- Prof. Marcus Ang Han Nian dari Singapore National Eye Centre menyatakan gangguan kornea menyebabkan kebutaan di Asia.
- Singapore National Eye Centre menerapkan teknik transplantasi kornea selektif untuk mengganti lapisan yang rusak tanpa mengganti seluruh kornea.
- Teknik transplantasi kornea selektif memungkinkan satu jaringan donor digunakan untuk membantu dua pasien berbeda secara optimal.
Suara.com - Bagi banyak orang, gangguan penglihatan sering dikaitkan dengan mata minus, katarak, atau faktor usia. Padahal, ada bagian penting lain pada mata yang juga berperan besar dalam kemampuan melihat, yaitu kornea.
Kornea adalah lapisan bening berbentuk seperti “jendela” di bagian depan mata yang berfungsi meneruskan cahaya agar dapat masuk dan diproses oleh mata. Ketika kornea mengalami kerusakan, menjadi keruh, atau penuh jaringan parut, penglihatan bisa terganggu bahkan hilang.
Kondisi ini dikenal sebagai kebutaan akibat gangguan kornea (corneal blindness). Menurut Prof. Marcus Ang Han Nian, Head & Senior Consultant, Cornea & External Eye Disease Department, Singapore National Eye Centre (SNEC), gangguan kornea menjadi salah satu penyebab kebutaan yang cukup banyak terjadi di dunia, terutama di kawasan Asia.
“Ketika kornea mengalami jaringan parut permanen atau menjadi keruh, transplantasi kornea mungkin menjadi satu-satunya cara untuk mengembalikan penglihatan,” ujar Prof. Marcus.
Namun, tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi, melainkan juga ketersediaan donor kornea. Secara global, jumlah pasien yang membutuhkan transplantasi jauh lebih besar dibandingkan jumlah jaringan donor yang tersedia.
Dari Mengganti Seluruh Kornea, Kini Lebih Selektif
Dulu, sebagian besar pasien yang membutuhkan transplantasi kornea menjalani prosedur penetrating keratoplasty (PK), yaitu mengganti seluruh bagian kornea yang rusak dengan kornea donor.
Meski efektif, prosedur ini memiliki sejumlah tantangan karena seluruh lapisan kornea harus diganti dan membutuhkan jahitan untuk menjaga posisi jaringan donor. Risiko seperti penolakan jaringan, infeksi, hingga kebutuhan transplantasi ulang dapat terjadi.
Seiring perkembangan teknologi, pendekatan transplantasi kornea kini berubah. Dokter tidak lagi selalu mengganti seluruh kornea, melainkan hanya memperbaiki lapisan yang mengalami kerusakan.
“Perkembangan terbesar dalam transplantasi kornea adalah pergeseran dari mengganti seluruh kornea menjadi mengganti hanya lapisan yang sakit,” jelas Prof. Marcus.
Konsep ini disebut selective corneal transplantation atau transplantasi selektif. Dengan teknik ini, jaringan kornea pasien yang masih sehat dapat dipertahankan sehingga operasi menjadi lebih aman dan pemulihan lebih cepat.
Teknologi DMEK, Harapan Baru untuk Pasien Gangguan Kornea
Salah satu inovasi yang menjadi unggulan SNEC adalah Descemet Membrane Endothelial Keratoplasty (DMEK).
Teknik ini digunakan untuk pasien yang mengalami kerusakan pada lapisan terdalam kornea, yaitu sel endotel. Lapisan ini berfungsi menjaga kadar cairan dalam kornea agar tetap jernih.
Kerusakan sel endotel dapat terjadi, salah satunya, setelah operasi katarak. Beberapa pasien mungkin mengalami penglihatan yang tetap buram setelah operasi, sementara sebagian lainnya baru mengalami penglihatan berkabut beberapa bulan atau tahun kemudian.
Pada prosedur DMEK, dokter hanya mengganti lapisan tipis yang rusak, bukan seluruh kornea. Jaringan donor dimasukkan melalui sayatan kecil tanpa jahitan dan ditempatkan menggunakan bantuan gelembung udara agar menempel dengan baik.
“DMEK memberikan pemulihan penglihatan yang lebih cepat, komplikasi lebih sedikit, dan risiko penolakan jaringan lebih rendah dibandingkan teknik transplantasi endotel sebelumnya,” kata Prof. Marcus.
