Indotnesia - Banjir rob atau air pasang di pesisir utara Jawa mulai terjadi sejak 14 Mei 2022. Puncaknya, Kawasan Pelabuhan Tanjung Emas dan komplek industri Lamicitra, Kota Semarang terendam gelombang tinggi hingga 1,5 meter.
Hingga Selasa (24/5/2022) sejumlah pabrik di kawasan industri pelabuhan berhenti produksi lantaran akses jalan tertutup genangan banjir yang masih cukup tinggi yakni sekitar 1,25 meter.
Diketahui banjir rob mulai melimpah ke daratan dengan ketinggian 2 meter dan melanda kawasan pesisir Kota Semarang, Jawa Tengah, terutama sekitar Pelabuhan Tanjung Emas pada Senin (23/5/2022).
Sejumlah video yang memperlihatkan ribuan pekerja menyelamatkan diri dari peristiwa banjir dengan menuntun sepeda motornya pun viral di media sosial. Bahkan terlihat pula mobil, ribuan unit mesin jahit hingga mesin produksi yang terendam.
Puluhan kontainer atau peti kemas yang ada di Pelabuhan Tanjung Emas pun tampak terendam banjir yang terjadi bersamaan dengan gelombang tinggi, sekaligus diperparah lantaran jebolnya tanggul laut di kawasan pelabuhan.
Selain kawasan sekitar Pelabuhan Tanjung Emas, banjir juga melanda sejumlah daerah pesisir Kota Semarang, Pantai Tegal, Pantai Sari Pekalongan, Wonokerto-Pekalongan, Pantai Tawang Kendal, Jalan Raya Genuk Semarang-Demak, Pantai Batang, Pantai Rembang, Pantai Karang tengah Demak hingga pesisir Jawa Timur.
Melihat kejadian banjir rob yang terjadi di pesisir utara Jawa, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memprediksi fenomena alam tersebut akan berlangsung hingga Rabu (25/5/2022).
Dilansir dari Suara.com, Kepala Pusat Meteorologi Maritim, BMKG, Eko Prasetyo melalui keterangan tertulis mengatakan bahwa banjir rob tak hanya disebabkan oleh curah hujan, tetapi juga gelombang tinggi di Laut Jawa.
“Selain faktor curah hujan di beberapa wilayah, gelombang tinggi di Laut Jawa yang mencapai 1,25-2,5 meter memberikan dampak terhadap peningkatan banjir rob di di wilayah pelabuhan. Hal itu tentunya dapat mengganggu aktivitas keseharian masyarakat,” ungkapnya, dikutip dari Suara.com.
Menurut Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja, pasang air laut yang melanda sebagian wilayah Jawa Tengah bagian utara termasuk ekstrem jika dibandingkan 5 tahun terakhir.
“Pasang air laut +210 cm mdpl dapat dikatakan ekstrem jika dibandingkan catatan pasang surut dalam 5 tahun terakhir, yaitu selama 2017-2021 dengan muka pasang tertinggi pada kisaran +180 cm mdpl,” ujar Endra pada Selasa (24/5/2022) dikutip dari Suara.com.