Ibadur Rohman dan 7 Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang

Vania Rossa, Dini Afrianti Efendi

Senin, 17 Februari 2020 | 09:52 WIB
Ibadur Rohman dan 7 Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang
Ibadur Rohman dan Tujuh Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Suara.com - Siapa bilang ilmu hanya bisa didapat melalui bangku sekolah? Buktinya sekelompok pemuda Desa Pujon Kidul, Malang, bisa membantah hal itu. Adalah Udi Syafi'i, Yongki Pratama, Anjik Gunawan, Joko Purnomo, Nurul Saifudin, Mardianto, dan Ibadur Rohman. Tujuh pemuda luar biasa ini bukanlah lulusan bangku kuliah, ataupun sekolah luar negeri ternama. Tapi mereka punya jasa luar biasa memajukan desanya.

Ibadur Rohman (33), yang saat ini menjabat sebagai Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Sumber Sejahtera, bersama 7 kawannya, adalah teman sepermainan yang rata-rata lulusan SD, SMP, atau yang paling tinggi SMA.

Tapi mereka mampu membuka lapangan pekerjaan dan memanfaatkan sumberdaya lokal. Baik itu tenaga kerjanya, maupun sumber daya alamnya. Lewat konsep desa wisata, atau tempat yang cukup terkenal Cafe Sawah Pujon, yang terletak di Desa Pujon Kidul, Malang, Jawa Timur.

Ibadur bercerita sejak lulus hingga 2010, ia sempat merantau di salah satu kota di Kalimantan, selama 7 hingga 9 tahun. Hingga akhirnya pulang ke kampung halaman di Pujon Kidul, dan bingung akan melakukan apa karena tidak ada pekerjaan.

Kemudian datanglah Kepala Desa Pujon Kidul Udi Hartoko, yang memberikan suntikkan semangat kepada anak-anak muda ini termasuk Ibadur, untuk tidak menyerah dan menceritakan konsep desa wisata yang sedang dipimpinnya.

Tujuh tahun meyakinkan masyarakat

Ibadur Rohman dan Tujuh Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Ibadur Rohman dan Tujuh Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Kedatangan Udi pada 2010 silam, meyakinkan Ibadur dan teman-temannya, memang memberikan harapan baru. Tapi tidak lantas 'sim salabim', Ibadur bersama rekan-rekannya sempat ragu dan bahkan dianggap sebagai orang gila.

Tiga tahun pertama awal mulai konsep desa wisata Ibadur jalankan hanya bermula dari Event Organizer (EO) seperti motor trail, dangdutan, jalan sehat sepeda trip, wisata edukasi dan sebagainya, yang tentu saja itu menemui pasang surut. Bahkan karena pasang surut itu, banyak rekannya yang sudah 'bongkar-pasang' alias datang dan pergi. Dan laki-laki lulusan SD Atap Pujon Ini salah satu yang bertahan hingga kini.

"Kami bongkar pasang tim itu lebih dari 50 kali, ya ngertilah ketika kegiatan desa semua orang merasa memiliki, kegiatan baru jalan banyak yang datang, kegiatan vakum hilang semua, ya seperti itulah," kata Ibadur kepada Suara.com beberapa waktu lalu di Cafe Sawah Pujon, Malang, Jawa Timur.

baca juga

Tidak pernah lelah selama 3 tahun, lalu bagaikan oase datanglah bantuan dana dari Dinas Pariwisata setempat, lalu mulai mengukuhkan organisasi. Ibadur dan kawan-kawan mulai terpatik semanganya dan menjalankaj program. Kemudian dari asal mula warung kopi di lereng gunung, dibuatlah dengan desain yang lebih menarik.

Barulah, semakin berkembang pada 2017 berdirilah Cafe Sawah Pujon yang menyerap tenaga kerja asli desa Pujon Kidul, serta sumber daya alam desa tersebut. Bahkan masyarakat desa juga dipersilahkan menjual hasil bumi perternakan dan pertanian desa di sekitar Cafe Sawah.

Pertentangan keluarga

Tujuh tahun bukanlah waktu yang sebentar, selama waktu itu juga Ibadur harus menyakinkan keluarga, khususnya sang istri, tentang niat baik dirinya dan kawan-kawannya.

Yah, meski laki-laki bungsu dari 5 bersaudara ini tidak menampik akan himpitan ekonomi yang membelit, tapi ia mencoba untuk tidak goyah. Lagi-lagi terus menerus ia meyakinkan orang tersayangnya, sampai membuahkan hasil.

"Pertentangan keluarga seperti apa? setiap hari bertengkar dengan istriku. Tapi ya lucu, ya nggak munafik ketika kehidupan membutuhkan ekonomi. Tapi beda keyakinan, ketika memikirkan orang banyak, pasti ada yang memikirkan kita. Arahnya ke sana, realitanya lika-liku kehidupan lah," cerita Ibadur.

Bahkan, salah seorang rekannya Samsul Hadi yang kini menjabat sebagai Ketua POKDARWIS, Kelompok Sadar Wisata Desa Pujon Kidul, pernah dianggap sebagai orang gila, karena tidak pernah berhenti mengetuk pintuk rumah untuk meyakinkan masyarakat satu per satu.

