alexametrics

Namanya Trending, Warganet Ramai Unggah Foto Susi Pudjiastuti Ngopi di Laut

Arendya Nariswari
Namanya Trending, Warganet Ramai Unggah Foto Susi Pudjiastuti Ngopi di Laut
Menteri Susi Pudjiastuti dalam balutan kebaya moderen. (Instagram/@susipudjiastuti115)

Trending di Twitter, warganet ungkap rindu sosok Susi Pudjiastuti pasca Edhi Prabowo kena OTT KPK.

Suara.com - Nama mantan Menteri KKP Susi Pudjiastuti mendadak jadi trending topik di Twitter. Hal ini terjadi usai Komisi Pempberantasan Korupsi (KPK) menangkap Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo.

Tidak sedikit dari warganet yang mengaku merindukan sosok pemilik maskapai Susi Air tersebut.

Pribadinya yang tegas dan berani, membuat sosok Susi Pudjiastuti dikagumi oleh warga masyarakat Indonesia.

Tentu saja, mendengar pemberitaan tersebut tidak sedikit warganet yang kemudian beramai-ramai mengunggah kembali potret lama Susi Pudjiastuti.

Baca Juga: Ini Reaksi Susi Pudjiastuti Setelah Menteri KKP Edhy Prabowo Ditangkap KPK

Namanya Trending, Warganet Ramai Unggah Foto Susi Pudjiastuti Ngopi di Laut. (Twitter/@lerinarin)
Namanya Trending, Warganet Ramai Unggah Foto Susi Pudjiastuti Ngopi di Laut. (Twitter/@lerinarin)

Sebagian besar mengunggah foto Susi Pudjiastuti ketika sedang asyik menikmati secangkir kopi di atas paddle board miliknya.

Di tengah laut tenang, Susi Pudjiastuti terlihat begitu menikmati tenangnya laut lepas.

"Bu Susi this morning," tulis akun Twitter @lerinarin mengunggah kembali foto lama Susi Pudjiastuti ngopi di laut.

"I remember your words Bu @susipudjiastuti: saya mungkin tidak berpendidikan, tapi saya profesional," imbuh warganet lain sembari mengunggah potret Susi Pudjiastuti.

Sebelumnya, Susi Pudjiastuti memang menjadi sosok yang paling keras menolak kebijakan ekspor benih lobster.

Baca Juga: Edhy Prabowo Ditangkap, Warganet Ramai Posting Foto Susi Pudjiastuti Ngopi

Susi Pudjiastuti beralasan melarang ekspor benih lobster untuk meningkatkan nilai tambah dari lobster itu sendiri sebelum diperjualbelikan di pasar global.

Komentar