- Dr. Barrie Tan di Singapura berhasil melakukan operasi implan koklea bilateral pada bayi usia enam bulan asal Filipina tahun lalu.
- Teknologi implan koklea seperti Cochlear Nucleus Nexa digunakan untuk membantu anak dengan gangguan pendengaran berat agar dapat mendengar suara.
- Intervensi dan deteksi dini sangat penting untuk mencegah hambatan perkembangan bicara, bahasa, kemampuan belajar, serta interaksi sosial pada anak.
Suara.com - Gangguan pendengaran masih kerap dikaitkan dengan usia lanjut. Padahal, kondisi ini juga dapat terjadi pada bayi dan anak-anak, bahkan sejak lahir. Jika terlambat dikenali, dampaknya bukan hanya membuat anak sulit mendengar, tetapi juga dapat menghambat perkembangan bicara, bahasa, kemampuan belajar, hingga interaksi sosialnya.
Di Indonesia, kesadaran untuk mendeteksi gangguan pendengaran sejak dini masih menjadi tantangan. Banyak anak baru mendapat penanganan ketika keterlambatan bicara mulai terlihat atau ketika mereka kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah. Padahal, semakin cepat gangguan pendengaran diketahui, semakin besar peluang anak tumbuh dan berkembang seperti teman-teman sebayanya.
Gangguan Pendengaran pada Anak Masih Sering Terlambat Disadari
Gangguan pendengaran pada anak dapat bersifat bawaan sejak lahir (kongenital) maupun muncul setelah lahir akibat infeksi, penyakit tertentu, paparan bising, atau faktor lainnya.
Sayangnya, pemanfaatan alat bantu dengar maupun terapi pendengaran di Indonesia masih relatif rendah. Data menunjukkan hanya sekitar 4,1 persen penyandang disabilitas pendengaran yang menggunakan alat bantu dengar.
Di sisi lain, penelitian yang dipublikasikan pada 2026 juga menunjukkan prevalensi gangguan pendengaran akibat kebisingan (Noise-Induced Hearing Loss/NIHL) di Indonesia telah mencapai 4,6 persen, salah satu yang tertinggi di Asia Tenggara.
Menurut Spesialis Bedah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT) Gleneagles Hospital Singapura, Dr. Barrie Tan, pendengaran merupakan fondasi penting dalam kehidupan anak.
"Pendengaran memegang peranan krusial dalam tumbuh kembang anak karena membentuk cara mereka belajar, berkomunikasi, dan terhubung dengan dunia di sekitar mereka," ujarnya.
Ia mengungkapkan, tidak sedikit pasien yang datang ketika kondisi sudah melewati waktu ideal untuk mendapatkan hasil terbaik.
"Padahal, intervensi yang lebih awal dapat memberikan perubahan yang sangat berarti. Saat ini, dengan kemajuan teknologi pendengaran dan perawatan THT, tujuan kami bukan sekadar memulihkan pendengaran, tetapi juga membantu pasien dapat berkomunikasi, percaya diri, dan menikmati kehidupan sehari-hari bersama keluarga maupun teman," katanya.
Mengapa Intervensi Dini Sangat Penting?
Para ahli menilai tahun-tahun pertama kehidupan merupakan masa emas perkembangan otak. Pada periode ini, otak memiliki kemampuan luar biasa untuk membentuk koneksi saraf baru atau yang dikenal sebagai neuroplastisitas.
Karena itu, berbagai penelitian menunjukkan bahwa tindakan seperti implan koklea memberikan hasil paling optimal apabila dilakukan sedini mungkin, bahkan sebelum anak berusia 12 bulan.
Semakin dini anak mendapatkan akses terhadap suara, semakin besar peluangnya mengembangkan kemampuan berbicara, memahami bahasa, memperkaya kosakata, hingga mengejar tahapan perkembangan yang setara dengan anak-anak dengan pendengaran normal.
Di Indonesia sendiri, operasi implan koklea umumnya baru dilakukan saat anak berusia satu hingga dua tahun. Padahal, tindakan pada usia yang lebih muda memungkinkan apabila didukung tim multidisiplin yang terdiri atas dokter THT anak, dokter anestesi anak, dokter perawatan intensif, audiolog, hingga terapis rehabilitasi.
Implan Koklea Bukan Sekadar Alat Bantu Dengar
Bagi anak dengan gangguan pendengaran berat hingga sangat berat, implan koklea kini menjadi standar penanganan terbaik.
Berbeda dengan alat bantu dengar yang hanya memperkeras suara, implan koklea bekerja dengan melewati bagian telinga dalam yang mengalami kerusakan, kemudian mengirimkan sinyal suara langsung ke saraf pendengaran agar dapat diproses oleh otak.
