Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Pembesaran Prostat

Vania Rossa

Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:57 WIB
Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Pembesaran Prostat
Urology Centre, SGH. (dok. ist)
baca 10 detik
  • Sering buang air tinggi pada malam hari menandakan Benign Prostatic Hyperplasia yang menyumbat saluran urine pria.
  • Dr. Edwin Aslim dari Singapore General Hospital menyatakan penanganan dini mencegah komplikasi kerusakan kandung kemih dan ginjal.
  • Berbagai pilihan terapi medis mulai dari perubahan gaya hidup, obat, hingga prosedur minimal invasif kini tersedia.

Suara.com - Banyak pria menganggap sering buang air kecil, terutama pada malam hari, sebagai konsekuensi alami dari bertambahnya usia. Padahal, kebiasaan terbangun dua hingga tiga kali setiap malam untuk ke kamar mandi bisa menjadi salah satu tanda Benign Prostatic Hyperplasia (BPH) atau pembesaran prostat jinak.

Kondisi ini memang tidak bersifat kanker, tetapi jika dibiarkan terlalu lama dapat memengaruhi kualitas hidup, bahkan merusak fungsi kandung kemih hingga ginjal.

"BPH dapat menyebabkan kerusakan kandung kemih secara bertahap dan permanen. Semakin dini ditangani, semakin besar peluang kandung kemih untuk pulih dan komplikasi dapat dicegah," ujar Dr. Edwin Aslim, Consultant, Department of Urology, Singapore General Hospital (SGH) beberapa waktu lalu di Singapura.

Mengapa prostat bisa mengganggu buang air kecil?

Prostat adalah kelenjar yang hanya dimiliki pria dan letaknya tepat di bawah kandung kemih, mengelilingi saluran urine (uretra). Bayangkan saluran urine seperti sedotan, sementara prostat adalah cincin yang melingkar di sekelilingnya.

Seiring bertambahnya usia, prostat dapat membesar. Ketika ukurannya bertambah atau bentuknya berubah, saluran urine akan tertekan sehingga aliran urine menjadi tersendat.

Akibatnya, seseorang mungkin mulai mengalami berbagai keluhan seperti pancaran urine melemah, sulit memulai buang air kecil, harus mengejan, merasa kandung kemih tidak pernah benar-benar kosong, hingga lebih sering ke toilet, terutama pada malam hari.

Menurut Dr. Edwin, ukuran prostat bukan satu-satunya penentu berat ringannya penyakit.

"Prostat yang ukurannya tidak terlalu besar pun bisa menyebabkan sumbatan yang berat, tergantung bentuknya dan lokasi penyumbatannya. Karena itu, pengobatan tidak boleh hanya berdasarkan ukuran prostat, tetapi juga anatomi, tingkat sumbatan, kondisi kandung kemih, dan keluhan pasien," jelasnya.

baca juga

Jangan tunggu sampai kandung kemih "kelelahan"

Saat saluran urine menyempit, kandung kemih harus bekerja lebih keras setiap kali mengeluarkan urine. Ibarat seseorang yang terus-menerus mengangkat beban berat setiap hari, otot kandung kemih lama-kelamaan akan menebal dan kehilangan elastisitas.

Pada tahap awal, kondisi ini membuat seseorang semakin sering ingin buang air kecil dan sulit menahan kencing. Namun jika berlangsung bertahun-tahun, otot kandung kemih bisa melemah hingga akhirnya tidak mampu lagi mengosongkan urine. Akibatnya, pasien bisa mengalami retensi urine dan harus menggunakan kateter.

Dalam kondisi yang lebih berat, pembesaran prostat juga dapat memicu infeksi saluran kemih berulang, batu kandung kemih, hingga gangguan fungsi ginjal.

Tidak semua pasien harus operasi

Kabar baiknya, tidak semua penderita BPH harus menjalani operasi.

Pada tahap awal, perubahan gaya hidup sering kali membantu mengurangi keluhan. Misalnya mengurangi konsumsi kopi, teh berkafein, alkohol, membatasi minum menjelang tidur, dan mengurangi makanan tinggi garam.

Jika gejala masih mengganggu, dokter biasanya memberikan obat yang bekerja dengan melemaskan otot prostat atau memperlambat pembesaran prostat.

Namun, bila obat tidak lagi efektif, menimbulkan efek samping, atau sudah muncul komplikasi, tindakan medis menjadi pilihan berikutnya.

Kini terapi prostat semakin personal

Jika dulu pilihan operasi prostat hampir selalu identik dengan operasi konvensional, kini teknologi berkembang jauh lebih beragam. Dokter dapat memilih terapi sesuai kondisi prostat, usia pasien, hingga prioritas kualitas hidupnya.

Salah satu kelompok terapi modern adalah minimally invasive surgical treatment (MIST) atau tindakan minimal invasif. Prosedur ini umumnya dilakukan tanpa sayatan besar sehingga pasien dapat pulang pada hari yang sama.

Beberapa teknologi yang kini digunakan antara lain Rezm, yang memanfaatkan uap air panas untuk mengecilkan jaringan prostat secara bertahap, serta UroLift, yaitu pemasangan implan kecil yang berfungsi membuka saluran urine tanpa memotong jaringan prostat.

"Prosedur minimal invasif umumnya lebih mampu mempertahankan fungsi seksual dan ejakulasi, pemulihannya lebih cepat, tetapi hasilnya mungkin tidak selama tindakan yang mengangkat jaringan prostat. Karena itu, setiap pilihan memiliki kelebihan dan komprominya masing-masing," kata Dr. Edwin.

