Persembahan Batik yang Tak Biasa dari Sancaya Rini

Esti Utami | Suara.com

Senin, 02 Maret 2015 | 13:07 WIB
Persembahan Batik yang Tak Biasa dari Sancaya Rini
Sancaya Rini dari Kanawida (suara.com)

Ketika suara.com meminta waktu untuk bertemu,  perempuan bernama lengkap Sancaya Rini ini sedang sibuk menyiapkan koleksi terbarunya untuk ditampilkan di gelaran Indonesia Fashion Week 2015. Peraih "KEHATI Award 2009" ini ikut mencelup sendiri batik-batik bermotif batik kontemporer koleksinya.
    
Dan, saat ditemui di sela pekan mode akhir pekan lalu, perempuan yang biasa disapa mbak Rini ini sedang berbincang santai bersama sejumlah anak muda yang ingin tahu lebih banyak tentang batik dan pewarna alami. Di belakangnya, berderet busana siap pakai berwarna biru koleksi terbaru "Kanna", label pakaian jadi produknya yang menyasar anak muda.  

"Saya ingin menularkan kecintaan batik pada anak muda," ujarnya perempuan yang sore itu membalut tubuhnya dengan tunik biru yang dipadu dengan kain tradisional hasil tenunan perajin dari Baduy berwarna senada.

Sancaya Rini merupakan salah satu pengrajin sekaligus pelestari batik di Indonesia. Ia juga dikenal sebagai perintis penggunaan kembali bahan  pewarna alami. Dan setelah lebih dari 10 tahun ia menjalankan usahanya, sarjana ilmu pertanian dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini masih semangat untuk menularkan kecintaannya pada batik dan kelestarian lingkungan.

Dalam perbincangan yang sesekali diselingi interupsi pengunjung yang ingin melihat karyanya sore itu, ibu empat anak ini tak bisa menyembunyikan rasa gusarnya, saat mengetahui suku Baduy pun mulai meninggalkan pewarna alami dan beralih ke pewarna sintetis dengan alasan demi kepraktisan. Maka ia rela mencelupkan benang untuk para penenun dari  Baduy untuk selanjutnya ditenun menjadi kain.

Diakuinya, proses pewarnaan batik dengan menggunakan pewarna alami memang membutuhkan ketekunan dan kesabaran. Prosesnya lebih lama dibandingkan dengan pewarna kimia, serta dibutuhkan sederet persyaratan lainnya untuk mendapatkan batik dengan warna alami yang bagus.

Untuk mendapatkan pewarna, perempuan kelahiran 11 Agustus 1959 ini, harus terlebih dahulu mengumpulkan bahan yang dibutuhkan, kemudian merebus semua bahan yang dikumpulkan, kemudian diendapkan minimal  semalam. Hasil saringan rebusan tersebut yang  dijadikan sebagai pewarna alami.

Bahan yang digunakan untuk pewarna alami (suara.com)

Jenis kain yang digunakan juga tak bisa sembarangan. Harus kain yang dibuat dari serat alami seperti katun, rami, sutera agar pewarna alaminya tahan lama menempel di kain. Dan, pengolahan warna akan menghasilkan warna yang berbeda. Namun kondisi inilah yang membuatnya selalu tertantang untuk menemukan seseuatu yang baru. Makanya, ia tak pernah bosan apalagi lelah untuk terus bereksperimen.

"Dan hasilnya kadang sangat mengejutkan.  Kejutan-kejutan inilah yang membuat saya untuk selalu bersyukur tinggal di Indonesia. Kita dianugerahi kekayaan alam yang beragam dan luar biasa kaya," ujarnya.

Perempuan yang memilih jalan hidup secara sederhana ini melanjutkan, di workshop sekaligus kediamannya yang asri di kawasan Pamulang,  Tangerang Selatan selalu tersedia berbagai macam  daun, kulit kayu, akar, bunga atau kulit buah-buahan untuk bahan eksperimen. Dia antara lain memanfaatkan biji, daun, buah,  kulit buah, kulit kayu, kulit kayu hingga rumput-rumputan menjadi pewarna alami.

Diantaranya daun mangga, kecapi, bixa, daun tin, daun pohon jati, kenari, klengkeng, kulit kayu pohon salam, akasia, pinus, secang, indigo. Rini juga memanfaatkan buah-buahan yang dibuang di pasar swalayan, seperti kulit rambutan, mangga, manggis, dan mahkota dewa. Bahkan daun alpukat, mengkudu, dan mimosa, umbi bit, kelopak kembang sepatu, buah jengkol, daun nangka dan kulit batang nangka juga media eksperimen, perempuan yang mempelajari ilmu mewarnai kain secara otodidak ini.
   
