Pengamat kebijakan publik Gigin Praginanto menyoroti bakal calon presiden (bacapres) dari PDI Perjuangan (PDIP) Ganjar Pranowo yang menilai investasi harus terus didorong agar ekonomi terus berkembang pasca-pandemi Covid-19.
Hal tersebut ditanggapi Gigin Praginanto melalui akun Twitter pribadi miliknya. Dalam cuitannya, Gigin Praginanto menyinggung soal adanya ketidaktahuan jika birokrasi itu memang mempersulit investasi.
"Kok baru sekarang. Selama ini gak tahu kalau birokrasi mempersulit investasi," ujar Gigin Praginanto dikutip Suara Liberte dari akun Twitter pribadi miliknya @giginpraginanto, Jumat (14/7).
Sementara itu, dilansir dari Kompas, Ganjar Pranowo menegaskan hal tersebut dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) XVI Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) yang berlangsung di Makassar, Sulawesi Selatan, Kamis (13/7/2023).
"Cerita penanaman modal, waktu Covid kemarin kurang (investasi di Jawa Tengah) maka targetmu harus kamu tingkatkan karena sekarang sudah tidak ada yang pakai masker lagi. Apa artinya? sudah tidak ada alasan lagi," ujarnya dikutip dari Youtube Kompas.com.
"Investasi mesti didorong, tidak hanya mempermudah izin, tapi menjemput pasar. Tidak lagi pasar dalam negeri tetapi masuk luar negeri," sambung dia.
Ganjar yang masih menjabat sebagai Gubernur Jateng itu menilai salah satu cara menggenjot investasi yakni dengan menyasar investor dari Afrika.
Selama ini kata dia, investasi asing yang kerap dilirik rata-rata berasal dari Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China. "Apa itu pasar tradisional? Biasa kita ke Amerika, ke Eropa, ke Tiongkok. Kenapa kita tidak mencoba ke Afrika? Kenapa kita tidak membuat suatu kreasi investasi kerja sama di sana?," ujarnya.
Ganjar mengaku sampai memberikan nomor kontak para duta besar negara lain kepada kepala dinas di Jawa Tengah. Tujuannya tak lain agar investasi asing masuk ke Jateng.
"Maka kepala dinas saya bapak/ibu saya kasih nomor telepon duta besar dan kita biasakan mereka berkomunikasi langsung dengan para duta besar. Sehingga pasar-pasar tradisional (AS, China, Eropa) mulai kita tinggalkan," ucap Ganjar.
Adapun pemerintah pusat menargetkan nilai investasi tahun ini sebesar Rp 1.400 triliun. Angka itu lebih tinggi dari target investasi tahun sebelumnya yakni Rp 1.200 triliun.