Sambut Hari Binatang Sedunia, Yuk Sayangi Satwa Langka!

Vania Rossa

Senin, 04 Oktober 2021 | 13:11 WIB
Sambut Hari Binatang Sedunia, Yuk Sayangi Satwa Langka!
Bekantan, satwa langka yang terancam punah karena kerusakan lahan gambut. (Foto: Ardiles Rante - Pantau Gambut)

Lola menambahkan, perdagangan satwa langka juga merambah media sosial. Karena itu, ia berharap, kita semua berani melaporkan segala aktivitas perdagangan satwa langka kepada Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat. 

2. Edukasi soal satwa
Titin menyebutkan, melalui muatan lokal yang terangkum dalam kurikulum sekolah, guru bisa menjelaskan tentang habitat satwa di sekitar lingkungan sekolah itu. Misalnya, siswa perlu berhati-hati ketika melewati daerah sungai karena area itu merupakan habitat buaya. Guru juga bisa mengingatkan pentingnya mematuhi papan larangan yang sudah diletakkan di sana. Dengan begitu, konflik antara manusia dan hewan liar bisa diminimalkan.

“Namun, edukasi ini tidak mudah, karena media sosial diramaikan oleh para selebgram yang sibuk memamerkan binatang peliharaan mereka, yang sebenarnya tidak boleh dipelihara. Misalnya, monyet. Orang jadi tertarik untuk membeli juga, terutama anak-anak. Ketika anak jadi penggemar selebgram tersebut, mereka jadi sulit memahami soal konservasi,” kata Titin, yang merupakan aktivis perlindungan fauna Indonesia. 

Jika Anda adalah orang awam yang belum punya banyak pengetahuan soal fauna, Anda bisa berkolaborasi dengan mereka yang punya pengalaman di lapangan. Titin mencontohkan, sekolah bisa bekerja sama dengan BKSDA atau jagawana yang menjaga hutan sekitar sekolah. Mereka bisa menceritakan kisah-kisah memilukan tentang satwa yang mati karena tersiksa oleh jerat pemburu atau mati karena kebakaran yang disebabkan oleh puntung rokok.

Sebetulnya, kebun binatang harus menjadi sarana edukasi soal satwa, bukan hanya sebagai sarana hiburan. Tapi, perilaku hewan di sana harus dibuat seperti di habitat aslinya. Titin melihat hal ini sulit dilakukan, karena luas areanya tidak memungkinkan.

3. Tingkatkan awareness 
Kita perlu meningkatkan kesadartahuan orang-orang di sekitar tentang pentingnya lahan gambut sebagai habitat flora dan fauna yang dilindungi. Kalau ekosistem rusak, maka binatang juga akan punah. Akibatnya, rantai makanan juga akan rusak. Keberlangsungan suatu ekosistem tidak ditentukan oleh satu atau dua penghuni saja, tapi harus dilihat secara keseluruhan dalam satu kesatuan, karena saling berhubungan. 

Lahan gambut merupakan tempat tinggal flora dan fauna yang harus dijaga kelestariannya. (Foto: CIFOR)
Lahan gambut merupakan tempat tinggal flora dan fauna yang harus dijaga kelestariannya. (Foto: CIFOR)

Misalnya, pohon besar berfungsi sebagai tempat tinggal dan makan orangutan. Kalau pohonnya habis, mereka mau tinggal di mana dan mau makan apa? Padahal, orangutan berperan menyibakkan kanopi di atas sarangnya, sehingga sinar matahari pagi masuk ke dalam hutan dan terjadilah proses fotosintesis yang menguntungkan tumbuhan di dalam hutan.

“Kampanye untuk meningkatkan awareness ini perlu dilakukan secara konsisten. Biasanya isu kerusakan gambut baru muncul setelah ada kebakaran hutan. Tapi, begitu tetes hujan pertama jatuh, orang perlahan lupa pada isu tersebut, sampai tiba kebakaran berikutnya,” kata Iola. 

Kampanye itu tak selalu harus turun ke jalan. Anda bisa memilih untuk ‘berkampanye’ sesuai kapasitas. Misalnya, pekerja seni bisa membuat karya yang mengungkap kegelisahan soal kerusakan lahan gambut. Para content creator bisa berkampanye dengan membuat konten keren di akun media sosialnya. Begitulah yang dilakukan oleh Titin, yang mengajar mata kuliah Jurnalistik Spesialisasi Kompartemen Lingkungan.

baca juga

“Penelitian untuk skripsi diarahkan ke lingkungan, misalnya meneliti konflik antara buaya dan manusia melalui pemberitaan media,” katanya. 

4. Beli produk buatan masyarakat lokal
Iola menjelaskan, di area lahan gambut terdapat banyak tanaman yang bisa dimanfaatkan oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Misalnya, pohon tengkawang (illipe nut) yang dari buahnya saja banyak sekali manfaatnya, mulai dari obat, bahan makanan, sampai produk kecantikan.

