- Kementerian Kesehatan mencatat anak usia lima hingga empat belas tahun mengalami proporsi kematian akibat DBD tertinggi pada periode dua ribu delapan belas hingga dua ribu dua puluh lima.
- Dokter Ikhsanuddin menyatakan penularan virus dengue dari nyamuk Aedes aegypti terjadi sepanjang tahun sehingga mengancam kesehatan anak di rumah maupun sekolah.
- Studi Universitas Gadjah Mada memperkirakan beban ekonomi akibat dengue di Indonesia mencapai hampir sembilan triliun rupiah pada tahun dua ribu dua puluh empat.
Suara.com - Memasuki tahun ajaran baru, orang tua biasanya disibukkan dengan menyiapkan berbagai kebutuhan sekolah anak, mulai dari seragam, buku pelajaran, hingga perlengkapan belajar lainnya.
Namun, ada satu hal penting yang juga perlu menjadi perhatian, yakni menjaga kesehatan anak agar tetap terlindungi dari penyakit menular seperti demam berdarah dengue (DBD).
Hal ini menjadi penting karena anak termasuk kelompok yang rentan mengalami dampak serius akibat dengue. Data Kementerian Kesehatan periode 2018–2025 menunjukkan kelompok usia 5–14 tahun secara konsisten mencatat proporsi kematian akibat dengue tertinggi dibanding kelompok usia lainnya.
Pada 2025, sebanyak 59 persen kematian akibat DBD terjadi pada anak usia 0–14 tahun, dengan 41 persen berasal dari kelompok usia 5–14 tahun.
Dokter sekaligus kreator konten kesehatan, dr. Ikhsanuddin Qothi, mengatakan masih banyak masyarakat yang menganggap DBD hanya perlu diwaspadai saat musim hujan. Padahal, anggapan tersebut kurang tepat.
"DBD bukan penyakit musiman. Risiko penularannya ada sepanjang tahun, sehingga kewaspadaan juga perlu dijaga setiap saat. Pada musim kemarau pun tempat yang menampung air tetap dapat menjadi lokasi berkembang biaknya nyamuk jika tidak dibersihkan secara rutin," jelas dr. Ikhsan.
Ia menjelaskan, DBD disebabkan oleh virus dengue yang memiliki empat serotipe, yakni DENV-1, DENV-2, DENV-3, dan DENV-4. Penularannya terjadi melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti yang aktif terutama pada pagi dan sore hari, bertepatan dengan waktu anak berangkat maupun pulang sekolah.
Karena itu, risiko paparan tidak hanya ada di rumah, tetapi juga selama anak berada di sekolah, mengikuti kegiatan olahraga, ekstrakurikuler, maupun saat beraktivitas di lingkungan sekitar.
Menurut dr. Ikhsan, sekolah juga memiliki peran penting dalam pencegahan dengan memastikan tidak ada genangan air, melakukan pemantauan jentik secara berkala, serta mengajak seluruh warga sekolah menerapkan gerakan 3M Plus.
Hal lain yang sering disalahpahami masyarakat adalah anggapan bahwa seseorang yang pernah terkena DBD akan kebal selamanya. Padahal, seseorang yang sudah terinfeksi salah satu serotipe virus dengue masih dapat terinfeksi kembali oleh serotipe lainnya.
"Infeksi berikutnya dapat meningkatkan risiko terjadinya dengue berat. Karena itu, orang tua tetap perlu melakukan pencegahan meskipun anak sebelumnya pernah terkena DBD," ujar dr. Ikhsan.
Ia juga mengingatkan agar orang tua tidak lengah ketika demam anak mulai turun. Pada sebagian kasus, tanda bahaya justru dapat muncul setelah fase demam berakhir.
Jika anak mengalami muntah terus-menerus, nyeri perut hebat, perdarahan, tampak sangat lemas, gelisah, atau kesadarannya menurun, segera bawa ke fasilitas kesehatan.
Selain mengancam kesehatan, DBD juga berdampak pada aktivitas belajar dan kondisi ekonomi keluarga. Anak dapat kehilangan waktu belajar karena harus dirawat, sementara proses pemulihan sering kali masih membutuhkan waktu meski sudah diperbolehkan pulang.
Studi Universitas Gadjah Mada bahkan memperkirakan beban ekonomi dengue di Indonesia mencapai hampir Rp9 triliun pada 2024, termasuk biaya pengobatan, transportasi, hingga hilangnya pendapatan orang tua yang harus mendampingi anak selama sakit.
Untuk itu, dr. Ikhsan menekankan bahwa perlindungan terhadap DBD perlu dilakukan secara menyeluruh. Selain rutin menerapkan 3M Plus, penggunaan pelindung diri dari gigitan nyamuk dan vaksinasi sesuai rekomendasi tenaga kesehatan juga dapat menjadi bagian dari upaya pencegahan yang komprehensif.
Ia menambahkan, vaksin dengue telah masuk dalam rekomendasi imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) untuk anak dan rekomendasi imunisasi dewasa dari Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI).
Orang tua disarankan berkonsultasi dengan dokter untuk mengetahui apakah anak maupun anggota keluarga lainnya telah memenuhi kriteria mendapatkan vaksinasi dengue.
Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines, Andreas Gutknecht, mengatakan perlindungan terhadap DBD membutuhkan kolaborasi banyak pihak, tidak hanya keluarga.
Menurutnya, orang tua memang memiliki peran penting dalam membangun kewaspadaan dan menerapkan langkah pencegahan secara konsisten, tetapi upaya tersebut juga perlu didukung sekolah, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat.
Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda menyatakan terus mendukung edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat upaya pencegahan dengue di Indonesia.
"Upaya tersebut perlu diperkuat oleh sekolah, pemerintah, tenaga kesehatan, dan berbagai pihak lainnya. Sejalan dengan target nasional Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030, Takeda berkomitmen terus mendukung upaya pemerintah dan masyarakat melalui edukasi serta kolaborasi lintas sektor untuk memperkuat pencegahan dengue di Indonesia,” tutup Andreas.