Suara.com - Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja BUMN Bersatu Arief Poyuono menilai ketiga calon presiden saat ini berupaya untuk mendapatkan energi atau citra diri yang berkaitan dengan Pangeran Diponegoro.
Hal itu terbukti dari bakal calon presiden dari Koalisi Perubahan untuk Persatuan (KPP) Anies Baswedan yang menerima tongkat Pangeran Diponegoro dari Belanda beberapa waktu lalu.
Anies menceritakan bahwa tongkat Pangeran Diponegoro itu diterima dia pada 15 Februari 2015 saat dia masih menjabat sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud).
Selain itu, upaya untuk mengaitkan citra dengan Pangeran Diponegoro juga dilakukan oleh bakal calon presiden dari Koalisi Kebangkitan Indonesia Raya (KKIR) Prabowo Subianto.
Sebabnya, kata Arief, Prabowo sempat mengusulkan agar makam Pangeran Diponegoro di Makassar bisa dipindahkan ke Yogyakarta. Namun, usulan itu akhirnya ditolak oleh pihak keluarga dan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) Sultan Hamengkubuwono X.

Terakhir, bakal calon presiden yang diusung oleh PDIP Ganjar Pranowo juga disebut melakukan upaya membangun citra dengan berziarah ke makam Pangeran Diponegoro saat berkunjung ke Makassar.
“Kalau saya lihat, tiga tokoh capres ini sedang ngalap atau mencari ya energinya dari Pangeran Diponegoro. Anies memegang tongkat Diponegoro, Prabowo minta kuburannya Diponegoro dipindah ke Jogja, Ganjar kemarin ziarah ke Makassar,” kata Arief melalui siniar yang disiarkan oleh Total Politik, dikutip pada Selasa (8/8/2023).
Menurut Arief, upaya ini dilakukan untuk meneladani sikap berani Pangeran Diponegoro demi kepentingan masyarakat. Jika dikaitkan dengan kondisi saat ini, Arief situasi negara sekarang lebih dikuasai oleh oligarki, oleh penjajah ekonomi, menghasilkan tambang banyak tetapi rakyatnya justru mengalami kemiskinan daerah-daerah tambang. Untuk itu, lanjut dia, Indonesia membutuhkan sosok presiden dengan semangat seperti Pangeran Diponegoro.
“Secara alami, secara energi yang kuat banget bahwa Indonesia setelah Jokowi butuh pemimpin yang energi sifatnya kayak Diponegoro,” ujar Arief.
“Mengenai spirit perjuangannya, spirit pembelaannya terhadap petani, spirit pembelaannya terhadap rakyat kecil, Diponegoro tidak diragukan karena dialah pangeran yang memberontak pada waktu itu dengan adanya kesemena-menaan Belanda,” tambah dia.