Sabda PS, Mimpinya Membawa Pendidikan Indonesia ke Next Level

Vania Rossa

Senin, 21 Oktober 2019 | 10:39 WIB
Sabda PS, Mimpinya Membawa Pendidikan Indonesia ke Next Level
Sabda PS, Founder, CEO, dan Guru di Zenius Education. (Dok. Zenius Education)

Partner Satu Misi

Sabda tak sendirian mendirikan Zenius. Di sampingnya ada Wisnu Subekti, yang tak lain adalah sang adik, yang saat ini menjabat sebagai President Zenius Education.

Wisnu Subekti, President of Zenius Education. (Suara.com/Vania)
Wisnu Subekti, President of Zenius Education. (Suara.com/Vania)

"Perbedaan umurku dengan Sabda itu 5 tahun. Dia adalah salah satu orang pertama yang menginspirasi saya. Dulu waktu Sabda SMA, saya masih SD, setiap pulang sekolah Sabda selalu cerita apapun tentang sekolahnya. Dan saya selalu senang mendengar cerita-ceritanya. Jadi concern-concernya dia banyak yang nyangkut ke saya," kata Wisnu ketika ditanya kenapa ia memiliki pemahaman yang sama dengan sang kakak soal pendidikan di Indonesia.

Setelah kuliah, Wisnu pun ikut merasakan keresahan yang sama soal pendidikan di Indonesia, seperti halnya yang dirasakan Sabda. Hanya saja, Wisnu lebih menyoroti betapa banyak orang Indonesia yang menjadikan sains sebagai sebuah momok yang menakutkan. "Padahal aslinya, sains itu sangat penting untuk dasar seseorang bisa berpikir logis," katanya.

Sebagian besar misi yang dikemukakan Sabda untuk Zenius sejalan dengan apa yang ada di kepala Wisnu. Hanya saja, Wisnu lebih ingin menekankan agar anak-anak Indonesia sejak kecil sudah merasakan serunya belajar. tujuannya supaya ke depannya mereka jadi anak yang pembelajar. Menurut Wisnu, target seorang pengajar adalah bukan membuat muridnya mengerti saat dia diajarkan, tetapi dia harus bisa membakar semangat muridnya agar seterusnya mau belajar. "Ketika muridnya tidak tumbuh menjadi manusia yang suka belajar, menurut saya, pengajar itu gagal," katanya.

Bukan tanpa alasan pula jika tutor-tutor di Zenius saat ini lebih banyak direkrut dan ditraining di bawah pengawasan langsung Wisnu. "Untuk bisa bikin orang suka belajar, kita harus lihat dulu apakah si calon tutor ini juga suka belajar, dan itu bisa terlihat dari motivasi mereka. Kita selama ini suka membagi-bagi guru matematika, guru sains, guru bahasa, dan sebagainya. Padahal, anak kan tidak belajar satu-satu itu. Kita belajar semua. Guru yang suka belajar, bukan hanya paham satu bidang, tapi juga tertarik pada materi yang lain. Itu yang saya lihat dari calon tutor-tutor di Zenius," kata Wisnu.

Intinya, untuk bisa membuat anak-anak tertarik belajar, seorang pengajar haruslah memiliki ketertarikan pada ilmu pengetahuan. Karena menurut Wisnu, bagaimana mungkin menciptakan anak yang tertarik dengan ilmu pengetahuan kalau kita sendiri yang mengajarkan tak suka pada ilmu pengetahuan.

"Pengajar yang punya ketertarikan pada ilmu pengetahuan, besar kemungkinan mampu mengajarkan dengan enak ke murid-muridnya, meski tidak semua begitu," kata Wisnu.

Pendidikan Digital vs Pendidikan Konvensional

baca juga

Dulu, ketika ia berbincang dengan Pak Fuad Hasan, mantan menteri tersebut memprediksi misi Sabda baru akan terealisasi dalam jangka waktu 30 tahun. "Tapi, melihat di usia Zenius yang saat ini 15 tahun, sepertinya mencapai tahap masyarakat Indonesia cerdas seutuhnya bisa lebih cepat dari prediksi Pak Fuad Hasan," kata Sabda.

