Kurangi Konsumsinya, 7 Jenis Makanan Ini Paling Memicu Perubahan Iklim

Vania Rossa | Suara.com

Selasa, 29 September 2020 | 11:55 WIB
Kurangi Konsumsinya, 7 Jenis Makanan Ini Paling Memicu Perubahan Iklim
Ilustrasi daging sapi, salah satu makanan yang memicu perubahan iklim. (Shutterstock)

Suara.com - Perubahan iklim dunia ternyata tak hanya dipicu oleh semakin banyaknya pabrik yang beroperasi hingga kendaraan pribadi yang terus bermunculan hingga menimbulkan polusi. Apa yang kita makan, ternyata juga berkontribusi pada perubahan iklim. Penasaran? Ini dia 7 jenis makanan yang paling merusak iklim, seperti dilansir dari CNN.

1. Daging sapi
Di antara semua jenis makanan yang ada di dunia, daging sapi dikenal luas sebagai makanan yang paling berdampak pada perubahan iklim dunia. Sebuah studi tahun 2017 yang dilakukan oleh Dewan Pertahanan Sumber Daya Alam tentang konsumsi makanan di AS, menghitung bahwa setiap kilogram daging sapi menghasilkan 26,5 kilogram emisi CO2 - tertinggi di antara semua makanan yang diamati dalam studi tersebut, dan lima kali lebih banyak daripada daging ayam atau kalkun.

Peternakan hewan bertanggung jawab atas 14,5% emisi gas rumah kaca dunia, demikian menurut Organisasi Pangan dan Pertanian PBB, menjadikannya penyumbang signifikan terhadap perubahan iklim. Dari emisi tersebut, 65% berasal dari peternakan daging sapi dan sapi perah.

Mengurangi konsumsi daging sapi adalah cara efektif untuk mengekang emisi global. Menurut Dewan Sumber Daya Alam Amerika (Natural Resources Defense Council/NRDC), orang Amerika sekarang mengonsumsi daging 19% lebih sedikit daripada yang mereka lakukan pada tahun 2005. Ini setara dengan pengurangan 185 juta metrik ton emisi, atau polusi knalpot tahunan sebanyak 39 juta mobil.

Tapi kenapa daging sapi begitu buruk? "Pakan sapi sebagian besar diproduksi dengan menggunakan banyak pestisida dan pupuk, yang membutuhkan bahan bakar fosil," jelas Sujatha Bergen, salah satu penulis studi tersebut.

"Selain itu, sistem pencernaan sapi menghasilkan metana, yang merupakan gas rumah kaca 25 kali lebih kuat daripada karbon dioksida. Dan kotoran tersebut mengeluarkan tambahan gas rumah kaca," jelasnya.

2. Daging domba
Daging merah lain yang juga sangat merusak iklim adalah daging domba. Untuk setiap kilo daging domba yang dikonsumsi, ada 22,9 kilo emisi gas rumah kaca yang dihasilkan, demikian perkiraan studi NRDC.

Produksi daging juga membutuhkan pakan ternak dalam jumlah besar, terutama jagung dan kedelai yang padat sumber daya. Pupuk sintetis dan pupuk kandang yang digunakan untuk menanamnya juga melepaskan dinitrogen oksida, polutan penghangat iklim yang 298 kali lebih kuat daripada karbon dioksida.

3. Mentega
Satu kilo mentega menghasilkan hampir 12 kilo CO2 - kira-kira setengah dari yang dihasilkan daging sapi. Produk olahan susu yang satu ini berada di urutan kedua sebagai makanan yang paling merusak iklim karena ada beberapa langkah dalam produksinya yang membutuhkan banyak energi. "Misalnya, produksi mentega memerlukan pemisahan susu mentah menjadi susu dan krim rendah lemak, pasteurisasi krim, pendinginan krim , mematangkan dan mengaduk," kata Bergen.

Sementara orang Amerika telah banyak mengurangi konsumsi daging merah dalam beberapa tahun terakhir, NRDC melaporkan bahwa konsumsi mentega dan produk susu lainnya, seperti keju dan yogurt, benar-benar mengalami lonjakan dalam periode tahun 2005 hingga 2014.

4. Kerang
Untuk setiap kg kerang yang diproduksi, ada 11,7 kilo CO2 yang dilepaskan ke alam.

5. Keju
Selain mentega, keju juga sama buruknya dalam merusak iklim. Emisi yang dihasilkannya adalah 9,8 kg per kg keju yang dihasilkan.

