- Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp17.800 per dolar AS memicu kenaikan harga bahan baku impor di Indonesia.
- Lonjakan harga berdampak pada kenaikan biaya produksi barang konsumsi, elektronik, otomotif, serta operasional program Makan Bergizi Gratis.
- Pemerintah didorong memperkuat struktur industri domestik melalui hilirisasi dan pemberian insentif guna menekan ketergantungan terhadap bahan baku impor.
Suara.com - Nilai tukar rupiah yang terus melemah terhadap dolar Amerika Serikat mulai terasa dampaknya dalam kehidupan sehari-hari. Rupiah pada pekan lalu sudah mencapai di ats Rp17.800 per dolar AS, rekor terendah dalam sejarah.
Harga produk-produk yang bahan bakunya diimpor, mulai dari barang konsumsi, bahan makanan, elektronik hingga otomotif mulai mengalami kenaikan.
Produk konsumsi harian seperti dari deterjen, pembalut hingga sabun diperkirakan akan naik, setidaknya mulai Semester II tahun ini. Harga alat elektronik seperti ponsel juga sudah mulai naik dan akan terus naik tahun ini. Sementara di sektor otomotif harga mobil juga diramalkan naik di paruh kedua 2026.
Sementara dapur-dapur program Makan Bergizi Gratis atau MBG juga sudah mulai menjerit karena mahalnya harga bahan baku makanan seperti tempe dan tahu, yang bahan baku utamanya adalah kedelai - komoditas yang diimpor dari luar negeri menggunakan dolar.
Apa yang terjadi dan apa yang harus dilakukan pemerintah?
Dapur MBG menjerit, harga tempe dan tahu melejit
Pekan lalu Asosiasi Pengusaha dan Pengelola Dapur Makanan Bergizi Gratis Indonesia (APPMBGI) sudah mengeluh harga bahan baku makanan naik dan mengancam keberlangsungan operasi mereka.
Ketua Umum PP APPMBGI, Abdul Rivai Ras, mengatakan kondisi nilai tukar Rupiah yang kini menyentuh Rp17.850 per Dolar AS turut memicu kenaikan biaya produksi dan distribusi makanan bergizi di berbagai daerah.
Pelemahan Rupiah berdampak langsung pada kenaikan harga sejumlah bahan baku yang masih bergantung pada impor seperti susu, gandum, kedelai, minyak nabati, hingga pupuk.
Para pengrajin tempe dan tahu juga mengeluhkah harga kedelai yang naik sekitar Rp2000 per kg. Di Yogyakarta para pengrajin tempe dan tahu terpaksa bertahan ketika harga kedelai sudah mencapai Rp 11.000 per kg.
Sementara di Lebak, Banten para pengrajin memperkecil ukuran tahu produksi mereka karena harga kedelai kini sudah menyentuh angka Rp545.000 per 50 kg dari sebelumnya hanya sekitar Rp300.000 per 50kg.
"Kami sekarang terpaksa mengurangi ukuran menjadi lebih kecil agar bisa bertahan, karena harga kedelai melambung," kata Mad Soleh (58), seorang perajin tahu di Rangkasbitung.
Harga sabun hingga popok naik
Di saat yang sama produsen produk konsumsi harian asal Jepang, KAO juga mengatakan bahwa pihaknya akan segera menaikkan harga akibat meningkatnya biaya impor bahan baku produksi. KAO memproduksi berbagai produk konsumsi mulai dari sabun Biore, deterjen Attack hingga pembalut Laurier hingga popok bayi Merries.
Presiden Direktur KAO Indonesia Shoichi Hasegawa mengatakan sudah mengumumkan kepada para distributor akan menaikkan harga produk-produknya menyusul naiknya harga bahan baku yang diimpor akibat melemahnya nilai tukar rupiah serta konflik di Timur Tengah.
Hasegawa mengatakan produk deterjen adalah yang paling terdampak karena menggunakan bahan baku nafta dan bahan turunan minyak bumi lainnya yang diimpor dari Timur Tengah.
"Kami memiliki banyak produk. Ada bahan baku yang masih bisa kami impor, tapi ada juga yang tidak. Ini membuat produksi melambat," terang dia.
Hal ini kata dia berdampak ke semua pedagang. Ada yang bahkan sudah mulai menimbun barang, sebelum kebijakan kenaikan harga berlaku.
