Menguak Filosofi Kue Tradisional Nusantara

Esti Utami Suara.Com
Selasa, 16 Agustus 2016 | 13:36 WIB
Menguak Filosofi Kue Tradisional Nusantara
Ilustrasi modifikasi kue awuk-awuk. (suara.com/Gulaku)

Kekayaan kuliner Nusantara, sudah tak diragukan lagi dan ini menjadi salah satu bagian yang tidak terpisahkan dari budaya luhur bangsa Indonesia. Kue-kue tradisional Indonesia kental dengan adat istiadat dan memiliki filosofi tersendiri mulai dari bahan yang digunakan hingga cara penyajiannya.

Setiap kue memiliki ciri khas dan keunikan masing-masing yang menjadi bagian dari kearifan lokal suatu daerah dan sebagai bagian  kekayaan kuliner Indonesia.  

Kue putri kandis dari Jambi yang masih asing di telinga masyarakat misalnya. Kue ini serupa kue lapis, rasanya manis dan teksturnya lembut, proses pembuatannya harus telaten karena berlapis-lapis.  Kue ini biasanya disajikan pada acara adat atau spesial di Jambi.

Dan dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan RI ke-71, Gulaku kembali menggelar acara Gebrak Pasar dan edukasi kepada komunitas perempuan di sejumlah kelurahan dan kecamatan di Jabodetabek. Program yang berlangsung Agustus-September 2016 ini merupakan periode kedua Jajanan Manis.

Dan, kali ini Gulaku akan memperkenalkan kue khas berbagai daerah, diantaranya kue wingko babat (Jawa Tengah), kue baruasa (Makassar), kue lepet jagung (Jawa Timur), kue lapek bugis (Minang), kue bingka pandan (Kalimantan Selatan), dan kue pepe asli Betawi (Jakarta).  

”Sudah saatnya jajanan pasar atau kue tradisional  diangkat menjadi ikon budaya bangsa,” kata Fiter Cahyono, Communication Officer Gulaku di sela acara Gebrak Pasar, Senin (15/8/2016) di pasar Malaka, Jakarta Timur.

Total ada 25 ragam resep jajanan manis yang dilengkapi dengan video cara pembuatan hingga penyajiannya yang dapat dilihat melalui website www.resepgulaku.com sehingga masyarakat bisa mengenal lebih dekat jajanan manis khas Nusantara.

Dalam acara ini, juga diselenggarakan demo masak jajanan manis kue Bingka, khas Banjar Kalimantan Selatan. Kue ini dipilih, karena beberapa daerah semisal Palembang, Bengkulu, Jambi juga memiliki kue serupa dengan kue bingka asal Banjar ini.

"Hanya perbedaannya pada warna dan tambahan bahan, misalkan di Palembang kita mengenal kue 8 jam, perbedaannya kue tersebut berwarna coklat. Sedangkan Bengkulu dan Jambi, mereka menggunakan rempah, berbeda lagi dengan beberapa daerah Kalimantan lainnya, ada tambahan seperti kentang dan pisang," terang Yeni.
 
Mei lalu Gulaku juga menggelar acara serupa dengan menggandeng sekitar 1000an ibu. Hal ini sebagai bentuk kepedulian terhadap pelestarian makanan tradisional dan mendukung gerakan Ayo Kembali ke Pasar Tradisional.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI