Makan Kimchi Disebut Bisa Lindungi dari Covid-19, Benarkah?

Bimo Aria Fundrika

Senin, 20 Juli 2020 | 13:56 WIB
Makan Kimchi Disebut Bisa Lindungi dari Covid-19, Benarkah?
Ilustrasi kimchi. (shuttersrtock)

Suara.com - Dalam beberapa tahu belakangan kimchi atau kol yang difermentasi merupakan salah satu hidangan yang populer seiring dengan meningkatnya tren hidup Korea Selatan di Indonesia.

Di tengah pandemi virus corona, sempat beredar kabar bahwa mantan ahli WHO, Dr Jean Bousquet, menyebut kimchi telah dikaitkan dengan tingkat kematian yang rendah di Korea Selatan.

Dalam studinya yang diterbitkan oleh jurnal Clinical and Translational Allergy, ia menyebutkan bahwa nutrisi dapat berperan dalam pertahanan kekebalan tubuh terhadap Covid-19 dan dapat menjelaskan beberapa perbedaan yang terlihat pada Covid-19 di seluruh Eropa.

Ilustrasi kimchi. (Shutterstock)

Negara-negara yang kerap mengonsumsi kol yang difermentasi memiliki tingkat kematian yang lebih rendah. Negara-negara ini termasuk Austria, Negara Baltik, Republik Ceko, Finlandia, Norwegia, Polandia, Slovakia dan bahkan Jerman.

Dilansir dari World of Buzz, selain mengandung antioksidan yang tinggi, kol yang difermentasi membantu menurunkan kadar ACE2. Bagi orang awam, ACE2 adalah enzim yang digunakan oleh virus Covid-19 untuk memasuki paru-paru.

Jadi, ketika ACE2 berkurang, virus akan merasa lebih sulit untuk memasuki paru-paru. Apakah ini berarti kita harus mulai memasukkan kubis ke dalam makanan sehari-hari kita?

Tidak ada yang salah dalam memasukkan lebih banyak sayuran hijau dalam diet harian Anda tetapi kimchi saja sudah cukup untuk mencegah Anda tertular virus.

Dalam sebuah laporan oleh Arirang News, mereka menyatakan bahwa kimchi telah terbukti memerangi MERS (Middle East respiratory syndrome) dan para peneliti sekarang menggunakan PRObiotik sebagai ganti ANTIbiotik untuk mengobati Covid-19.

Namun, ada bias tertentu yang perlu kita pertimbangkan sebelum membuat kesimpulan. Menurut pusat sumber daya John Hopkins, cara penting untuk mengukur tingkat keparahan Covid-19 adalah tingkat kematian. Tetapi tingkat kematian dinilai secara berbeda di tiap negara.

baca juga

Perbedaan dalam tingkat kematian tergantung pada karakteristik sistem perawatan kesehatan, metode pelaporan, apakah kematian di luar rumah sakit telah dihitung atau tidak dan faktor-faktor lain, banyak di antaranya masih belum diketahui.

Misalnya, alasan Jerman mencatat jumlah kematian yang lebih rendah mungkin karena metode karantina yang berbeda dan pengujian awal, bukan diet kaya kol mereka saja.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Masih Pandemi, FKUI Serukan Tunda Pembukaan Bioskop di Jakarta

Masih Pandemi, FKUI Serukan Tunda Pembukaan Bioskop di Jakarta

Lifestyle | Senin, 20 Juli 2020 | 13:49 WIB

Kemenkes: Lebih dari Separuh Kematian Pasien Covid-19 Anak Dialami Balita

Kemenkes: Lebih dari Separuh Kematian Pasien Covid-19 Anak Dialami Balita

Health | Senin, 20 Juli 2020 | 13:49 WIB

Seekor Anjing Harus Disuntik Mati Setelah Positif Virus Corona, Kenapa?

Seekor Anjing Harus Disuntik Mati Setelah Positif Virus Corona, Kenapa?

Health | Senin, 20 Juli 2020 | 13:40 WIB

Terkini

5 Serum Wajah yang Cocok untuk Kulit Berminyak di Indonesia

5 Serum Wajah yang Cocok untuk Kulit Berminyak di Indonesia

Lifestyle | Rabu, 15 Juli 2026 | 21:06 WIB

Statistik Buktikan Inggris Terlalu Bergantung Kane-Bellingham, Jadi Bumerang saat Lawan Argentina?

Statistik Buktikan Inggris Terlalu Bergantung Kane-Bellingham, Jadi Bumerang saat Lawan Argentina?

Bola | Rabu, 15 Juli 2026 | 21:05 WIB

'Gue Kasih Umrah Sekeluarga', Menteri PU Dody Hanggodo Jawab Isu Aisyah Zakkiyah Keponakannya

'Gue Kasih Umrah Sekeluarga', Menteri PU Dody Hanggodo Jawab Isu Aisyah Zakkiyah Keponakannya

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 21:05 WIB

Mengintip Tren Wellness di Bali, Saat Pengalaman Air Jadi Daya Tarik Baru Industri Hospitality

Mengintip Tren Wellness di Bali, Saat Pengalaman Air Jadi Daya Tarik Baru Industri Hospitality

Lifestyle | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:56 WIB

PLN Hadirkan Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik hingga 27 Juli 2026

PLN Hadirkan Diskon 50 Persen Tambah Daya Listrik hingga 27 Juli 2026

Riau | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:51 WIB

Doraemon the Movie: Misteri Kapal dan Bangkitnya Sistem Otomatis Atlantis!

Doraemon the Movie: Misteri Kapal dan Bangkitnya Sistem Otomatis Atlantis!

Your Say | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:45 WIB

Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm, Pakar Minta Sekolah Perkuat Ruang Dialog

Bom Rakitan di MAN 3 Padang Jadi Alarm, Pakar Minta Sekolah Perkuat Ruang Dialog

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:43 WIB

HP Apa yang Kameranya Bagus selain iPhone? Ini 5 Rekomendasi Terbaik sesuai Review

HP Apa yang Kameranya Bagus selain iPhone? Ini 5 Rekomendasi Terbaik sesuai Review

Tekno | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:40 WIB

Feng Shui Pintu Utama 2 Daun Apakah Bagus untuk Rumah? Ini Penjelasannya

Feng Shui Pintu Utama 2 Daun Apakah Bagus untuk Rumah? Ini Penjelasannya

Lifestyle | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:40 WIB

Eks Pimpinan KPK Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya

Eks Pimpinan KPK Desak Prabowo Perintahkan KPK Ambil Alih Kasus Febrie Adriansyah, Ini Alasannya

News | Rabu, 15 Juli 2026 | 20:37 WIB

×