- Kanker payudara dan serviks menjadi ancaman kesehatan utama bagi perempuan dengan angka kasus tinggi di Indonesia maupun dunia.
- Dr. See Hui Ti menyatakan penerapan terapi presisi kini memungkinkan pengobatan kanker disesuaikan dengan profil biologis setiap pasien.
- Teknologi diagnostik canggih, vaksinasi HPV, serta deteksi dini yang tepat sangat krusial dalam meningkatkan peluang kesembuhan pasien kanker.
Suara.com - Kanker masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di seluruh dunia. Kanker payudara, serviks, ovarium, hingga kanker endometrium (rahim) masih mendominasi jumlah kasus, termasuk di Indonesia.
Namun, di tengah tingginya angka kejadian, perkembangan teknologi medis menghadirkan harapan baru melalui precision medicine atau terapi presisi yang membuat pengobatan kanker semakin personal dan tepat sasaran.
Senior Consultant Medical Oncologist Parkway Cancer Centre Singapura, Dr. See Hui Ti, mengatakan pemahaman mengenai kanker kini telah berkembang pesat. Dokter tidak lagi memandang kanker sebagai penyakit yang sama pada setiap orang.
"Saat ini kami memahami bahwa kanker bukanlah satu penyakit yang sama pada setiap pasien. Dua orang yang sama-sama didiagnosis kanker payudara dapat memiliki karakteristik biologis yang berbeda sehingga pendekatan terapinya pun harus disesuaikan dengan profil masing-masing pasien," ujar Dr. See dalam Exclusive Media Roundtable & Interview di Jakarta, Kamis (16/7/2026).
Kasus Kanker Perempuan Masih Tinggi
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sepanjang 2024 terdapat sekitar 2,4 juta kasus baru kanker payudara dan 604 ribu kasus baru kanker serviks di seluruh dunia.
Kanker payudara bahkan menjadi jenis kanker yang paling banyak didiagnosis pada perempuan di 164 dari 186 negara, sementara kanker serviks masih menjadi penyebab utama kematian akibat kanker di banyak negara berkembang.
Indonesia juga menghadapi tantangan serupa. Berdasarkan data Global Cancer Observatory (GLOBOCAN) 2022, terdapat sekitar 408.661 kasus kanker baru dan 242.988 kematian akibat kanker.
Pada perempuan, tiga jenis kanker dengan kasus terbanyak adalah:
- Kanker payudara: 66.271 kasus baru
- Kanker serviks: 36.964 kasus baru
- Kanker ovarium: 15.130 kasus baru
Pengobatan Tak Lagi Sama untuk Semua Pasien
Dr. See menjelaskan, perkembangan pemeriksaan histopatologi dan analisis molekuler kini memungkinkan dokter mengenali karakter biologis tumor secara lebih rinci.
Pada kanker payudara, misalnya, dokter dapat membedakan apakah tumor termasuk hormone receptor-positive, HER2-positive, atau triple-negative breast cancer. Masing-masing memiliki respons berbeda terhadap pengobatan.
Karena itu, pasien kini dapat memperoleh terapi yang lebih spesifik, mulai dari terapi hormonal, terapi target (targeted therapy), terapi anti-HER2, imunoterapi, hingga kombinasi beberapa metode pengobatan.
Pendekatan ini dikenal sebagai personalized medicine, yaitu pengobatan yang disesuaikan dengan kondisi biologis masing-masing pasien, bukan lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk semua orang.
"Tujuannya agar terapi menjadi lebih efektif sekaligus meminimalkan efek samping yang tidak perlu," jelasnya.
AI Membantu, tetapi Dokter Tetap Berperan Penting
Kemajuan teknologi juga terlihat dari mulai diterapkannya kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam pemeriksaan mammografi dan radiologi.
Teknologi ini membantu meningkatkan akurasi pembacaan hasil pemeriksaan sehingga risiko kesalahan diagnosis dapat ditekan.
Namun, Dr. See mengingatkan bahwa AI bukanlah pengganti dokter.
"AI membantu mengurangi human error, tetapi keputusan medis tetap harus mempertimbangkan kondisi pasien secara menyeluruh."
Menurutnya, teknologi hanyalah alat bantu. Penentuan terapi tetap harus berdasarkan pengalaman klinis dokter serta kebutuhan masing-masing pasien.
Gaya Hidup Berpengaruh pada Risiko Kanker
Dr. See juga menyoroti perubahan pola kanker pada perempuan dalam dua dekade terakhir.
Jika dahulu kanker serviks mendominasi, kini kanker payudara menjadi jenis kanker yang paling banyak ditemukan. Ke depan, kasus kanker endometrium atau kanker rahim diperkirakan ikut meningkat.
Perubahan tersebut berkaitan dengan gaya hidup masyarakat modern.
"Berkurangnya aktivitas fisik, meningkatnya obesitas, serta pola makan tinggi gula menjadi faktor yang ikut meningkatkan risiko kanker payudara dan kanker rahim," katanya.
Karena itu, menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi seimbang, serta menghindari rokok dan alkohol tetap menjadi langkah penting untuk menurunkan risiko kanker.
Harapan Hidup Pasien Semakin Baik
Kemajuan terapi target, imunoterapi, teknologi diagnostik, hingga teknik operasi membuat peluang hidup pasien kanker kini jauh lebih baik dibandingkan satu atau dua dekade lalu.
Bahkan, pada kondisi tertentu, teknik operasi modern memungkinkan perempuan usia muda mempertahankan fungsi reproduksi sehingga kesempatan untuk memiliki anak tetap terbuka apabila kondisi medis memungkinkan.
Meski demikian, Dr. See menekankan bahwa keberhasilan terapi tidak hanya ditentukan oleh obat atau teknologi.
Dukungan keluarga, kesehatan mental pasien, komunikasi yang baik dengan dokter, serta lingkungan yang suportif juga memiliki peran besar dalam proses penyembuhan.
"Bagi pasien, yang paling diingat bukanlah nama obat yang diberikan, melainkan apakah mereka merasa didengar, dipahami, dan didukung dalam lingkungan yang suportif," ujarnya.
Deteksi Dini Tetap Menjadi Kunci
Di balik pesatnya perkembangan teknologi, Dr. See menegaskan bahwa deteksi dini tetap menjadi faktor paling menentukan keberhasilan pengobatan kanker.
Semakin cepat kanker ditemukan, semakin besar peluang pasien untuk sembuh dan mempertahankan kualitas hidup.
Untuk kanker serviks, harapan juga datang dari semakin luasnya program vaksinasi Human Papillomavirus (HPV).
WHO menargetkan eliminasi kanker serviks melalui strategi 90-70-90, yaitu:
- 90 persen anak perempuan menerima vaksin HPV sebelum usia 15 tahun.
- 70 persen perempuan menjalani skrining pada usia 35 dan 45 tahun.
- 90 persen perempuan yang terdiagnosis lesi prakanker atau kanker serviks mendapatkan pengobatan yang tepat.
Menurut Dr. See, kombinasi antara deteksi dini, vaksinasi HPV, dan terapi presisi membuka peluang yang jauh lebih besar bagi perempuan untuk mendapatkan diagnosis lebih cepat, pengobatan yang lebih efektif, sekaligus mempertahankan kualitas hidup yang lebih baik setelah menjalani terapi.