"Kita tidak terbiasa dengan hal-hal baru, sama ketika ngomong tentang wisata, wisata yang ber-mindset di pikiran kami adalah wisata buatan, contoh Jatim Park. Sedangkan desa, dana darimana dapat hal-hal seperti itu. Tapi ternyata konsep wisata yang dibikin seperti ini jauh dari hal-hal seperti itu, yang kita jual adalah kearifan lokal," imbuhnya.

Perjuangan berbuah manis

Ibadur Rohman dan Tujuh Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)
Ibadur Rohman dan Tujuh Sekawan, Pahlawan Muda Desa Wisata Pujon Kidul Malang. (Suara.com/Dini Afrianti Efendi)

Seperti sebuah ungkapan 'usaha tidak akan mengkhianati hasil', dan itu juga yang akhirnya didapatkan Ibadur bersama rekan-rekannya. kini tanpa mereka harus merantau, mengeluarkan ongkos berlebih mereka bisa membuka mata pencaharian warga.

Banyak warga khususnya anak muda bisa diberdayakan dan mampu berpikir kreatif untuk membuat satu inovasi di desa wisata Pujon Kidul ini. Tidak hanya itu, petani ataupun peternak sekitar juga tidak perlu jauh-jauh menjual hasil panennya ke tengkulak atau penadah.

Mereka bisa langsung menjual hasil buminya kepada pada pengunjung desa wisata, dengan harga yang lebih tinggi. Begitu juga para pengunjung, tidak harus membayar harga yang begitu mahal, tapi produk buah dan sayuran yang didapat juga dijamin segar, karena di dapat dari wilayah sekitar.

Uniknya lagi, Ibadur mengatakan kesepakatan telah terbentuk dengan tidak menerima investasi atau tenaga kerja asing dari luar. Maksudnya, adalah mereka tidak akan menerima pekerja dari luar Pujon Kidul, khususnya para tenaga ahli yang katanya hanya akan membuat masyarakat sekitar sekedar jadi pancangkul, dan ataupun pekerja.

"Sebenarnya ini komitmen bersama ketika kita disini basicnya hanya berpendidikan di bawah standar, kita tidak berani mendatangkan orang seperti itu, karena apa. Ketika mereka datang ke sini otomatis mereka mendatangkan tenaga ahli, ketika mereka mendatangkan tenaga ahli, ya kami hanya jadi tukang sapu di desa kami sendiri," ungkapnya tegas.

Bukan lagi sebagai pemilik desa, tanah dimana mereka lahir dan dibesarkan. Sedangkan sumberdaya dan ide yang dikeluarkan adalah hasil jerih payah mereka.

Wah, sungguh pemikiran luar biasa ya? Sepertinya patut ditiru nih.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Ronald Syarif, Sosok di Balik Tim Barongsai Indonesia yang Mendunia

Ronald Syarif, Sosok di Balik Tim Barongsai Indonesia yang Mendunia

Lifestyle | Senin, 20 Januari 2020 | 09:59 WIB

Ki Putut Agusseno, Dalang Inovatif yang Bawa Wayang Hingga ke Korea Selatan

Ki Putut Agusseno, Dalang Inovatif yang Bawa Wayang Hingga ke Korea Selatan

Lifestyle | Senin, 06 Januari 2020 | 10:05 WIB

Airyn Tanu, Sosok Promotor Berlian Karya Orang Indonesia

Airyn Tanu, Sosok Promotor Berlian Karya Orang Indonesia

Lifestyle | Senin, 30 Desember 2019 | 09:49 WIB

Terkini

Warga Rempang Dicekik hingga Diteror Intel Usai Tolak Sekolah Merah Putih di Tanah Adat

Warga Rempang Dicekik hingga Diteror Intel Usai Tolak Sekolah Merah Putih di Tanah Adat

News | Senin, 14 September 2026 | 20:11 WIB

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Pencarian Hari Ketujuh Jurnalis Hilang, Tim SAR Fokus ke Wilayah Ditemukannya Life Jacket

Video | Senin, 14 September 2026 | 20:05 WIB

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Dibalik Pencopotan Purbaya: Ada Andil Bos Pajak-Bea Cukai dan Geng SMI?

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 20:03 WIB

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

Siswi Yang Diduga Hilang Ingatan Karena Keracunan MBG Dirujuk ke RSCM, Ahli Turun Tangan

News | Senin, 14 September 2026 | 19:58 WIB

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Dukung Tumbuh Kembang Anak Sungai Rebo, Kilang Plaju Salurkan PMT di Posyandu Asparagus

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 19:56 WIB

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Kenali Identitas Bangsa Lewat Manuskrip: Perpusnas Gelar Pameran Merawat Ingatan Sepanjang September

Lifestyle | Senin, 14 September 2026 | 19:54 WIB

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

Kesaksian Pengasuh Daycare Little Aresha Bongkar Penipuan Fasilitas Anak

News | Senin, 14 September 2026 | 19:51 WIB

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

Sederet Pekerjaan Rumah Menkeu Suahasil: Fiskal Daerah Terjepit, MBG-KDMP Disorot

News | Senin, 14 September 2026 | 19:49 WIB

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Lebih dari Beasiswa, PNM Bekali Anak Nasabah Mekaar Jadi Future Changemaker

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 19:48 WIB

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Kesegaran Komedi Pengusutan Misteri dalam Film 'The Sheep Detective'

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 19:47 WIB

×