- Penyakit demam berdarah dengue di Indonesia menimbulkan beban ekonomi hampir sembilan triliun rupiah pada tahun dua ribu dua puluh empat.
- Dokter Gia Pratama Putra menyatakan keluarga harus segera mencari pertolongan medis apabila muncul tanda bahaya pada pasien.
- Kementerian Kesehatan menyusun Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue untuk mencapai target nol kematian akibat dengue pada tahun dua ribu tiga puluh.
Suara.com - Demam berdarah dengue (DBD) sudah puluhan tahun dikenal masyarakat Indonesia. Namun, lamanya penyakit ini berada di tengah kehidupan masyarakat bukan berarti ancamannya boleh dianggap biasa.
Setelah pertama kali dilaporkan di Indonesia pada 1968, dengue masih menjadi persoalan kesehatan yang dapat terjadi sepanjang tahun.
Saat kasus DBD muncul, pasien bukan satu-satunya pihak yang terdampak. Keluarga harus menghadapi kekhawatiran, biaya pengobatan, hingga waktu yang tersita untuk merawat anggota keluarga yang sakit.
Di sisi lain, tenaga kesehatan dan fasilitas pelayanan kesehatan juga harus menghadapi tantangan ketika jumlah pasien meningkat dan kondisi sebagian pasien dapat berubah dengan cepat.
Studi Burden of Disease Universitas Gadjah Mada memperkirakan lebih dari 2 juta rawat inap akibat dengue terjadi di Indonesia pada 2024. Beban ekonominya bahkan diperkirakan mencapai hampir Rp9 triliun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan dengue tidak berhenti pada demam dan proses penyembuhan pasien. Di baliknya terdapat beban yang dirasakan keluarga sekaligus sistem pelayanan kesehatan.
Dokter sekaligus kreator konten, dr. Gia Pratama Putra, mengatakan salah satu tantangan dalam menangani dengue adalah gejalanya pada fase awal yang dapat menyerupai penyakit demam lainnya.
“Pada fase awal, DBD dapat sulit dibedakan dari penyakit demam lainnya. Yang membuat dengue berbahaya adalah ketika keluarga merasa demamnya sudah membaik, padahal justru pada fase tertentu kondisi pasien bisa memburuk cepat,” ujar dr. Gia.
Karena itu, menurut dia, keluarga tidak boleh hanya berpatokan pada turunnya demam. Kondisi pasien tetap perlu dipantau dan pertolongan medis harus segera dicari apabila muncul tanda bahaya.
Tanda tersebut antara lain nyeri perut hebat, muntah terus-menerus, perdarahan, tubuh terasa sangat lemas, gelisah, atau penurunan kesadaran.
“Penanganan yang cepat dan tepat sangat penting untuk mencegah kondisi berkembang menjadi lebih berat. Karena DBD sudah begitu lama dikenal oleh masyarakat, jangan sampai justru kita menganggapnya sebagai bagian yang biasa dari kehidupan kita sehari-hari,” katanya.
Pengalaman di fasilitas kesehatan juga memperlihatkan bahwa beban dengue bukan hanya persoalan banyaknya pasien. Tenaga kesehatan harus mampu mengenali tanda bahaya, memantau perubahan kondisi pasien, memberikan tata laksana yang sesuai, serta memastikan rujukan cepat bagi pasien dengan kondisi berat.
“Di IGD kami bekerja menyelamatkan pasien ketika dengue sudah menjadi berat. Tetapi kemenangan terbesar sebenarnya terjadi jauh sebelum pasien sampai ke IGD,” tutur dr. Gia.
Karena itu, pencegahan menjadi perlindungan pertama. Masyarakat dapat menjalankan 3M Plus secara konsisten, menjaga lingkungan rumah dan tempat beraktivitas, serta mengurangi risiko gigitan nyamuk.
Pilihan pencegahan lainnya juga dapat dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, termasuk vaksinasi dengue. Upaya tersebut menjadi semakin penting karena Indonesia menargetkan Nol Kematian Akibat Dengue pada 2030.
Kementerian Kesehatan telah memimpin penyusunan Rencana Aksi Nasional Pengendalian Dengue 2026–2029 dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah pusat dan daerah, organisasi profesi, akademisi, badan Perserikatan Bangsa-Bangsa, masyarakat sipil hingga lembaga filantropi.
Target tersebut membutuhkan strategi yang menyeluruh, mulai dari deteksi dini, penguatan surveilans, tata laksana pasien, pengendalian vektor, hingga pemanfaatan inovasi seperti teknologi Wolbachia dan vaksinasi dengue.
Country Head Malaysia & Indonesia Takeda, Simon Gallagher, menilai keluarga memiliki peran penting dalam perjalanan menuju target tersebut.
“DBD tidak hanya berdampak pada pasien. Ketika satu orang sakit, seluruh keluarga ikut merasakan dampaknya, mulai dari kekhawatiran, waktu yang digunakan untuk merawat, hingga beban finansial,” ujar Simon.
Menurutnya, semangat kemerdekaan dapat menjadi momentum untuk mengingatkan bahwa perlindungan dari dengue merupakan tanggung jawab bersama.
Setelah 58 tahun menghadapi dengue, Indonesia memang memiliki lebih banyak pengetahuan dan pilihan intervensi. Namun, tingginya jumlah pasien yang masih membutuhkan perawatan menunjukkan bahwa perjuangan belum selesai.
Semangat “Merdeka dari DBD” pun tidak harus dimulai dari rumah sakit. Perjuangan tersebut justru dapat dimulai dari rumah: tidak menganggap demam sebagai hal sepele, mengenali tanda bahaya, menjaga lingkungan, menjalankan 3M Plus, dan segera mencari pertolongan ketika kondisi memburuk.
Sebab, menuju nol kematian akibat dengue bukan hanya target pemerintah. Ini adalah gerakan bersama yang membutuhkan tindakan nyata dari setiap keluarga, tenaga kesehatan, pemerintah, dan berbagai sektor masyarakat.