Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?

Bimo Aria Fundrika | Suara.com

Rabu, 21 Mei 2025 | 08:41 WIB
Panas Ekstrem Akibat Krisis Iklim Picu Risiko Kehamilan, Adakah Solusi Atasinya?
Ilustrasi ibu hamil, UU KIA kapan berlaku (Freepik)

Suara.com - Peningkatan suhu global akibat perubahan iklim telah menciptakan ancaman baru bagi ibu hamil di seluruh dunia. Sebuah laporan terbaru dari Climate Central mengungkapkan bahwa cuaca panas ekstrem kini berperan besar dalam meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, terutama di negara-negara berkembang.

Selama periode 2020 hingga 2024, Climate Central menganalisis suhu harian di 247 negara dan lebih dari 900 kota. Hasilnya menunjukkan bahwa hampir sepertiga negara mengalami tambahan rata-rata satu bulan hari panas berisiko tinggi setiap tahun akibat perubahan iklim.

Sebagian besar dari negara-negara tersebut berada di wilayah Karibia, Amerika Latin, Asia Tenggara, Kepulauan Pasifik, dan Afrika sub-Sahara.

Hari panas berisiko didefinisikan sebagai hari dengan suhu maksimum lebih tinggi dari 95 persen suhu harian lainnya dalam sejarah wilayah tersebut. Suhu setinggi ini telah dikaitkan secara signifikan dengan peningkatan risiko kelahiran prematur, hipertensi dalam kehamilan, diabetes gestasional, bahkan lahir mati.

Ilustrasi krisis iklim (Freepik.com/freepik)
Ilustrasi krisis iklim (Freepik.com/freepik)

Menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) di Amerika Serikat, bahkan satu hari panas ekstrem selama kehamilan bisa memperbesar risiko komplikasi secara nyata.

Laporan ini tidak hanya menunjukkan tren suhu, tetapi juga ketimpangan dampaknya. Negara-negara yang paling terdampak panas ekstrem cenderung memiliki akses terbatas ke layanan kesehatan ibu dan anak.

"Banyak dari mereka juga tidak memiliki akses terhadap teknologi pendinginan yang memadai, seperti kipas angin atau AC. Kondisi ini memperbesar risiko yang harus dihadapi perempuan hamil, terutama dari kelompok masyarakat miskin," tulis mereka dalam laporannya. 

Sebanyak 15 negara, hampir semuanya di wilayah Karibia, mengalami sedikitnya 60 hari tambahan hari panas kehamilan akibat perubahan iklim setiap tahun. Itu berarti sekitar seperlima dari total masa kehamilan rata-rata. Selain itu, ada 10 kota di dunia—mayoritas juga berada di Karibia—yang menghadapi lebih dari 70 hari panas kehamilan tambahan setiap tahunnya.

Climate Central menganalisis suhu global menggunakan data ERA5 beresolusi tinggi, lalu membandingkannya dengan suhu kontrafaktual—yakni suhu yang diperkirakan akan terjadi tanpa pengaruh perubahan iklim akibat ulah manusia. Suhu kontrafaktual dihitung menggunakan sistem Climate Shift Index (CSI), metode berbasis ilmu atribusi yang telah ditinjau sejawat.

Analisis ini berfokus pada hari-hari ketika suhu maksimum melebihi 90%, 95%, dan 99% suhu harian lokal periode 1991–2020. Ketiga ambang ini digunakan untuk mengukur risiko panas terhadap kehamilan, khususnya kelahiran prematur. Laporan menitikberatkan pada hari di atas persentil ke-95, yang disebut sebagai hari berisiko panas kehamilan, merujuk pada studi seperti Wheeler et al., Bekkar et al., dan León-Depass & Sakala.

Analisis dilakukan terhadap 247 negara dan wilayah, serta 940 kota besar, dengan perincian khusus di negara besar seperti AS dan Kanada. Tujuannya untuk menghitung jumlah hari berisiko panas akibat perubahan iklim selama 2020–2024. Meski berbasis data presisi tinggi, hasilnya dibulatkan untuk keterbacaan tanpa mengurangi keakuratan keseluruhan.

