- Survei Kesehatan Indonesia 2023 mencatat 90 persen masyarakat belum mendapatkan perawatan medis profesional untuk masalah gigi.
- SATU Dental Group menerapkan pendekatan kenyamanan pasien serta pelatihan dokter untuk mengatasi ketakutan masyarakat terhadap perawatan gigi.
- SATU Dental Group mendirikan 57 cabang klinik dalam lima tahun guna memperluas akses layanan berkualitas dan terjangkau.
Selama pemeriksaan awal, dokter di SATU Dental menggunakan kamera intraoral untuk melihat kondisi gigi dan mulut pasien. Gambar yang dihasilkan kemudian dapat ditampilkan langsung pada layar di depan kursi perawatan.
Pasien pun dapat melihat kondisi giginya sendiri secara lebih jelas. Dokter dapat menunjukkan bagian tertentu yang perlu diperhatikan sekaligus menjelaskan apa yang terlihat dari pemeriksaan tersebut.
Dengan cara ini, komunikasi tidak berhenti pada dokter yang mengatakan bahwa ada masalah pada gigi. Pasien dapat melihat bagian yang dimaksud sebelum mendiskusikan pemeriksaan atau perawatan berikutnya.
Jika terdapat area yang sulit dijangkau kamera intraoral atau membutuhkan pengamatan lebih detail, dokter dapat menggunakan mikroskop sebagai alat bantu.
Penggunaan teknologi tersebut juga membantu dokter dan pasien memiliki gambaran yang sama mengenai kondisi gigi. Bagi pasien, informasi visual dapat membuat penjelasan mengenai kondisi mulut terasa lebih konkret.
Kenyamanan dan Keterjangkauan
Pertanyaannya, jika klinik harus menyediakan teknologi pemeriksaan sekaligus berbagai fasilitas untuk meningkatkan kenyamanan pasien, bagaimana layanan tersebut tetap dapat ditawarkan dengan harga yang relatif terjangkau?
SATU Dental mengandalkan ekosistem terintegrasi yang mencakup jaringan klinik, penyediaan alat dan bahan kedokteran gigi, serta laboratorium restorasi.
Kebutuhan peralatan dan bahan kedokteran gigi di jaringan klinik didukung Klik Dental, platform ekosistem B2B yang menyediakan berbagai kebutuhan, mulai dari bahan restorasi, endodontik, hingga digital imaging.
Sementara untuk kebutuhan restorasi gigi, terdapat Dua Lab & Tech yang memproduksi restorasi dengan fokus pada akurasi, presisi, daya tahan, dan estetika.
Integrasi tersebut memungkinkan kebutuhan operasional klinik, mulai dari peralatan dan bahan hingga pembuatan restorasi, berada dalam satu ekosistem. Efisiensi inilah yang menjadi salah satu cara untuk menekan biaya operasional tanpa harus mengorbankan kualitas layanan.
“Satu Dental hadir sebagai solusi holistik untuk meruntuhkan tiga hambatan utama masyarakat dalam merawat gigi: keterbatasan akses, persepsi biaya mahal yang tidak transparan, serta rasa takut akan tindakan medis. Dalam kurun waktu 5 tahun, kami telah mengembangkan 57 cabang klinik gigi untuk memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan berkualitas tinggi dengan harga yang bersahabat,” ujar Satria Situmorang, CEO SATU Dental Group.
Jangan Tunggu Sampai Sakit
Persoalan akses dan kenyamanan menjadi penting karena pemeriksaan gigi masih sering dilakukan setelah muncul keluhan.
Selain tingginya masyarakat yang belum mendapatkan perawatan profesional, tantangan lainnya adalah ketersediaan tenaga kesehatan. Rasio pelayanan medis disebut masih berada di angka 1:8.000, sementara 2.375 puskesmas di Indonesia beroperasi tanpa dokter gigi.
Karena itu, pemeriksaan berkala tetap menjadi bagian penting dalam menjaga kesehatan gigi dan mulut. Pemeriksaan memungkinkan masalah terdeteksi lebih awal, sebelum berkembang dan menimbulkan keluhan yang lebih berat.
Dalam momentum Bulan Kesehatan Gigi Nasional (BKGN) 2026, masyarakat kembali diajak untuk tidak hanya datang ke dokter gigi ketika mengalami sakit. Deteksi dini, pembersihan karang gigi secara berkala, serta perawatan rutin dapat menjadi bagian dari kebiasaan menjaga kesehatan mulut.
Pada akhirnya, membuat kunjungan ke dokter gigi terasa lebih nyaman bukan berarti menghilangkan seluruh rasa takut pasien. Namun, ketika pasien mendapatkan informasi yang jelas, dapat berkomunikasi dengan dokter, serta memiliki suasana yang lebih rileks selama perawatan, pengalaman tersebut diharapkan tidak lagi menjadi alasan untuk terus menunda pemeriksaan.