Awas Aflatoksin! Senyawa Penyebab Kanker Hati yang Sering Terabaikan di Dapur Anda

Dinda Rachmawati

Selasa, 24 Juni 2025 | 12:59 WIB
Awas Aflatoksin! Senyawa Penyebab Kanker Hati yang Sering Terabaikan di Dapur Anda
Ilustrasi penyakit hati / penyakit liver. (shutterstock)

Suara.com - Kanker hati selama ini dikenal sebagai “silent killer”, atau pembunuh diam-diam. Penyakit ini menjadi salah satu penyebab utama kematian akibat kanker di Indonesia, bahkan menduduki posisi keempat setelah kanker paru, kolorektal, dan payudara. 

Namun, di balik angka-angka yang mencemaskan, ada sejumlah fakta penting seputar kanker hati yang masih jarang diketahui masyarakat luas—dan bisa menjadi kunci untuk menekan angka kejadian maupun kematian akibat penyakit ini.

Menurut data terbaru dari Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, jumlah kematian akibat kanker hati di Indonesia melonjak dari 19.721 kasus pada tahun 2020 menjadi 23.383 kasus pada 2022. 

Angka ini menunjukkan bahwa kesadaran, deteksi dini, dan gaya hidup sehat masih menjadi tantangan besar di tengah masyarakat.

Salah satu hal yang jarang diketahui adalah peran aflatoksin, senyawa beracun yang dihasilkan oleh jamur dan banyak ditemukan pada makanan seperti kacang-kacangan dan jagung yang disimpan dalam kondisi lembap. 

Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, Singapura (Dok. Istimewa)
Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, Singapura (Dok. Istimewa)

Senyawa ini memiliki efek karsinogenik yang kuat terhadap hati. Yang mengejutkan, aflatoksin tidak sepenuhnya hilang hanya dengan membuang bagian makanan yang berjamur.

“Jika makanan memiliki jamur putih yang terlihat, meskipun dapat dibersihkan, aflatoksin masih dapat tertinggal. Risiko kanker hati dari senyawa ini bersifat kumulatif,” jelas Dr Foo Kian Fong, Konsultan Senior Ahli Onkologi Medis dari Parkway Cancer Centre, Singapura.

Aflatoksin bekerja secara perlahan, mengendap dalam tubuh, dan dalam jangka panjang dapat merusak sel-sel hati, memperbesar risiko terbentuknya kanker hati jenis karsinoma hepatoseluler (HCC), jenis kanker hati primer yang paling umum.

Selain faktor makanan, risiko kanker hati juga berkaitan erat dengan penyakit lain seperti hepatitis B atau C kronis, sirosis, serta penyakit hati berlemak non-alkoholik (NAFLD). Bahkan, penderita obesitas dan diabetes tipe 2 juga masuk dalam kelompok risiko tinggi.

baca juga

Yang menarik, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan diagnosis kanker hati tanpa melalui biopsi. Hal ini tentu sangat membantu pasien yang mungkin takut atau tidak memungkinkan untuk menjalani prosedur invasif.

“Diagnosis kanker hati dapat dilakukan tanpa biopsi jika hasil pencitraan dan laboratorium menunjukkan pola kanker hati yang khas,” ujar Dr Foo, mengutip rekomendasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Namun, biopsi tetap disarankan dalam kasus-kasus tertentu untuk memastikan jenis dan karakteristik tumor secara lebih rinci.

Gejala kanker hati biasanya muncul ketika penyakit sudah mencapai stadium lanjut. Oleh karena itu, skrining rutin menjadi sangat penting terutama bagi mereka yang termasuk kelompok berisiko tinggi.

Dr Foo menyarankan agar mereka menjalani ultrasonografi abdomen dan tes darah setiap enam bulan. Pemeriksaan lain seperti CT scan, MRI dengan kontras, dan tes penanda tumor seperti alfa-fetoprotein (AFP) atau PIVKA-II juga sangat membantu dalam mendeteksi keberadaan kanker secara dini.

Pilihan pengobatan pun sangat tergantung pada stadium dan kondisi umum pasien. Untuk tahap awal, operasi pengangkatan tumor atau transplantasi hati bisa memberikan peluang sembuh yang signifikan. 

