- Sering buang air tinggi pada malam hari menandakan Benign Prostatic Hyperplasia yang menyumbat saluran urine pria.
- Dr. Edwin Aslim dari Singapore General Hospital menyatakan penanganan dini mencegah komplikasi kerusakan kandung kemih dan ginjal.
- Berbagai pilihan terapi medis mulai dari perubahan gaya hidup, obat, hingga prosedur minimal invasif kini tersedia.
Suara.com - Banyak pria menganggap sering buang air kecil, terutama pada malam hari, sebagai konsekuensi alami dari bertambahnya usia. Padahal, kebiasaan terbangun dua hingga tiga kali setiap malam untuk ke kamar mandi bisa menjadi salah satu tanda Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.
Kondisi ini memang tidak bersifat kanker, tetapi jika dibiarkan terlalu lama dapat memengaruhi kualitas hidup, bahkan merusak fungsi kandung kemih hingga ginjal.
"BPH dapat menyebabkan kerusakan kandung kemih secara bertahap dan permanen. Semakin dini ditangani, semakin besar peluang kandung kemih untuk pulih dan komplikasi dapat dicegah," ujar Dr. Edwin Aslim, Consultant, Department of Urology, Singapore General Hospital (SGH) beberapa waktu lalu di Singapura.
Mengapa prostat bisa mengganggu buang air kecil?
Prostat adalah kelenjar yang hanya dimiliki pria dan letaknya tepat di bawah kandung kemih, mengelilingi saluran urine (uretra). Bayangkan saluran urine seperti sedotan, sementara prostat adalah cincin yang melingkar di sekelilingnya.
Seiring bertambahnya usia, prostat dapat membesar. Ketika ukurannya bertambah atau bentuknya berubah, saluran urine akan tertekan sehingga aliran urine menjadi tersendat.
Akibatnya, seseorang mungkin mulai mengalami berbagai keluhan seperti pancaran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, harus mengejan, merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong, hingga lebih sering ke toilet, terutama pada malam hari.
Menurut Dr. Edwin, ukuran prostat bukan satu-satunya penentu berat ringannya penyakit.
"Prostat yang ukurannya tidak terlalu besar pun bisa menyebabkan sumbatan yang berat, tergantung bentuknya dan lokasi penyumbatannya. Karena itu, pengobatan tidak boleh hanya berdasarkan ukuran prostat, tetapi juga anatomi, tingkat sumbatan, kondisi kandung kemih, dan keluhan pasien," jelasnya.
Jangan tunggu sampai kandung kemih "kelelahan"
Saat saluran urine menyempit, kandung kemih harus bekerja lebih keras setiap kali mengeluarkan urine. Ibarat seseorang yang terus-menerus mengangkat beban berat setiap hari, otot kandung kemih lama-kelamaan akan menebal dan kehilangan elastisitas.
Pada tahap awal, kondisi ini membuat seseorang semakin sering ingin buang air kecil dan sulit menahan kencing. Namun jika berlangsung bertahun-tahun, otot kandung kemih bisa melemah hingga akhirnya tidak mampu lagi mengosongkan urine. Akibatnya, pasien bisa mengalami retensi urine dan harus menggunakan kateter.
Dalam kondisi yang lebih berat, pembesaran prostat juga dapat memicu infeksi saluran kemih berulang, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.
Tidak semua pasien harus operasi
Kabar baiknya, tidak semua penderita BPH harus menjalani operasi.
Pada tahap awal, perubahan gaya hidup sering kali membantu mengurangi keluhan. Misalnya mengurangi konsumsi kopi, teh berkafein, alkohol, membatasi minum menjelang tidur, dan mengurangi makanan tinggi garam.
Jika gejala masih mengganggu, dokter biasanya memberikan obat yang bekerja dengan melemaskan otot prostat atau memperlambat pembesaran prostat.
Namun, bila obat tidak lagi efektif, menimbulkan efek samping, atau sudah muncul komplikasi, tindakan medis menjadi pilihan berikutnya.
Kini terapi prostat semakin personal
Jika dulu pilihan operasi prostat hampir selalu identik dengan operasi konvensional, kini teknologi berkembang jauh lebih beragam. Dokter dapat memilih terapi sesuai kondisi prostat, usia pasien, hingga prioritas kualitas hidupnya.
Salah satu kelompok terapi modern adalah minimally invasive surgical treatment (MIST) atau tindakan minimal invasif. Prosedur ini umumnya dilakukan tanpa sayatan besar sehingga pasien dapat pulang pada hari yang sama.
Beberapa teknologi yang kini digunakan antara lain Rezm, yang memanfaatkan uap air panas untuk mengecilkan jaringan prostat secara bertahap, serta UroLift, yaitu pemasangan implan kecil yang berfungsi membuka saluran urine tanpa memotong jaringan prostat.
"Prosedur minimal invasif umumnya lebih mampu mempertahankan fungsi seksual dan ejakulasi, pemulihannya lebih cepat, tetapi hasilnya mungkin tidak selama tindakan yang mengangkat jaringan prostat. Karena itu, setiap pilihan memiliki kelebihan dan komprominya masing-masing," kata Dr. Edwin.
Untuk pasien dengan prostat yang lebih besar atau sudah mengalami komplikasi, dokter biasanya merekomendasikan tindakan yang mengangkat jaringan penyumbat, seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate) atau operasi laser.
Pada prosedur laser, dokter menggunakan energi laser untuk mengangkat jaringan prostat yang menyumbat saluran urine dengan perdarahan yang lebih minimal. Teknik ini juga cocok bagi pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki risiko perdarahan lebih tinggi.
Jangan malu berkonsultasi
Masih banyak pria yang menganggap gangguan buang air kecil sebagai hal memalukan atau sekadar tanda penuaan. Padahal, pemeriksaan lebih awal justru dapat mencegah kerusakan permanen.
Dr. Edwin mengingatkan bahwa sering terbangun pada malam hari memang bisa disebabkan oleh pembesaran prostat, tetapi penyebabnya juga dapat berasal dari penyakit lain, seperti diabetes, gangguan jantung, sleep apnea, hingga penyakit ginjal.
Karena itu, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri.
"Tujuan pengobatan bukan hanya membuat aliran urine lebih lancar, tetapi juga menjaga fungsi kandung kemih, melindungi ginjal, dan mempertahankan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang," tutup Dr. Edwin.
Dengan semakin banyaknya pilihan terapi saat ini, penanganan pembesaran prostat tidak lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk semua orang. Setiap pasien dapat memperoleh terapi yang disesuaikan dengan kondisi medis, gaya hidup, serta harapan mereka terhadap kualitas hidup di masa depan.