Untuk pasien dengan prostat yang lebih besar atau sudah mengalami komplikasi, dokter biasanya merekomendasikan tindakan yang mengangkat jaringan penyumbat, seperti TURP (Transurethral Resection of the Prostate) atau operasi laser.

Pada prosedur laser, dokter menggunakan energi laser untuk mengangkat jaringan prostat yang menyumbat saluran urine dengan perdarahan yang lebih minimal. Teknik ini juga cocok bagi pasien yang mengonsumsi obat pengencer darah atau memiliki risiko perdarahan lebih tinggi.

Jangan malu berkonsultasi

Masih banyak pria yang menganggap gangguan buang air kecil sebagai hal memalukan atau sekadar tanda penuaan. Padahal, pemeriksaan lebih awal justru dapat mencegah kerusakan permanen.

Dr. Edwin mengingatkan bahwa sering terbangun pada malam hari memang bisa disebabkan oleh pembesaran prostat, tetapi penyebabnya juga dapat berasal dari penyakit lain, seperti diabetes, gangguan jantung, sleep apnea, hingga penyakit ginjal.

Karena itu, jangan langsung menyimpulkan penyebabnya sendiri.

"Tujuan pengobatan bukan hanya membuat aliran urine lebih lancar, tetapi juga menjaga fungsi kandung kemih, melindungi ginjal, dan mempertahankan kualitas hidup pasien dalam jangka panjang," tutup Dr. Edwin.

Dengan semakin banyaknya pilihan terapi saat ini, penanganan pembesaran prostat tidak lagi menggunakan pendekatan yang sama untuk semua orang. Setiap pasien dapat memperoleh terapi yang disesuaikan dengan kondisi medis, gaya hidup, serta harapan mereka terhadap kualitas hidup di masa depan.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

5 Arti Mimpi Buang Air Kecil di Toilet Menurut Psikologi dan Primbon Jawa

5 Arti Mimpi Buang Air Kecil di Toilet Menurut Psikologi dan Primbon Jawa

Lifestyle | Selasa, 21 April 2026 | 09:36 WIB

Salat Tarawih tapi Bolak-Balik Pipis? Ini Saran Dokter Atasi Beser saat Ibadah

Salat Tarawih tapi Bolak-Balik Pipis? Ini Saran Dokter Atasi Beser saat Ibadah

Video | Selasa, 24 Februari 2026 | 22:25 WIB

Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya

Terlalu Sibuk Kerja Hingga Lupa Kesehatan? Ini Isu 'Tak Terlihat' Pria Produktif yang Berbahaya

Health | Jum'at, 02 Januari 2026 | 06:34 WIB

Terkini

Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Pembesaran Prostat

Sering Bangun Malam untuk Buang Air Kecil? Jangan Dianggap Wajar, Bisa Jadi Tanda Pembesaran Prostat

Health | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:57 WIB

Bebas Telat Bayar dan Denda, BRI Hadirkan Fitur Tagihan Terjadwal di Aplikasi BRImo

Bebas Telat Bayar dan Denda, BRI Hadirkan Fitur Tagihan Terjadwal di Aplikasi BRImo

Bri | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:56 WIB

Aktivasi BRImo Lewat InvestASIK Bisa Dapat Cashback, Simak Syarat dan Ketentuannya

Aktivasi BRImo Lewat InvestASIK Bisa Dapat Cashback, Simak Syarat dan Ketentuannya

Bri | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:52 WIB

Ketua Umum TP PKK Perkuat Program Sekolah Rakyat Lewat Bantuan untuk Siswa dan Guru di Biak Numfor

Ketua Umum TP PKK Perkuat Program Sekolah Rakyat Lewat Bantuan untuk Siswa dan Guru di Biak Numfor

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:42 WIB

Brimob dan Tim Perintis Presisi Ciduk 5 Remaja Tawuran di Jatinegara, Samurai Disita

Brimob dan Tim Perintis Presisi Ciduk 5 Remaja Tawuran di Jatinegara, Samurai Disita

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:41 WIB

8 Ide Lomba 17 Agustus untuk Anak-anak di Perumahan, Dijamin Seru dan Heboh!

8 Ide Lomba 17 Agustus untuk Anak-anak di Perumahan, Dijamin Seru dan Heboh!

Lifestyle | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:32 WIB

BNN Bongkar Penyelundupan Vape Berisi Etomidate dari Malaysia, Enam Tersangka Ditangkap

BNN Bongkar Penyelundupan Vape Berisi Etomidate dari Malaysia, Enam Tersangka Ditangkap

News | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:28 WIB

Waduh! Pembangunan Stadion Sudiang Makassar Telat, DPR Minta Kontraktor Ngebut

Waduh! Pembangunan Stadion Sudiang Makassar Telat, DPR Minta Kontraktor Ngebut

Sulsel | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:28 WIB

5 Sabun Cuci Muka Tanpa Alkohol yang Aman untuk Kulit Sensitif, Formulanya Ringan

5 Sabun Cuci Muka Tanpa Alkohol yang Aman untuk Kulit Sensitif, Formulanya Ringan

Lifestyle | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:25 WIB

Sudah Medical Check Up, Tapi Kapan Terakhir Kali Melakukan Financial Check Up?

Sudah Medical Check Up, Tapi Kapan Terakhir Kali Melakukan Financial Check Up?

Lifestyle | Minggu, 02 Agustus 2026 | 16:20 WIB

×