Terlalu Muda Punya Anak Bisa Picu Depresi

Esti Utami Suara.Com
Senin, 12 Mei 2014 | 17:41 WIB
Terlalu Muda Punya Anak Bisa Picu Depresi
Ilustrasi ayah dan anak (Foto: shutterstock)

Suara.com - Apakah Anda sedang merencanakan memiliki keturunan? Jika ya, mungkin Anda perlu menyimak hasil penelitian yang dilakukan Universitas Northwestern , Chicago, AS ini.

Penelitian yang dipimpin Dr Craig Garfield itu menemukan,  lelaki yang terlalu cepat menjadi ayah akan lebih mudah depresi. Dan tingkat depresi tertinggi biasanya terjadi pada lima tahun pertama setelah si kecil lahir.

Tapi Garfield mengingatkan hasil penelitian ini tak bisa diartikan, menjadi ayah muda berarti ditakdirkan depresi  secara klinis. Karena penelitian ini hanya menunjukkan hubungan antara menjadi ayah terlalu muda dan kecenderungan mengalami depresi.

“Ini hanya menunjukkan kapan kecenderungan depresi itu muncul," jelas Garfield yang sudah lama mendalami psikologi anak.

Untuk penelitian ini, Garfield dan timnya menggunakan data dari 20.000 pasangan muda yang memiliki anak pada tahun 1990an. Setiap beberapa tahun, para partisipan diminta mengisi kuosioner yang dapat menjajagi gejala depresi.  Pertanyaan yang diajukan seperti apakah merasa bahagia, lelah atau tak suka dengan kondisi mereka saat ini.

Menurutnya, sudah banyak penelitian yang mengungkap sindrom pascamelahirkan pada kaum Hawa. Tapi penelitian yang mengungkap dampak psikologis kelahiran seorang anak pada laki-laki masih sangat terbatas.

Dan penelitian ini mengungkap 5-10 persen responden yang baru saja dikarunai keturunan mengalami depresi secara klinis. Parahnya, ketika orang tua mengalami depresi, si kecil cenderung memiliki masalah perilaku. Seorang anak yang dibesarkan orang tua yang depresi cenderung kesulitan membaca dan mengalami gangguan ketrampilan bahasa.

"Ketika orangtua bermasalah, si anak juga ikut bermasalah.  Jadi kesehatan mental baik ayah maupun ibu, sangat penting  bagi pertumbuhan anak," jelasnya.

Pada ibu muda, penyebab depresi lebih mudah ditebak. Depresi muncul karena stress menangani anak dan perubahan biologis di tubuh mereka akibat hamil dan melahirkan.

Tubuh lelaki memang tak terpengaruh oleh lahirnya si kecil, tapi hidup mereka berubah total.  Eric Lewandowski, seorang pakar dari Pusat Penelitian Anak, Langone Medical Center, New York menduga depresi pada lelaki yang baru memiliki anak, bisa diakibatkan masalah finansial selain  juga kehidupan rumah tangganya.

"Masa transisi ini mungkin sedikit sulit, apalagi jika mereka masih terlalu muda," ujar Lewandowski.

Baik Garfield maupun Lewandowski sepakat, membesarkan anak adalah kerja tim. "Dan memahami bagaimana lelaki menghadapi masa transisi ini juga penting," ujar Garfield.

Lewandowski mengingatkan pentingnya bagi calon orang tua baru, untuk menyiapkan diri menghadapi kenyataan menjadi orang tua. "Tak selamanya indah, kadang sulit," ujarnya.(easygoodhealth.com)

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI