling psikososial menjadi hambatan serius dalam perawatan jangka panjang.

Begitu juga dengan kurangnya literatur kesehatan yang ramah pembaca, terbatasnya pelatihan bagi tenaga medis dalam menyampaikan informasi secara inklusif, serta minimnya dukungan pemerintah untuk program pendampingan keluarga di sektor kesehatan anak.

Sehingga, upaya seperti ini diharapkan bukan berhenti pada satu momentum saja. Banyak pihak menilai bahwa pemerintah perlu terlibat lebih aktif dalam menyediakan materi edukatif berbasis kebutuhan masyarakat, sekaligus memperluas jaringan layanan pendampingan bagi keluarga yang terdampak.

Karena tanpa akses informasi yang memadai, keluarga akan terus berada dalam ketimpangan pengetahuan yang berdampak langsung pada pengambilan keputusan dan masa depan anak-anak mereka.

Dan peringatan hari Down Syndrome sedunia kali ini pun menjadi momentum mengingatkan bahwa pentingnya untuk memberikan kesadaran dan edukasi kepada masyarakat terkait dengan penyakit jantung bawaan ini terutama untuk ibu yang mempunyai anak dengan kondisi berkebutuhan khusus atau Down Syndrome.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Teknik Minimal Invasif: Harapan Baru Bagi Penderita Penyakit Jantung Bawaan

Teknik Minimal Invasif: Harapan Baru Bagi Penderita Penyakit Jantung Bawaan

Health | Selasa, 29 April 2025 | 10:59 WIB

Cek Kesehatan Gratis Dapat Apa Saja? Periksa Penyakit Jantung, Kanker hingga Gangguan Kejiwaan

Cek Kesehatan Gratis Dapat Apa Saja? Periksa Penyakit Jantung, Kanker hingga Gangguan Kejiwaan

Health | Jum'at, 14 Februari 2025 | 18:02 WIB

Video Humanis Shin Tae-yong Viral: Momen Tulus Bersama Anak-anak Down Syndrome Bikin Netizen Makin Susah Move On

Video Humanis Shin Tae-yong Viral: Momen Tulus Bersama Anak-anak Down Syndrome Bikin Netizen Makin Susah Move On

Lifestyle | Kamis, 16 Januari 2025 | 12:06 WIB

Terkini

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Panas Ekstrem Tak Cuma Bikin Gerah, Tapi Juga Bisa Memperpendek Usia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:35 WIB

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Christophe Piganiol: Rantai Pasok yang Tangguh Adalah Kunci Keselamatan Pasien

Health | Rabu, 01 April 2026 | 17:26 WIB

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Mengenal Neuro-Afirming, Solusi Kesehatan Mental untuk Anak Spesial di Indonesia

Health | Rabu, 01 April 2026 | 12:45 WIB

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Residu Obat Ditemukan di Sungai dan Danau, Begini Dampak Nyatanya

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 18:10 WIB

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Tak Perlu ke Luar Negeri, Indonesia Kini Perkuat Pengobatan Kanker Lewat Pendekatan Multidisiplin

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:53 WIB

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Penjelasan Kemenkes soal Kematian Dokter di Cianjur: Positif Campak dengan Komplikasi Jantung-Otak

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:37 WIB

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Kasus Campak di Indonesia Turun Drastis 93 Persen Sejak Awal Tahun 2026

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 11:22 WIB

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Cegah Penularan, Kemenkes Keluarkan Aturan Baru Kewaspadaan Campak di RS

Health | Selasa, 31 Maret 2026 | 10:54 WIB