Suara.com - Kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi kembali mengingatkan bahwa kebutuhan energi masyarakat masih sangat bergantung pada dinamika pasar global.
Mulai Rabu (10/6/2026), harga Pertamax (RON 92) naik menjadi Rp16.250 per liter dari sebelumnya Rp12.300. Sementara itu, Pertamax Green 95 naik menjadi Rp17.000 per liter dari Rp12.900 per liter.
Pemerintah menegaskan bahwa kedua jenis BBM tersebut tidak memperoleh subsidi dari APBN, sehingga penyesuaian harga mengikuti kondisi pasokan serta harga keekonomian global. Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth MV Dumatubun, mengatakan penyesuaian dilakukan untuk menjaga keberlangsungan penyediaan energi dan distribusi BBM berkualitas.
Kenaikan harga ini tidak hanya berdampak pada biaya transportasi, tetapi juga menegaskan tantangan yang lebih besar: bagaimana membangun sistem energi yang lebih tahan terhadap gejolak eksternal.
Dalam diskursus transisi energi, perhatian kerap tertuju pada teknologi berskala besar seperti kendaraan listrik atau energi terbarukan. Namun di tingkat lokal, sejumlah inisiatif mencoba menawarkan jawaban dari sumber yang selama ini justru dianggap sebagai masalah: sampah.
Ketika sampah tidak lagi berakhir di tempat pembuangan
Salah satu contoh datang dari Kertabumi Recycling Center yang mengembangkan teknologi pirolisis untuk mengolah limbah perkotaan menjadi bahan bakar.
Pendiri sekaligus CEO Kertabumi Recycling Center, Ikbal Alexander, mengatakan gagasan awalnya bukan sekadar mendaur ulang plastik menjadi produk turunan, tetapi mengolahnya menjadi kebutuhan yang lebih mendasar.
“Awal mulanya adalah bagaimana mendaur ulang plastik menjadi produk dasar yang dibutuhkan masyarakat, bukan sekadar jadi tas atau dompet,” ujarnya.
Sederhananya, pirolisis adalah proses mengolah sampah dengan cara dipanaskan pada suhu tinggi di ruang tertutup tanpa oksigen. Melalui proses ini, plastik akan terurai menjadi senyawa yang lebih sederhana dan menghasilkan minyak yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
Kertabumi memilih fokus pada limbah popok sekali pakai, jenis sampah yang selama ini banyak berakhir di tempat pembuangan akhir atau mencemari aliran sungai. Menurut Ikbal, hampir setiap keluarga dengan anak menggunakan popok, tetapi pilihan pengolahannya masih sangat terbatas.
“Popok adalah jenis sampah yang hampir 100 persen hanya menumpuk di TPA atau dibuang ke sungai. Belum ada solusi untuk mengolahnya,” katanya.
Dalam praktiknya, material dipilah berdasarkan jenis sebelum diproses menggunakan mesin pirolisis.
Bukan pengganti BBM, tetapi bagian dari ketahanan energi
Meski menghasilkan bahan bakar, pendekatan seperti ini belum ditujukan untuk menggantikan konsumsi BBM nasional. Namun, inisiatif tersebut menunjukkan pendekatan lain dalam transisi energi: menghubungkan persoalan lingkungan dengan kebutuhan energi melalui ekonomi sirkular.
Bagi Kertabumi, teknologi saja tidak cukup. Ikbal menilai perubahan perilaku tetap menjadi bagian penting dari solusi.
“Campaign dan edukasi merupakan instrumen penting dalam behavior change. Tapi yang tidak kalah penting adalah solusi nyata,” ujarnya.
Penulis: Vicka Rumanti