"Alam kita sangat kaya, tapi banyak dari kita yang menyia-nyiakannya dan memilih pewarna kimia yang jelas-jelas merusak alam," sesalnya. 

Koleksi batik dengan pewarna alami dari Kanawida. (suara.com)

Rini mengaku mengenal batik dari sang nenek. Di  masa lalu, sang nenek sering membuat sendiri kain batik untuk keperluan hajatan keluarga, seperti acara sunatan, kawinan dan berbagai upacara  lainnya. Namun minat Rini pada batik tak serta merta muncul.

Minat Rini untuk membatik baru muncul saat ia sudah beranjak dewasa. Tepatnya pada tahun 2000an, saat ia hijrah ke Jakarta setelah sebelumnya bertahun-tahun tinggal di Lhokseumawe, Aceh.  Rini yang saat itu adalah ibu rumah tangga, ingin mengisi waktu luangnya dengan belajar membatik. Sang suami tak hanya mendukung niat Rini, tapi ia juga memberikan tantangan agar dalam merintis  usahanya, Rini tidak menggunakan bahan pewarna  kimia, yang limbahnya dapat merusak lingkungan.

Tantangan ini membuat Rini bersemangat mempelajari pewarnaan alami. Dia datang ke Musium Tekstil di Tanah Abang, Jakarta, untuk mendalami pewarnaan alami terutama batik, lalu mengembangkannya dengan mengambil bahan-bahan yang ada di sekitar rumahnya, di Pamulang, Tangerang Selatan.

Awalnya ia hanya menggunakan pewarna secang, indigo dan mahoni. Secang untuk warna merah, indigo warna biru keunguan dan mahoni untuk kuning kecokelatan. Lantas dalam perjalannya ia terus melakukan percobaan sehingga hapal di luar kepala bahan tumbuhan serta warna yang dihasilkan. Kini Rini tak hanya menekuni batik, ia juga mencoba berbagai teknik pewarnaan lain, seperti teknik ikat alias jumputan.

"Meski warna yang dihasilkan tak persis seperti perkiraan, tapi  secara garis besar bisa disebutkan seperti itu,"  terangnya.

Ia menambahkan, batik yang menggunakan pewarna  alami memiliki kekhasan. Warnanya tak terlalu mencolok dan hasil pewarnaannya tak ada yang benar-benar sama. Tapi keunikan inilah yang justru membuat batik dengan pewarna alami banyak dicari orang.

Meski diakuinya, tanpa passion tak mudah menjalankan  usaha ini. Ia mengisahkan di awal usahanya, ia sempat mempekerjakan 20 orang untuk bekerja di workshop "Creative Kanawida" dan "Kanna" miliknya.  Ia juga menggandeng pengrajin dari berbagai daerah untuk memasok bahan batik dari berbagai serat, seperti serat nanas, rami dan sutera.

Namun, kini tinggal menyisakan enam orang pekerja yang mengerjakan pembatikan, mencelup hingga menjahit.  Rini juga mengeluhkan bahan kain yang makin sulit didapat. Ia mencontohkan, kain dari serat nanas yang kini sulit didapat karena tak banyak orang yang telaten menyambung serat secara manual.

Sancaya Rini tak segan membagi ilmunya pada anak muda. (suara.com)

Namun di tengah segala kesulitan ini, Rini kekeuh untuk melanjutkan usahanya. Bahkan ia bermimpi batik dengan pewarna alami, tak hanya produknya, akan makin diterima anak muda.

"Mimpi saya, anak muda bangga mengenakan batik serta produk lokal lainnya yang ramah lingkungan," ujarnya mengakhiri perbincangan yang berlangsung di sela riuhnya penyelenggaraan pekan mode ini.



Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔

Terkait

Purbaya Borong Kain Batik di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Sebut Pasar Tradisional Tidak Mati Suri

Purbaya Borong Kain Batik di Pasar Beringharjo Yogyakarta, Sebut Pasar Tradisional Tidak Mati Suri

News | Selasa, 17 Maret 2026 | 17:05 WIB

Menjahit Sukses Bersama BRI, Pekatan Batik Mendunia Lewat Sentuhan Modern

Menjahit Sukses Bersama BRI, Pekatan Batik Mendunia Lewat Sentuhan Modern

Bri | Minggu, 15 Maret 2026 | 12:39 WIB

Detail Tersembunyi di Jersey Baru Timnas Indonesia, Erick Thohir Ungkap Fakta Menarik!

Detail Tersembunyi di Jersey Baru Timnas Indonesia, Erick Thohir Ungkap Fakta Menarik!