Indikatornya, menurut Sabda, dari data jumlah akses terhadap pendidikan digital, ketertarikan masyarakat terhadap pembelajaran online yang meningkat. Ternyata, orang tidak takut dengan efisiensi, tapi masalahnya, banyak orang justru takut dari segi efektivitas. Mereka bertanya, apakah benar bisa belajar dari mobile?

Bicara mengenai pendidikan digital, ada banyak kelebihan yang ditawarkan. "Kalau ada satu guru bagus banget, cara mengajarnya oke banget, berapa banyak murid, sih, yang bisa dia ajarkan di kelas biasa? Tapi coba kalau di-switch ke pendidikan digital, cara mengajarnya divideokan, bisa diakses oleh siapa saja, bayangkan berapa banyak murid yang bisa ia jangkau," kata Sabda.

Itulah kelebihan pendidikan digital, materi tentang apapun selalu bisa diakses dari manapun dan kapanpun.

Tapi, tidak berarti Sabda mengecilkan arti pendidikan konvensional. "Begini, pendidikan itu kompleks dan luas. Saya membagi pendidikan itu menjadi kognitif dan afektif. Pendidikan digital mungkin bisa mengasah sisi kognitif, kemampuan otak seseorang. Tapi, pendidikan digital tidak bisa meraih sisi afektif yang mengajarkan soal kasih sayang atau empati. Jadi ini tetap perlu didapat dengan ketemu teman, curhat langsung ke guru, hal-hal yang dilakukan dengan pendidikan konvensional," jelasnya

Menurut Sabda, selama ini guru mungkin sibuk mengejar kurikulum, sehingga waktu untuk mengajar pendidikan afektif ke murid-muridnya jadi berkurang. Itu sebabnya, ia berpendapat bahwa kegiatan pengajaran yang berulang-ualng setiap tahun sesungguhnya bisa didigitalisasi. "Sisa waktunya, bisa digunakan untuk mendengarkan curhatan anak, memedulikan anak, itu yang susah dilakukan secara digital," katanya soal perbandingan pendidikan digital dan pendidikan konvensional.

Ini sama seperti pekerjaan. Meski saat ini banyak orang menganggap bekerja bisa dilakukan di mana saja, orang tak perlu lagi kantor fisik, tapi faktanya sekarang kita masih perlu bertemu dengan rekan kerja ataupun klien secara langsung. Intinya, meski digitalisasi bisa membuat efisiensi, selalu ada sentuhan manusia yang memang tak tergantikan.

Strategi Zenius Education Menjadi yang Terdepan

Baik Sabda maupun Wisnu mengakui kalau Zenius Education adalah bisnis, terlepas dari misi mulia yang mereka pegang teguh. "Bicara soal bisnis, kita selalu start pada problem yang ingin kita selesaikan," kata Wisnu. Itu sebabnya, menurut Wisnu, kalau ditanya bagaimana strategi Zenius Education mengembangkan bisnisnya, agak sulit untuk dijawab.

Sabda bersama Wisnu, adik sekaligus partner di Zenius Education. (Dok. Zenius Education)
Sabda bersama Wisnu, adik sekaligus partner di Zenius Education. (Dok. Zenius Education)

"Masalah yang ingin kita selesaikan adalah pendidikan di Indonesia. Itu sebabnya, yang terbaik adalah kita bekerjasama dengan berbagai pihak yang punya misi sama. Apapun yang mengarah ke sana, kita akan kejar," kata Wisnu.

Sedangkan menurut Wisnu, bisnis berkembang jika memang pengguna Zenius bertambah. Bagaimana caranya? "Tanamkan rasa suka belajar pada anak. Pada dasarnya, setiap anak itu penuh dengan rasa ingin tahu, dan mereka juga adalah seorang problem solver. Tapi seringkali terjadi, kita sebagai orangtua mematikan rasa ingin tahu anak," kata Sabda. Hmm, terdengar familiar, sih ya.

