- Dokter Emanoel Oepangat menyatakan varises merupakan penyakit vena kronis progresif yang menandakan adanya gangguan sistem sirkulasi darah.
- Pria dan wanita berisiko mengalami varises akibat faktor hormonal, pekerjaan statis, serta gaya hidup yang memicu gejala awal.
- Heartology Cardiovascular Hospital menawarkan penanganan medis minim invasif untuk mencegah komplikasi serius seperti luka dan penggumpalan darah.
Suara.com - Banyak orang menganggap urat menonjol di kaki atau varises hanyalah gangguan penampilan yang merusak rasa percaya diri. Namun, dunia medis memperingatkan bahwa varises sebenarnya adalah alarm dari tubuh yang menandakan adanya gangguan serius pada sistem sirkulasi pembuluh darah vena.
dr. Emanoel Oepangat, Sp.JP(K), FIHA, Spesialis Jantung dan Pembuluh Darah dari Heartology Cardiovascular Hospital, menekankan bahwa varises adalah bagian dari penyakit vena kronis. Jika dibiarkan, kondisi ini bersifat progresif atau terus memburuk seiring berjalannya waktu.
“Banyak pasien baru datang ketika sudah muncul keluhan nyeri, bengkak, atau luka di kaki. Padahal, varises adalah kondisi progresif yang semakin sulit diatasi jika dibiarkan terlalu lama,” jelas dr. Emanoel.
Siapa Saja yang Berisiko?
Varises tidak mengenal jenis kelamin. Data dari Journal of Vascular Surgery dan WHO menunjukkan prevalensi varises mencapai 25% pada wanita dan sekitar 10–15% pada pria di seluruh dunia.
- Pria: Umumnya dipicu oleh pekerjaan yang menuntut berdiri atau duduk terlalu lama, seperti petugas keamanan, tenaga medis, pengemudi, atau pekerja kantor.
- Wanita: Memiliki risiko lebih tinggi karena faktor hormonal (estrogen dan progesteron) yang dapat melemahkan dinding pembuluh darah, terutama saat fase kehamilan atau menopause.
Jangan Abaikan Gejala Awalnya
Gejala varises sering kali muncul secara perlahan sehingga kerap dianggap kelelahan biasa. Segera lakukan pemeriksaan jika Anda merasakan tanda-tanda berikut:
- Kaki terasa berat, nyeri tumpul, atau cepat lelah setelah beraktivitas.
- Pergelangan kaki membengkak, terutama menjelang sore hari.
- Muncul guratan halus kebiruan atau pembuluh darah tebal yang terpuntir di kulit.
- Tanda Bahaya: Perubahan warna kulit menjadi gelap di area betis bawah.
“Bercak kehitaman di kaki sering disangka akibat diabetes, padahal bisa merupakan tanda penyakit vena kronis yang sudah berjalan lama,” tambah dr. Emanoel.
Bahaya Komplikasi: Dari Luka Hingga Trombosis
Mengabaikan varises bukan hanya soal kaki yang tidak mulus, tetapi risiko kesehatan jangka panjang. Komplikasi yang mungkin muncul antara lain:
- Insufisiensi Vena Kronis: Kegagalan pembuluh darah mengalirkan darah kembali ke jantung.
- Ulkus Vena: Luka terbuka di kaki yang sulit sembuh.
- Trombosis Vena Dalam (DVT): Adanya gumpalan darah di vena dalam yang bisa berakibat fatal jika gumpalan tersebut lepas ke paru-paru.
Solusi Modern Tanpa Sayatan Besar
Kabar baiknya, kemajuan teknologi medis kini memungkinkan penanganan varises dengan prosedur minim invasif. Di Heartology Cardiovascular Hospital, evaluasi dilakukan secara presisi menggunakan Duplex Ultrasound Vaskular untuk memetakan lokasi gangguan katup secara akurat.
Beberapa opsi terapi yang ditawarkan meliputi:
- Terapi Kompresi Medis: Menggunakan stoking khusus untuk membantu aliran balik darah.
- Sclerotherapy: Penyuntikan cairan khusus untuk menutup vena yang rusak.
- Radiofrequency Ablation & Laser Therapy: Prosedur canggih tanpa sayatan besar yang memungkinkan pasien pulang pada hari yang sama (one-day care).
“Varises adalah sinyal dari sistem sirkulasi yang mulai terganggu, bukan sekadar urat kebiruan di permukaan kulit. Penanganan dini adalah kunci untuk mencegah komplikasi permanen,” tutup dr. Emanoel.