Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim

Bimo Aria Fundrika

Senin, 25 Mei 2026 | 13:30 WIB
Riset: 80 Persen Warga Pesisir Alami Penurunan Pendapatan Akibat Krisis Iklim
Ilustrasi Kehidupan Pesisir Pantai (Pexels/Masudar Rahman)

Suara.com - Krisis iklim di wilayah pesisir Indonesia tidak lagi hanya soal banjir rob atau abrasi pantai. Dampaknya kini merambah kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat, mulai dari penurunan pendapatan, meningkatnya risiko migrasi, hingga terganggunya akses pendidikan dan kesehatan bagi kelompok rentan.

Temuan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam buku Climate Change, Labour and Migration in Indonesia, hasil penelitian kolaboratif antara Griffith University, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan Universitas Diponegoro.

Penelitian dilakukan di sejumlah wilayah pesisir utara Pulau Jawa, termasuk Jakarta, Semarang, Pekalongan, dan Demak, yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi kombinasi ancaman berupa banjir rob, abrasi, penurunan muka tanah, serta kenaikan suhu yang semakin ekstrem.

Pelaksana Tugas Kepala Organisasi Riset Ilmu Pengetahuan Sosial dan Humaniora BRIN, Muhammad Najib Azca, mengatakan perubahan iklim telah berkembang menjadi persoalan lintas sektor yang memengaruhi kehidupan masyarakat secara luas.

Menurutnya, dampak tersebut tidak hanya berkaitan dengan lingkungan, tetapi juga menyentuh persoalan ekonomi, ketenagakerjaan, mobilitas penduduk, hingga ketimpangan sosial.

Pendapatan Menurun, Risiko Migrasi Meningkat

Salah satu temuan penelitian menunjukkan sekitar 80 persen responden di wilayah terdampak mengalami penurunan pendapatan akibat banjir, kenaikan muka laut, dan penurunan muka tanah.

Berkurangnya pendapatan membuat banyak keluarga harus beradaptasi dengan kondisi yang semakin sulit, termasuk mempertimbangkan perpindahan tempat tinggal atau mencari pekerjaan di wilayah lain.

Buku tersebut juga menyoroti potensi migrasi paksa akibat hilangnya lahan dan ruang hidup masyarakat pesisir. Dalam beberapa kasus, perpindahan penduduk bukan hanya dipicu oleh faktor ekonomi, tetapi juga karena wilayah tempat tinggal mereka semakin rentan terhadap bencana dan genangan permanen.

baca juga

Dampaknya tidak berhenti pada aspek ekonomi. Penelitian mencatat bahwa gangguan lingkungan juga berpengaruh terhadap akses pendidikan anak, layanan kesehatan, serta kesejahteraan keluarga secara keseluruhan.

Perempuan dan Anak Menjadi Kelompok Paling Rentan

Penelitian ini menemukan bahwa perempuan dan anak sering kali menjadi kelompok yang paling terdampak ketika krisis iklim terjadi.

Selain menghadapi tekanan ekonomi keluarga, perempuan kerap menanggung beban tambahan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga ketika akses terhadap air bersih, pangan, atau pekerjaan menjadi semakin terbatas.

Anak-anak juga menghadapi risiko yang lebih besar akibat terganggunya pendidikan, kesehatan, dan kualitas lingkungan tempat mereka tumbuh.

Head of Research PUSKAPA UI, Widi Laras Sari, menilai dampak perubahan iklim perlu dipahami secara lebih menyeluruh karena menyangkut kehidupan kelompok rentan yang selama ini sering luput dari perhatian.

“Kita membutuhkan gambaran lengkap tentang bagaimana perubahan iklim dapat mempengaruhi kita. Ini bukan hanya tentang sistem hukum atau aspek sains, tetapi juga populasi yang rentan,” ujarnya.

Usulan Kenaikan Muka Laut Masuk Kategori Bencana

Sejumlah petugas PPSU berjaga saat banjir rob di Jalan Pluit Karang Ayu Barat, Pluit, Jakarta, Selasa (17/12/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa/am.
Sejumlah petugas PPSU berjaga saat banjir rob di Jalan Pluit Karang Ayu Barat, Pluit, Jakarta, Selasa (17/12/2024). ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/rwa/am.

Peneliti BRIN, Laely Nurhidayah, menjelaskan salah satu rekomendasi utama dari penelitian tersebut adalah perlunya revisi Undang-Undang Penanggulangan Bencana.