"Keju yang memerlukan transportasi berpendingin atau diterbangkan dari luar negeri, bagaimanapun, cenderung memiliki dampak terhadap iklim yang lebih tinggi," kata Bergen.

6. Asparagus
Inilah satu-satunya sayuran yang masuk dalam daftar makanan perusak iklim. Asparagus menghasilkan 8,9 kilogram emisi per kilo yang diproduksi, menurut NRDC. Tapi bagaimana caranya?

"Sebagian besar asparagus di Amerika Serikat diterbangkan dari Amerika Latin, yang menghasilkan emisi karbon yang lebih besar daripada makanan yang diangkut dengan truk. Meskipun bukan satu-satunya barang produksi yang diterbangkan ke negara itu, proporsi yang lebih tinggi diangkut dengan cara ini daripada kebanyakan buah dan sayuran umum lainnya. Secara umum, jika orang ingin meminimalkan dampak iklimnya, mereka harus menghindari makanan yang dikirim melalui udara sebanyak mungkin," jelas Bergen.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Berkaca Penanganan Covid-19, Kepala PBB Ragu Perubahan Iklim Teratasi

Berkaca Penanganan Covid-19, Kepala PBB Ragu Perubahan Iklim Teratasi

News | Jum'at, 25 September 2020 | 18:19 WIB

Donald Trump Sebut Ilmuwan Tak Paham Soal Perubahan Iklim

Donald Trump Sebut Ilmuwan Tak Paham Soal Perubahan Iklim

News | Selasa, 15 September 2020 | 16:50 WIB

Perubahan Iklim, Lapisan Es di Greenland Terlepas dan Terpecah Kecil-kecil

Perubahan Iklim, Lapisan Es di Greenland Terlepas dan Terpecah Kecil-kecil

Tekno | Senin, 14 September 2020 | 20:30 WIB

Terkini

Sudah Lewat 30 April 2026, Telat Lapor SPT Tahunan Kena Denda Berapa?

Sudah Lewat 30 April 2026, Telat Lapor SPT Tahunan Kena Denda Berapa?

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:35 WIB

5 Ciri-Ciri Mesin Cuci Perlu Diganti Bukan Diperbaiki, agar Tidak Rugi Jangka Panjang

5 Ciri-Ciri Mesin Cuci Perlu Diganti Bukan Diperbaiki, agar Tidak Rugi Jangka Panjang

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:18 WIB

Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya

Komunitas Bermain: Ruang Sederhana di Tengah Kota yang Mengembalikan Masa Kecil Saya

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 08:10 WIB

Wishlist Menumpuk? Saatnya Checkout Produk Kecantikan hingga Kesehatan di Sini: Diskon hingga 70%!

Wishlist Menumpuk? Saatnya Checkout Produk Kecantikan hingga Kesehatan di Sini: Diskon hingga 70%!

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 07:44 WIB

Dari Sejak Dini, Aksi Kecil Anak-Anak Menanam Bibit Tanaman Bisa Jadi Harapan Besar bagi Bumi

Dari Sejak Dini, Aksi Kecil Anak-Anak Menanam Bibit Tanaman Bisa Jadi Harapan Besar bagi Bumi

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 07:33 WIB

Anak Alami Dampak Iklim, Bagaimana Gim Interaktif Ini Jadi Solusi Kesenjangan Edukasi?

Anak Alami Dampak Iklim, Bagaimana Gim Interaktif Ini Jadi Solusi Kesenjangan Edukasi?

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05 WIB

77 Persen Perusahaan Sulit Cari Talenta, Mengapa Pendidikan Belum Selaras dengan Dunia Kerja?

77 Persen Perusahaan Sulit Cari Talenta, Mengapa Pendidikan Belum Selaras dengan Dunia Kerja?

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 07:05 WIB

Terpopuler: Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Rp27 M Viral, 7 Parfum Lokal Wangi Kayak Habis Mandi

Terpopuler: Anggaran Sepatu Sekolah Rakyat Rp27 M Viral, 7 Parfum Lokal Wangi Kayak Habis Mandi

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 06:50 WIB

6 Zodiak yang Punya Daya Tarik Alami, Bikin Semua Mata Tertuju Padanya

6 Zodiak yang Punya Daya Tarik Alami, Bikin Semua Mata Tertuju Padanya

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 06:40 WIB

Skincare Wajib Pagi Hari Apa Saja? Ini Urutan yang Benar dan Efektif

Skincare Wajib Pagi Hari Apa Saja? Ini Urutan yang Benar dan Efektif

Lifestyle | Rabu, 06 Mei 2026 | 06:37 WIB