Pada kasus tertentu, pasien dapat mulai merasakan peningkatan penglihatan dalam satu hingga dua minggu setelah tindakan.
SNEC sendiri menjadi salah satu pusat transplantasi kornea terkemuka di Asia yang memiliki pengalaman panjang dalam melakukan teknik ini.
SNEC dan Pengalaman Puluhan Tahun Tangani Transplantasi Kornea
Singapore National Eye Centre (SNEC) telah menjalankan program transplantasi kornea selama sekitar empat hingga lima dekade dan menjadi salah satu pusat rujukan mata di Asia.
Setiap tahun, SNEC melakukan sekitar 800 hingga 1.000 transplantasi kornea, dengan dukungan layanan eye bank yang memungkinkan jaringan donor diproses, disiapkan, dan digunakan secara optimal.
Salah satu keunggulan SNEC adalah pengalaman dalam menangani kasus kompleks, termasuk pasien yang sebelumnya telah menjalani beberapa operasi mata atau mengalami kegagalan transplantasi sebelumnya.
Menurut Prof. Marcus, tujuan utama bukan hanya membuat pasien dapat melihat kembali, tetapi juga mempertahankan kualitas penglihatan dalam jangka panjang.
“Kami tidak hanya ingin melakukan transplantasi, tetapi memastikan transplantasi tersebut bertahan selama mungkin dan memberikan hasil terbaik bagi pasien,” ujarnya.
Satu Kornea Bisa Membantu Dua Pasien
Keterbatasan donor kornea menjadi tantangan global. Karena itu, penggunaan jaringan donor secara optimal menjadi perhatian penting.
Dengan teknik transplantasi selektif, satu kornea donor bahkan berpotensi digunakan untuk membantu dua pasien berbeda.
Lapisan luar kornea dapat digunakan untuk pasien yang membutuhkan transplantasi bagian depan kornea, sementara lapisan dalamnya dapat digunakan untuk pasien yang membutuhkan transplantasi endotel.
Pendekatan ini membantu memperluas akses bagi lebih banyak pasien yang membutuhkan.
“Sumber daya donor sangat terbatas. Karena itu, kita harus memastikan setiap jaringan donor digunakan secara bertanggung jawab dan memberikan manfaat maksimal,” kata Prof. Marcus.
Jangan Abaikan Penglihatan Berkabut Setelah Operasi Mata
Salah satu tanda yang perlu diperhatikan adalah penglihatan yang tampak seperti melihat melalui kabut atau kaca buram.
Kondisi ini sering digambarkan pasien sebagai pandangan berkabut, berbeda dengan gangguan seperti mata minus atau penglihatan ganda.
Pasien yang penglihatannya tidak membaik setelah operasi katarak, atau awalnya membaik lalu kembali buram beberapa waktu kemudian, sebaiknya segera melakukan pemeriksaan.
Selain transplantasi donor, SNEC juga mengembangkan teknologi alternatif seperti EndoArt, yaitu implan sintetis yang membantu mengurangi penumpukan cairan pada kornea, serta artificial cornea untuk pasien dengan kondisi sangat kompleks yang tidak lagi cocok menjalani transplantasi biasa.
Namun, Prof. Marcus menegaskan bahwa transplantasi menggunakan jaringan donor tetap menjadi pilihan utama jika memungkinkan.
Menjaga Kornea Sejak Dini
Gangguan kornea dapat disebabkan oleh berbagai faktor, mulai dari infeksi mata, cedera, paparan bahan kimia, penggunaan lensa kontak yang tidak higienis, hingga komplikasi setelah operasi mata.
Karena itu, menjaga kesehatan mata tetap menjadi langkah penting.
Gunakan lensa kontak sesuai aturan, hindari tidur menggunakan lensa kontak, segera periksa jika mengalami infeksi mata, dan jangan mengabaikan perubahan penglihatan yang terjadi secara tiba-tiba.
“Deteksi dan penanganan lebih awal dapat membantu mempertahankan fungsi penglihatan. Tujuan akhirnya bukan hanya membuat pasien bisa melihat, tetapi membantu mereka kembali menjalani aktivitas sehari-hari dengan kualitas hidup yang lebih baik,” tutup Prof. Marcus.