Di tahap menengah, terapi seperti Transarterial Chemoembolization (TACE) atau Terapi Radiasi Internal Selektif (SIRT) dapat menghambat pertumbuhan tumor. 

Sedangkan pada stadium lanjut, terapi sistemik seperti imunoterapi dan terapi target molekuler dapat memperpanjang harapan hidup dan meningkatkan kualitas hidup pasien.

Yang juga menjadi sorotan adalah pendekatan multidisiplin dalam penanganan kanker hati. Kini, pasien akan ditangani oleh tim dokter dari berbagai bidang, mulai dari onkologi, hepatologi, hingga bedah yang akan menyusun strategi perawatan secara personal.

“Pendekatan ini sekarang menjadi standar dalam pengobatan kanker hati karena setiap pasien memiliki tantangan yang berbeda,” ujar Dr Foo.

Lebih jauh, Dr Foo menekankan pentingnya upaya pencegahan. Salah satu langkah yang terbukti efektif adalah vaksinasi hepatitis B, terutama di negara-negara dengan tingkat prevalensi tinggi seperti Indonesia.

Vaksinasi ini tidak hanya melindungi dari infeksi virus hepatitis B, tetapi juga secara langsung menurunkan angka kejadian kanker hati di populasi.

Kesimpulannya, meskipun kanker hati tergolong penyakit mematikan yang sulit dideteksi dini, pengetahuan tentang faktor risiko yang jarang diketahui—seperti paparan aflatoksin atau diagnosis tanpa biopsi—dapat membuka jalan bagi pencegahan dan penanganan yang lebih baik. 

Dengan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini dan pencegahan, peluang untuk menurunkan beban penyakit ini akan menjadi lebih besar.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Jokowi Didoakan Cepat Sembuh, Dr Tifa: Itu Penyakit Berat, Segera Bawa ke RS Terbaik Dunia

Jokowi Didoakan Cepat Sembuh, Dr Tifa: Itu Penyakit Berat, Segera Bawa ke RS Terbaik Dunia

News | Minggu, 22 Juni 2025 | 12:14 WIB

Perubahan Iklim Bikin Kutu Semakin Ganas dan Berbahaya, Bagaimana Cara Terbaik Melindungi Diri?

Perubahan Iklim Bikin Kutu Semakin Ganas dan Berbahaya, Bagaimana Cara Terbaik Melindungi Diri?

Health | Rabu, 18 Juni 2025 | 16:37 WIB

Gustiwiw Pernah Ungkap Keinginannya Dikenang Seperti Ini Saat Meninggal

Gustiwiw Pernah Ungkap Keinginannya Dikenang Seperti Ini Saat Meninggal

Entertainment | Senin, 16 Juni 2025 | 14:46 WIB

Terkini

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Mengenal Pendidikan Profesi Arsitek, Bekal Sebelum Terjun ke Dunia Praktik

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:35 WIB

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

IPEKA RUN 2026 Jadikan Olahraga sebagai Bagian dari Pengalaman Belajar Langsung

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 21:27 WIB

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

5 Conditioner untuk Rambut Kering, Bebas Kusut dan Lembut Berkilau

Lifestyle | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:31 WIB

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Deretan Mobil Keluarga dengan Kabin Lapang yang Melantai di GIIAS 2026

Otomotif | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:15 WIB

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Kredit Macet Hantui Industri Pinjol

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:05 WIB

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Lestarikan Kuliner Nusantara, Pertamina Bright Gas Cooking Competition Tegal Lahirkan Juara Baru

Jawa Tengah | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 20:00 WIB

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Gebrakan Bentor Nazaruddin: Misi 50 Kursi PRI dan Sinyal Barometer Lampung

Lampung | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:57 WIB

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Saat Jas Putih Diuji: Selelah-lelahnya Tenaga Kesehatan, Tetap Lebih Melelahkan Jadi Pasien

Your Say | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:23 WIB

Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI

Rp17 Triliun Aliran Modal Asing Masuk ke Pinjol RI

Bisnis | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:05 WIB

Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard

Buntut Kasus Komentar Nirempati Pasien BPJS, RS Sardjito Hentikan Praktik dr. Elda Putri Rahard

Video | Sabtu, 08 Agustus 2026 | 19:00 WIB

×