- Singapore General Hospital mengembangkan pendekatan tanpa biopsi, biopsi transperineal aman, dan operasi robotik minim sayatan untuk kanker prostat.
- Pria berusia 45 tahun ke atas disarankan melakukan tes darah PSA rutin karena stadium awal kanker sering tanpa gejala.
- Sekitar 90 persen pasien operasi robotik SGH dapat pulang dalam 23 jam dan melakukan kontrol lanjutan jarak jauh.
Suara.com - Selama ini, banyak pria menganggap gangguan prostat hanyalah bagian dari proses penuaan. Padahal, di balik gejala yang tampak sepele seperti sering buang air kecil di malam hari atau aliran urine yang melemah, bisa saja tersembunyi penyakit yang jauh lebih serius: kanker prostat.
Ironisnya, kanker prostat pada stadium awal sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Akibatnya, banyak pasien baru mengetahui penyakitnya saat kanker sudah memasuki stadium lanjut.
"Kanker prostat stadium awal biasanya tidak menimbulkan gejala yang jelas. Jika baru terdiagnosis setelah muncul keluhan, penyakitnya bisa saja sudah berada pada stadium yang lebih lanjut," ujar A/Prof John Yuen Shyi Peng, Head & Senior Consultant, Department of Urology, Singapore General Hospital (SGH).
Karena itu, deteksi dini menjadi kunci utama.
Pemeriksaan Sederhana yang Bisa Menyelamatkan Nyawa
Banyak orang mengira pemeriksaan kanker prostat rumit dan menyakitkan. Faktanya, langkah awalnya cukup sederhana, yaitu melalui tes darah PSA (Prostate Specific Antigen).
PSA adalah protein yang diproduksi oleh kelenjar prostat. Kadar PSA yang meningkat belum tentu berarti kanker, tetapi bisa menjadi sinyal bahwa pemeriksaan lebih lanjut diperlukan.
Menurut pedoman internasional, pria berusia sekitar 45 tahun ke atas, terutama yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker prostat, sebaiknya mulai berdiskusi dengan dokter mengenai skrining PSA.
"Tes PSA sangat sederhana. Hasilnya membantu menentukan seberapa sering seseorang perlu menjalani pemeriksaan berikutnya sesuai profil risikonya," jelas A/Prof John.
Semakin dini kanker ditemukan, semakin besar peluang untuk sembuh total. Sebaliknya, kanker prostat stadium empat umumnya sudah tidak dapat disembuhkan, meski masih bisa dikendalikan.
Tidak Semua Pasien Harus Biopsi
Salah satu kabar baik datang dari SGH. Rumah sakit ini tengah mengembangkan pendekatan baru dalam diagnosis kanker prostat.
Selama bertahun-tahun, biopsi menjadi standar untuk memastikan keberadaan sel kanker. Namun kini, pada pasien tertentu dengan hasil MRI dan pemindaian PSMA yang sangat khas, dokter dapat langsung mempertimbangkan operasi tanpa harus melalui biopsi terlebih dahulu.
Dalam penelitian awal SGH terhadap 15 pasien yang memenuhi kriteria ketat tersebut, seluruhnya terbukti memang mengidap kanker prostat setelah operasi dilakukan.
"Pendekatan ini hanya untuk pasien yang dipilih secara sangat hati-hati. Tujuannya menghindari prosedur invasif yang tidak diperlukan, mengurangi risiko komplikasi, sekaligus menghemat biaya," kata A/Prof John.
Biopsi Kini Jauh Lebih Aman
Bila biopsi tetap diperlukan, teknologinya pun telah berkembang.
Metode lama mengambil sampel jaringan melalui rektum sehingga berisiko membawa bakteri masuk ke prostat dan menyebabkan infeksi.
Kini, SGH menggunakan robotic-assisted transperineal biopsy, yaitu biopsi melalui kulit di area antara skrotum dan anus. Jalur ini jauh lebih bersih sehingga risiko infeksi menurun drastis.
Teknologi yang dikembangkan di Singapura tersebut kini telah digunakan di berbagai negara Asia, Australia, hingga Eropa.
Operasi Robotik dengan Sayatan Lebih Sedikit
Bagi banyak pasien, kata "operasi" masih terdengar menakutkan. Padahal, teknik operasi kanker prostat saat ini sudah sangat berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu.
SGH menggunakan operasi robotik dengan pendekatan extraperitoneal, yaitu dilakukan tanpa melewati rongga perut tempat usus berada.
Dengan cara ini, gangguan pada saluran pencernaan menjadi lebih minimal sehingga pasien biasanya lebih cepat makan, berjalan, dan pulih.
"Tujuan kami adalah membuat operasi menjadi lebih aman, nyaman, dan pemulihan berlangsung lebih cepat," ujar A/Prof John.
Tak hanya itu, jumlah sayatan juga jauh lebih sedikit. Jika operasi robotik konvensional membutuhkan lima hingga enam sayatan, teknik terbaru di SGH memungkinkan tindakan dilakukan hanya melalui satu hingga tiga sayatan kecil pada pasien yang memenuhi syarat.
Bekas luka menjadi lebih kecil, rasa nyeri berkurang, dan proses penyembuhan berlangsung lebih cepat.
Bisa Pulang di Hari yang Sama
Hal yang dulu terasa mustahil kini menjadi kenyataan.
Sekitar 90 persen pasien yang menjalani operasi robotik kanker prostat di SGH memenuhi syarat untuk pulang dalam waktu kurang dari 23 jam setelah operasi.
Namun, keputusan pulang bukan karena ingin mempercepat pergantian tempat tidur rumah sakit.
"Kami hanya mengizinkan pasien pulang bila mereka sudah bisa makan, minum, berjalan sendiri, nyerinya terkendali, dan tidak ada tanda komplikasi," tegas A/Prof John.
Bagi pasien internasional, termasuk dari Indonesia, pasien umumnya tetap berada di Singapura sekitar 10 hari hingga kateter dilepas dan dokter memastikan kondisi benar-benar stabil sebelum diperbolehkan terbang pulang.
Perawatan Tak Berhenti Setelah Operasi
Setelah kembali ke negara asal, pasien tidak harus selalu datang lagi ke Singapura.
Kontrol lanjutan umumnya dilakukan sekitar dua bulan setelah operasi melalui pemeriksaan PSA. Hasil tes dapat dilakukan di negara asal lalu dikirim kepada tim dokter SGH untuk dievaluasi.
Jika ditemukan kondisi yang memerlukan pemeriksaan langsung, barulah pasien disarankan kembali ke Singapura.
Sebagai rumah sakit tertua sekaligus flagship hospital dalam jaringan SingHealth, SGH memiliki sekitar 20 dokter spesialis urologi yang menangani berbagai penyakit saluran kemih dan reproduksi pria.
Setiap tahun, rumah sakit ini melakukan sekitar 300 operasi kanker prostat, dengan sekitar 20–30 persen pasien berasal dari luar negeri.
Selain memberikan layanan klinis, SGH juga aktif melakukan penelitian dan mengembangkan teknologi baru, termasuk sistem biopsi robotik yang kini telah digunakan di berbagai negara.
Bagi masyarakat awam, pesan terpenting bukanlah soal secanggih apa teknologi yang tersedia, melainkan pentingnya tidak menunggu gejala muncul.
Sebab, semakin cepat kanker prostat ditemukan, semakin besar peluang pasien menjalani pengobatan yang lebih ringan, pemulihan yang lebih cepat, dan kualitas hidup yang tetap terjaga.