Harga ponsel dan mobil juga naik
Di sektor elektronik, harga ponsel diperkirakan akan semakin mahal saja tahun ini. Menurut Research Associate Counterpoint, Ridwan Kusuma harga smartphone pada 2026 sudah naik akibat krisis cip memori yang berlangsung sejak akhir 2025.
Tetapi kondisi ini diperparah oleh melemahnya rupiah, yang membuat impor bahan baku - termasuk cip memori - semakin mahal saja.
"Sekarang sudah jarang sekali ada ponsel dengan harga di bawah Rp 2 juta," kata Ridwan kepada suara.com.
Ia memperkirakan harga ponsel masih akan naik di Kuartal II 2026 dan menekan permintaan, terutama di segmen ponsel entry level yang berada di kisaran Rp2 jutaan..
"Karena pedagang ritel sudah tidak mungkin lagi menahan harga seperti tahun lalu," lanjut dia.
Counterpoint memperkirakan harga ponsel di Indonesia akan naik di kisaran 7 sampai 36 persen pada tahun ini.
Sementara beberapa sumber dari industri otomotif mengatakan kenaikan harga mobil sepertinya tak bisa dibendung lagi di Semester II tahun ini. Kenaikan diperkirakan berkisar 2 sampai 4 persen.
Meski demikian Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo) baru-baru ini memperkirakan kenaikan harga mobil belum terjadi dalam waktu dekat, karena para produsen tak mau momentum kenaikan penjualan di Kuartal I 2026 terganggu.
Tekanan ke industri
Direktur Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia Mohammad Faisal mengatakan tekanan terhadap industri manufaktur sebenarnya mulai terlihat sejak Maret 2026.
Faisal juga menyebut Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur Indonesia sempat mencapai level 53,8 pada Februari 2026, namun turun ke level 49,1 pada April 2026 atau kembali masuk zona kontraksi.
Berdasarkan kajian CORE Insight, sekitar 70 persen impor Indonesia masih didominasi bahan baku dan komponen industri sehingga pelemahan rupiah serta gangguan rantai pasok global cepat berdampak pada biaya produksi domestik.
Menurut Faisal, struktur industri domestik harus diperkuat agar manufaktur nasional lebih tahan terhadap tekanan eksternal. Ia menilai sektor yang perlu diperkuat antara lain petrokimia berbasis nafta, tekstil dan produk tekstil, serta besi dan baja.
Petrokimia berbasis nafta penting diperkuat karena menjadi bahan baku utama industri tekstil dan plastik, sedangkan industri besi dan baja dibutuhkan untuk menopang rantai pasok manufaktur dan konstruksi domestik.
Adapun industri tekstil dan produk tekstil dinilai strategis karena menyerap sekitar 3,76 juta tenaga kerja atau sekitar 19 persen dari total tenaga kerja manufaktur nasional.
“Pemerintah perlu memberikan ruang untuk industri manufaktur bergerak lebih baik dan meringankan beban daripada peningkatan biaya produksi serta menjaga akses pasar domestik,” ungkap Faisal.
CORE mengusulkan dukungan kebijakan berupa relaksasi bea masuk bahan baku strategis, percepatan restitusi pajak, dan subsidi input bagi industri yang sehat tetapi tertekan biaya.
Sejalan dengan itu, pemerintah terus mendorong penguatan struktur industri nasional melalui kebijakan hilirisasi dan pengembangan industri bahan baku domestik, termasuk pada sektor petrokimia dan baja untuk memperkuat rantai pasok industri nasional.
Pemerintah juga menargetkan investasi hilirisasi mencapai sekitar Rp3.800 triliun untuk sejumlah komoditas prioritas guna memperkuat rantai pasok industri nasional dan meningkatkan nilai tambah di dalam negeri.
Sementara Ketua Umum PP APPMBGI, Abdul Rivai Ras mengatakan diperlukan langkah efisiensi yang terukur agar kualitas menu dan kandungan gizi yang diterima peserta MBG bisa tetap terjaga.
“Efisiensi hari distribusi justru menjadi langkah preventif agar kualitas program tetap terjaga. Jika tidak dilakukan sekarang, risiko yang muncul bukan hanya pembengkakan defisit anggaran, tetapi juga potensi penurunan kualitas gizi makanan yang diterima anak-anak. Ini menyangkut masa depan generasi bangsa,” katanya.