Menurut Sabda, jangan pernah memisahkan kebutuhan belajar untuk ujian dengan kebutuhan belajar untuk sehari-hari. "Esensi belajar dari Zenius adalah, apa yang dipelajari bukan sekadar ilmu pengetahuan untuk ujian, melainkan untuk hidup. Koneksi semua hal yang kamu tahu, itu bisa menjelaskan segala hal yang terjadi sehari-hari. Itu yang membuat anak jadi ketagihan. Seperti games, itu yang bikin games bisa bikin ketagihan. Nah, belajar juga bisa dibikin menarik seperti itu," kata Sabda dengan yakin.

Nomor satu dari Zenius adalah melatih logika dan pola pikir. Orang yang sudah dibentuk pola pikirnya, ilmu pengetahuannya tinggal diisi sesuai kebutuhan. Jadi, nantinya orang pun dapat memilah mana informasi yang berguna dan dibutuhkan, dan mana informasi yang sebaiknya tak perlu diambil karena sifatnya yang hoaks.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Semua Anak Bisa Jadi Hebat, Digitalisasi Sekolah Hadir di Papua

Semua Anak Bisa Jadi Hebat, Digitalisasi Sekolah Hadir di Papua

Press Release | Rabu, 16 Oktober 2019 | 18:05 WIB

Gara-gara Teliti soal SD Inpres, Ekonom AS Raih Nobel

Gara-gara Teliti soal SD Inpres, Ekonom AS Raih Nobel

Bisnis | Rabu, 16 Oktober 2019 | 04:00 WIB

Digitalisasi Sekolah di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal

Digitalisasi Sekolah di Daerah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal

Health | Jum'at, 11 Oktober 2019 | 13:46 WIB

Terkini

Tren Serum Kian Berkembang di Jepang, Brand Asal Indonesia Ikut Meramaikan Pasar

Tren Serum Kian Berkembang di Jepang, Brand Asal Indonesia Ikut Meramaikan Pasar

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:12 WIB

7 Rekomendasi Pompa Air Sumur 20 Meter yang Murah dan Hemat Listrik

7 Rekomendasi Pompa Air Sumur 20 Meter yang Murah dan Hemat Listrik

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 21:05 WIB

Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Begini Urutan Pemakaian yang Benar agar Kulit Bersih Maksimal

Air Mawar Viva Dipakai Kapan? Begini Urutan Pemakaian yang Benar agar Kulit Bersih Maksimal

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 20:35 WIB

4 Lipstik Matte Tahan Lama Terbaik untuk Bibir Cantik Menurut Review

4 Lipstik Matte Tahan Lama Terbaik untuk Bibir Cantik Menurut Review

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 20:15 WIB

Lebih dari Sekadar Awet Muda, Ini Alasan Healthy Aging Jadi Tren Baru Dunia Kecantikan

Lebih dari Sekadar Awet Muda, Ini Alasan Healthy Aging Jadi Tren Baru Dunia Kecantikan

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:52 WIB

8 Cara Feng Shui untuk Mendapatkan Jodoh, Mulai dari Menata Kamar hingga Dekorasi Rumah

8 Cara Feng Shui untuk Mendapatkan Jodoh, Mulai dari Menata Kamar hingga Dekorasi Rumah

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:48 WIB

Apa Bedanya Lip Balm dan Lip Serum? Ciptakan Bibir Sehat dan Cantik

Apa Bedanya Lip Balm dan Lip Serum? Ciptakan Bibir Sehat dan Cantik

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 19:15 WIB

Tak Lagi Cuma untuk Olahraga, Ini Alasan Athleisure Makin Jadi Andalan Outfit Harian

Tak Lagi Cuma untuk Olahraga, Ini Alasan Athleisure Makin Jadi Andalan Outfit Harian

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 18:32 WIB

8 Cara Merawat Sepatu Lari agar Awet dan Tetap Nyaman Digunakan

8 Cara Merawat Sepatu Lari agar Awet dan Tetap Nyaman Digunakan

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:47 WIB

7 Tips agar Outsole Sepatu Lari Awet, Tidak Cepat Gundul dan Tetap Nyaman Dipakai

7 Tips agar Outsole Sepatu Lari Awet, Tidak Cepat Gundul dan Tetap Nyaman Dipakai

Lifestyle | Kamis, 18 Juni 2026 | 17:42 WIB