Menurutnya, kenaikan muka laut dan penurunan muka tanah perlu diakui sebagai bentuk bencana agar pemerintah memiliki dasar hukum yang lebih kuat untuk melakukan mitigasi, adaptasi, dan perlindungan terhadap masyarakat terdampak.

Usulan tersebut muncul karena ancaman yang dihadapi masyarakat pesisir bersifat perlahan namun terus berlangsung, sehingga sering kali tidak mendapatkan respons yang sama seperti bencana yang terjadi secara tiba-tiba.

Direktur Adaptasi Perubahan Iklim Kementerian Lingkungan Hidup, Franky Zamzani, mengatakan perubahan iklim perlu dilihat sebagai persoalan yang berkaitan langsung dengan kesejahteraan masyarakat.

“Perubahan iklim bukan hanya masalah lingkungan, tetapi juga masalah sosial, ekonomi, dan hak asasi manusia,” katanya.

Temuan penelitian ini menunjukkan bahwa dampak krisis iklim tidak hanya diukur dari kerusakan lingkungan, tetapi juga dari perubahan yang terjadi pada pekerjaan, pendidikan, kesehatan, dan masa depan masyarakat yang hidup di wilayah paling rentan.

Penulis: Natasha Suhendra

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

Dari Dapur hingga Ladang: Bagaimana Krisis Iklim Memengaruhi Kehidupan Perempuan?

News | Senin, 25 Mei 2026 | 11:45 WIB

Krisis Iklim Ubah Cara Hidup Anak Muda, Sejauh Mana Mereka Dilibatkan Dalam Mitigasi?

Krisis Iklim Ubah Cara Hidup Anak Muda, Sejauh Mana Mereka Dilibatkan Dalam Mitigasi?

Lifestyle | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:30 WIB

Krisis Iklim Mengubah Politik Gender Rumah Tangga, Bagaimana Bisa?

Krisis Iklim Mengubah Politik Gender Rumah Tangga, Bagaimana Bisa?

News | Jum'at, 22 Mei 2026 | 11:09 WIB

Terkini

Bye Bekas Jerawat! 4 Night Cream Arbutin Wajah Auto Glowing di Pagi Hari

Bye Bekas Jerawat! 4 Night Cream Arbutin Wajah Auto Glowing di Pagi Hari

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:45 WIB

Pakai Beskap Biru Dongker, Prabowo Jadi Saksi Akad Nikah Sespri Rizky Irmansyah di JCC Senayan

Pakai Beskap Biru Dongker, Prabowo Jadi Saksi Akad Nikah Sespri Rizky Irmansyah di JCC Senayan

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:37 WIB

Api di Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Kemenhut Pastikan Kondisi Gajah Sumatra Aman

Api di Way Kambas Berhasil Dipadamkan, Kemenhut Pastikan Kondisi Gajah Sumatra Aman

News | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:32 WIB

Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain

Review BukuMelihat Diri Sendiri: Belajar Bercermin Sebelum Sibuk Menilai Orang Lain

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:30 WIB

Cara Membedakan Kalkulator Casio Asli dan Palsu, Jangan Salah Beli!

Cara Membedakan Kalkulator Casio Asli dan Palsu, Jangan Salah Beli!

Lifestyle | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:15 WIB

Tiket Solo Run Fest 2026 Diskon 20 Persen via BRImo, Cek Cara Klaimnya

Tiket Solo Run Fest 2026 Diskon 20 Persen via BRImo, Cek Cara Klaimnya

Bri | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:01 WIB

Ongkos Sebuah Kegagalan: Mengapa Orang Dewasa Sulit Mencoba Hal Baru?

Ongkos Sebuah Kegagalan: Mengapa Orang Dewasa Sulit Mencoba Hal Baru?

Your Say | Minggu, 23 Agustus 2026 | 12:00 WIB

Lewat wondrX 2026, BNI Perkuat Kedekatan Penggemar dengan Para Bintang Bulu Tangkis

Lewat wondrX 2026, BNI Perkuat Kedekatan Penggemar dengan Para Bintang Bulu Tangkis

Bisnis | Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:58 WIB

Apakah Tinted Sunscreen Wajib Diset Pakai Bedak Tabur? Pahami Dulu 5 Hal Ini

Apakah Tinted Sunscreen Wajib Diset Pakai Bedak Tabur? Pahami Dulu 5 Hal Ini

Lifestyle | Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:57 WIB

Pemadaman Karhutla di Pelalawan Terhambat Angin Kencang dan Asap Pekat

Pemadaman Karhutla di Pelalawan Terhambat Angin Kencang dan Asap Pekat

Riau | Minggu, 23 Agustus 2026 | 11:42 WIB

×