Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menyoroti Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang menyebut cawe-cawe adalah kewajiban moral presiden.
Adapun Jokowi mengatakan bahwa ia bertanggung jawab menjaga agar proses pergantian kepemimpinan secara nasional, yaitu Pemilu Serentak 2024 bisa berjalan baik tanpa ada riak yang membahayakan negara.
Hal tersebut ditanggapi Gigin Praginanto melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Gigin Praginanto menegaskan yang membahayakan justru pemimpin yang gagal hentikan maraknya korupsi.
Gigin Praginanto juga membeberkan 4 hal lainnya yang menurutnya membahayakan. Termasuk pemimpin suka membangun infrastruktur asal jadi, hingga membuat kasus pengangguran tak kunjung reda.
"Yang membahayakan itu pemimpin yang gagal menghentikan maraknya korupsi, suka membangun infrastruktur asal jadi sehingga Logistics Performance Index rontok, merontokkan demokrasi, membiarkan utang menggunung, dan membuat pengangguran tak kunjung reda," tutur Gigin Praginanto dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @giginpraginanto, Rabu (7/6).
Sementara itu, Joowi baru-baru ini menegaskan kembali soal alasannya cawe-cawe di Pilpres 2024, yang dia sebut demi negara.
Hal itu dijelaskan Jokowi pada saat memberi sambutan di Rakernas III PDIP di Lenteng Agung, Jakarta, Selasa (6/6).
"Sudah saya sampaikan bahwa saya cawe-cawe itu menjadi kewajiban moral, menjadi tanggung jawab moral saya sebagai presiden dalam masa transisi kepemimpinan nasional 2024," ucap Jokowi.
"Masa riak-riak yang membahayakan bangsa saya suruh diam, kan enggaklah," sambungnya.
Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengaku akan cawe-cawe terkait Pilpres 2024 demi bangsa dan negara dalam arti yang positif.
Jokowi mengatakan bahwa alasannya itu lantaran Indonesia hanya memiliki waktu 13 tahun ke depan demi menjadi negara maju.
Untuk saat ini, Jokowi menyebut Indonesia ada di posisi upper middle income. Sedangkan untuk menjadi negara maju, pendapatan per kapita Indonesia harus berada di kisaran USD 10.000 per tahun.
"Kita ini sekarang ada di middle income walaupun di level upper tapi kita masih di level middle income. Nah untuk keluar dari middle income itu, untuk jadi negara maju itu perolehan pendapatan per kapitanya minimal 10 ribu," kata Jokowi.
"Untuk bisa keluar kita cuma punya waktu 13 tahun dan itu sangat-sangat tergantung pada calon presiden di masa yang akan datang yang akan bisa membawa Indonesia ke next level, karena alasan itulah kemudian saya akan cawe-cawe untuk itu," imbuh Jokowi.