Teknologi ini memberi kesempatan bagi anak untuk mengenal suara pada masa-masa paling penting dalam perkembangan bicara dan bahasa.
Sistem terbaru seperti Cochlear™ Nucleus® Nexa™ bahkan telah tersedia di Indonesia. Namun, untuk kasus-kasus yang lebih kompleks, sebagian keluarga masih memilih menjalani penanganan di Singapura karena membutuhkan pengalaman klinis dan tim medis yang sangat spesialis.
Kasus Bayi Enam Bulan Jalani Operasi Implan Koklea
Salah satu contoh keberhasilan intervensi dini datang dari Singapura.
Pada tahun lalu, Dr. Barrie Tan melakukan operasi implan koklea bilateral pada seorang bayi berusia enam bulan asal Filipina. Bayi tersebut menjadi salah satu pasien termuda di Asia Tenggara yang menjalani prosedur tersebut.
Operasi tergolong sangat menantang karena berat badan bayi saat itu baru mencapai 8,4 kilogram dan kedua telinga diimplan dalam satu kali tindakan.
Keberhasilan prosedur ini melibatkan kolaborasi tim multidisiplin yang terdiri atas dokter bedah THT, spesialis anestesi anak, audiolog, dokter perawatan intensif, hingga tenaga rehabilitasi.
Operasi berjalan lancar dan pasien diperbolehkan pulang hanya sehari setelah tindakan. Pemeriksaan pascaoperasi menunjukkan kedua implan berfungsi optimal sehingga bayi memperoleh akses terhadap suara pada masa paling penting perkembangan pendengaran dan kemampuan berbahasa.
Membantu Anak Mendengar Lebih Baik
Keberhasilan lain juga dialami seorang anak berusia tujuh tahun bernama samaran Susy Wijaya yang mengalami gangguan pendengaran sensorineural pada kedua telinga, dengan kondisi lebih berat di telinga kiri.
Setelah melalui serangkaian pemeriksaan, Susy menjalani operasi implan koklea menggunakan sistem Cochlear™ Nucleus® Nexa™ pada Agustus 2025.
Kasus ini menjadi salah satu prosedur pediatrik pertama di Singapura yang menggunakan teknologi tersebut.
Orang tua Susy mengaku sempat ragu mengambil keputusan karena putrinya masih mampu beraktivitas seperti anak seusianya.
"Namun kami menyadari betapa pentingnya intervensi pendengaran sejak dini, kemampuan otak untuk beradaptasi, serta mengoptimalkan kemampuan bicara dan bahasa dalam jangka panjang, terutama sebagai persiapannya memasuki sekolah dasar," ujar mereka.
Setelah menjalani operasi dan rehabilitasi, Susy mulai beradaptasi dengan dunia suara yang baru. Teknologi implan yang digunakan juga dirancang agar dapat mengikuti perkembangan teknologi di masa depan tanpa memerlukan tindakan bedah berulang dalam waktu dekat.
Orang Tua Perlu Mengenali Tanda-Tandanya
Gangguan pendengaran pada anak sering kali tidak disadari sejak awal. Karena itu, orang tua perlu waspada apabila bayi tidak terkejut saat mendengar suara keras, tidak menoleh ketika dipanggil, terlambat berbicara, sering meminta lawan bicara mengulang perkataan, atau tampak kesulitan mengikuti percakapan.
Apabila muncul tanda-tanda tersebut, pemeriksaan ke dokter THT dan audiolog sebaiknya tidak ditunda.
Deteksi dini memungkinkan anak memperoleh terapi yang sesuai, baik berupa alat bantu dengar, terapi wicara, maupun tindakan implan koklea bila memang diperlukan.
Lebih dari Sekadar Mendengar
Penanganan gangguan pendengaran bukan hanya bertujuan agar anak dapat mendengar suara. Yang jauh lebih penting adalah memberi mereka kesempatan untuk belajar, berkomunikasi, bermain, berinteraksi, dan membangun rasa percaya diri.
Dengan diagnosis yang tepat, teknologi medis yang terus berkembang, serta dukungan keluarga dan tenaga kesehatan, anak dengan gangguan pendengaran memiliki peluang besar untuk tumbuh optimal dan menjalani kehidupan yang aktif seperti anak-anak lainnya.
Karena itu, ketika orang tua mulai merasa ada yang berbeda dengan respons pendengaran anak, jangan menunggu hingga keterlambatan bicara muncul. Semakin cepat gangguan pendengaran dikenali dan ditangani, semakin besar pula kesempatan anak untuk mengembangkan seluruh potensi yang dimilikinya.