Bola | Jum'at, 13 Maret 2026 | 20:40 WIB

5 Rekomendasi Gamis Jodha Akbar Beragam Motif: Bunga sampai Batik

5 Rekomendasi Gamis Jodha Akbar Beragam Motif: Bunga sampai Batik

Lifestyle | Sabtu, 28 Februari 2026 | 12:47 WIB

Dari Perca Batik ke Ikon Ramadan: Kisah Peci Jogokariyan Tembus Pasar Mancanegara

Dari Perca Batik ke Ikon Ramadan: Kisah Peci Jogokariyan Tembus Pasar Mancanegara

News | Kamis, 26 Februari 2026 | 17:46 WIB

Diversifikasi Kearifan Lokal Desa Citengah dalam Pengembangan Desain Batik

Diversifikasi Kearifan Lokal Desa Citengah dalam Pengembangan Desain Batik

News | Minggu, 15 Februari 2026 | 21:29 WIB

Baju Jeffrey Epstein di Bali Ramai Jadi Perdebatan, Pakai Batik Bapak Atau Versace?

Baju Jeffrey Epstein di Bali Ramai Jadi Perdebatan, Pakai Batik Bapak Atau Versace?

Lifestyle | Kamis, 05 Februari 2026 | 12:13 WIB

Spesial Imlek, Brand Fashion ini Sulap Porselen Klasik Tiongkok Jadi Batik Nusantara yang Memukau

Spesial Imlek, Brand Fashion ini Sulap Porselen Klasik Tiongkok Jadi Batik Nusantara yang Memukau

Lifestyle | Selasa, 03 Februari 2026 | 11:32 WIB

4 Fakta Aturan Batik Korpri Terbaru 2026: Jadwal dan Siapa yang Wajib Pakai

4 Fakta Aturan Batik Korpri Terbaru 2026: Jadwal dan Siapa yang Wajib Pakai

News | Rabu, 28 Januari 2026 | 14:32 WIB

5 Fakta Pramugari Gadungan yang Viral, Menyamar Pakai Seragam Berujung Terciduk di Soetta

5 Fakta Pramugari Gadungan yang Viral, Menyamar Pakai Seragam Berujung Terciduk di Soetta

Lifestyle | Kamis, 08 Januari 2026 | 14:26 WIB

Terkini

Contoh Ikrar Syawalan Bahasa Jawa Singkat dan Artinya, Bikin Momen Halalbihalal Makin Khidmat

Contoh Ikrar Syawalan Bahasa Jawa Singkat dan Artinya, Bikin Momen Halalbihalal Makin Khidmat

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 20:42 WIB

Waspada! 5 Ciri Kolesterol Tinggi pada Wanita yang Sering Diabaikan Usai Lebaran

Waspada! 5 Ciri Kolesterol Tinggi pada Wanita yang Sering Diabaikan Usai Lebaran

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 19:59 WIB

Jadwal Lengkap Ganjil Genap, One Way, dan Contra Flow Tol Arus Balik Lebaran 2026

Jadwal Lengkap Ganjil Genap, One Way, dan Contra Flow Tol Arus Balik Lebaran 2026

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 19:02 WIB

Konsumen Korea Selatan Mulai Tinggalkan Plastik, Kemasan Aluminium Jadi Pilihan Baru?

Konsumen Korea Selatan Mulai Tinggalkan Plastik, Kemasan Aluminium Jadi Pilihan Baru?

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 17:20 WIB

8 Tips Kembali Produktif dan Semangat Kerja Usai Libur Panjang Lebaran

8 Tips Kembali Produktif dan Semangat Kerja Usai Libur Panjang Lebaran

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 17:00 WIB

7 Tinted Sunscreen Terbaik untuk Hilangkan Flek Hitam Membandel

7 Tinted Sunscreen Terbaik untuk Hilangkan Flek Hitam Membandel

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 16:35 WIB

7 Penyakit yang Sering Muncul Pasca Lebaran dan Cara Sederhana Mengatasinya

7 Penyakit yang Sering Muncul Pasca Lebaran dan Cara Sederhana Mengatasinya

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 16:10 WIB

5 Rekomendasi Sunscreen untuk Anak Usia 12 Tahun yang Aman

5 Rekomendasi Sunscreen untuk Anak Usia 12 Tahun yang Aman

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 15:25 WIB

10 Sepatu Adidas Diskon di Sneakers Dept, Seri Samba Jadi Ratusan Ribu Rupiah

10 Sepatu Adidas Diskon di Sneakers Dept, Seri Samba Jadi Ratusan Ribu Rupiah

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 15:15 WIB

Tak Banyak yang Tahu! Diam-diam Spons Cuci Piring Melepaskan Mikroplastik: Adakah Solusinya?

Tak Banyak yang Tahu! Diam-diam Spons Cuci Piring Melepaskan Mikroplastik: Adakah Solusinya?

Lifestyle | Senin, 23 Maret 2026 | 15:10 WIB