Meskipun risiko ini meningkat secara global, laporan tersebut juga membuka ruang bagi solusi. Salah satunya adalah konsep "pendinginan yang adil", yaitu memastikan akses terhadap alat pendingin dan ruang aman bagi ibu hamil, terutama mereka yang tinggal di daerah rentan.

Klinik dan rumah sakit perlu dilengkapi dengan sistem ventilasi dan pendinginan hemat energi, agar tidak hanya menyelamatkan nyawa tetapi juga mengurangi beban biaya energi.

Selain itu, edukasi kepada masyarakat menjadi penting. Banyak perempuan hamil yang belum menyadari bahwa suhu tinggi bisa berdampak langsung pada kesehatan janin dan proses kelahiran. Kampanye publik tentang risiko panas dan pencegahannya bisa membantu menyelamatkan lebih banyak nyawa.

Laporan ini menjadi pengingat bahwa dampak perubahan iklim bukan hanya bencana besar atau peristiwa ekstrem yang kasat mata. Ia menyusup ke dalam kehidupan sehari-hari, bahkan sejak bayi masih dalam kandungan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Cemas Soal Kehamilan? Ini Pentingnya Diagnosis Prenatal yang Sering Diabaikan!

Cemas Soal Kehamilan? Ini Pentingnya Diagnosis Prenatal yang Sering Diabaikan!

Health | Selasa, 20 Mei 2025 | 20:44 WIB

Haji di Tengah Krisis Iklim: Bagaimana Solusi Ibadah Saat Ancaman Panas Ekstrem?

Haji di Tengah Krisis Iklim: Bagaimana Solusi Ibadah Saat Ancaman Panas Ekstrem?

News | Senin, 19 Mei 2025 | 11:50 WIB

Luna Maya Blak-blakan soal Momongan Setelah Nikah: Ada 'Kendala' Tak Terduga!

Luna Maya Blak-blakan soal Momongan Setelah Nikah: Ada 'Kendala' Tak Terduga!

Video | Senin, 19 Mei 2025 | 13:45 WIB

Terkini

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Berat Badan Anak Susah Naik? Waspadai Gejala Penyakit Jantung Bawaan yang Sering Tak Disadari

Health | Rabu, 08 April 2026 | 19:55 WIB

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Tes Genetik Makin Terjangkau, Indonesia Targetkan 200 Ribu Sequencing DNA untuk Deteksi Penyakit

Health | Rabu, 08 April 2026 | 14:11 WIB

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Kenali Ragam Penyakit Ginjal dan Pilihan Pengobatan Terbaiknya

Health | Rabu, 08 April 2026 | 11:58 WIB

Solusi Membasmi Polusi Kekinian  ala Panasonic

Solusi Membasmi Polusi Kekinian ala Panasonic

Health | Selasa, 07 April 2026 | 19:00 WIB

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Gaya Hidup Modern Picu Asam Urat, Ini Solusi Alami yang Mulai Direkomendasikan

Health | Selasa, 07 April 2026 | 11:00 WIB

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Memahami Autisme dari Dekat: Kenapa Dukungan Lingkungan Itu Penting untuk Anak ASD

Health | Senin, 06 April 2026 | 17:43 WIB

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

17.500 Paket Gizi untuk Masa Depan: Langkah Konkret Melawan Stunting di Bekasi

Health | Minggu, 05 April 2026 | 09:54 WIB

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Hati-Hati Efek 'Balas Dendam' Makan Enak: Ini 3 Penyakit yang Paling Banyak Diklaim Pasca Lebaran

Health | Jum'at, 03 April 2026 | 09:53 WIB

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Bukan Cuma Rusak Lingkungan, Penebangan Hutan Liar juga Picu Lonjakan Penyakit

Health | Kamis, 02 April 2026 | 10:17 WIB

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Pendidikan Karakter Anak: Tak Cukup di Kelas, Harus Lewat Aksi Nyata

Health | Kamis, 02 April 2026 | 07:14 WIB