“Minyak tengkawang ini jadi hits sekitar lima enam tahun lalu. Pohon ini endemik hutan hujan tropis Kalimantan. Namun, dapat tumbuh dengan baik di lahan gambut karena tahan lahan basah tergenang,” katanya.

Ada juga hasil kerajinan anyaman yang dibuat dari tanaman purun, seperti sandal, tikar, tas, dan topi. Hanya saja, pasarnya masih belum luas. Selain itu, variasi produknya juga belum banyak

Saatnya #TimeforActionIndonesia. Anda yang memiliki akses yang lebih luas bisa membantu dengan membukakan pasar, misalnya mempromosikan via media sosial. Di samping itu, bantuan Anda juga diperlukan untuk mencari tahu, komoditas-komoditas seperti itu bisa dimanfaatkan sebagai apa.

“Yang merasa punya akses luas terhadap pengetahuan dan teknologi dapat membantu, misalnya dengan melakukan banyak riset serta inovasi-inovasi baru ramah lingkungan,” kata Iola.  

5. Pilih produk ramah lingkungan
Kalau kita amati, pada produk yang sehari-hari digunakan atau dikonsumsi, kita akan menemukan banyak produk yang bahan bakunya misalnya dari minyak kelapa sawit atau dari industri kehutanan, seperti kayu. Sebut saja, produk kosmetik seperti lipstik dan bedak, makanan seperti cokelat dan es krim, juga produk perawatan tubuh. 

“Sebisa mungkin gunakan produk dengan opsi lebih ramah lingkungan. Cermat memilih dan mencari tahu, dari manakah produk ini berasal, apakah dari industri yang merusak hutan dan lahan gambut? Selain itu, hindari pola hidup konsumerisme berlebihan. Beli dan pakai secukupnya. Menerapkan gaya hidup yang ramah lingkungan sampai ke produk yang kita gunakan sehari-hari memang terkesan repot. Namun, secara tidak langsung kita turut berkontribusi menjaga kelestarian hutan dan lahan gambut kita. Manfaatnya pun akan kembali kepada kita. Mungkin tidak sekarang, namun nanti di masa depan, untuk hidup generasi mendatang yang lebih baik dan sehat,” kata Iola. 

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Kalkulator Kecocokan Jodoh Online Menurut Primbon Jawa, Bantu Cek Keserasian Pasangan
Ikuti Kuisnya ➔
Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

118 Satwa Gagal Diseludupkan ke Thailand, BKSDA Siapkan Translokasi ke Papua

118 Satwa Gagal Diseludupkan ke Thailand, BKSDA Siapkan Translokasi ke Papua

Sumsel | Rabu, 29 September 2021 | 13:26 WIB

Menyamar Jadi Pembeli, Polisi Amankan Dua Pelaku Penjual Satwa Langka di Jogja

Menyamar Jadi Pembeli, Polisi Amankan Dua Pelaku Penjual Satwa Langka di Jogja

Jogja | Rabu, 30 Juni 2021 | 20:46 WIB

Anak Gajah Sumatra Lahir di Suaka Margasatwa Padang Sugihan

Anak Gajah Sumatra Lahir di Suaka Margasatwa Padang Sugihan

News | Minggu, 20 Juni 2021 | 11:15 WIB

Terkini

Kemensos dan CIMA Bahas Rencana Kolaborasi Fasilitasi Lulusan Sekolah Rakyat di Industri Maritim

Kemensos dan CIMA Bahas Rencana Kolaborasi Fasilitasi Lulusan Sekolah Rakyat di Industri Maritim

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:54 WIB

DPR Apresiasi Kinerja Polri Era Prabowo Tunjukkan Penegakan Hukum Tegas

DPR Apresiasi Kinerja Polri Era Prabowo Tunjukkan Penegakan Hukum Tegas

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:52 WIB

Ledakan Wisata Era Prabowo: Perjalanan Turis Lokal Pecah Rekor 1,2 Miliar, Bali Juara Dunia Lagi

Ledakan Wisata Era Prabowo: Perjalanan Turis Lokal Pecah Rekor 1,2 Miliar, Bali Juara Dunia Lagi

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:50 WIB

Pasar Modal RI Lagi Gonjang-ganjing, Begini Penilaian ADB

Pasar Modal RI Lagi Gonjang-ganjing, Begini Penilaian ADB

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:49 WIB

Capaian Dua Tahun Prabowo di Bidang Olahraga: Dari Rekor Dunia hingga Juara FIFA ASEAN Cup

Capaian Dua Tahun Prabowo di Bidang Olahraga: Dari Rekor Dunia hingga Juara FIFA ASEAN Cup

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:49 WIB

Kadin Sebut Pemerintah Terlalu Optimistis soal Target Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2027

Kadin Sebut Pemerintah Terlalu Optimistis soal Target Pertumbuhan Ekonomi 6% di 2027

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:45 WIB

Ingin Pensiun Bersama Persib Bandung, Perpanjangan Kontrak Marc Klok Ternyata Masih Abu-abu

Ingin Pensiun Bersama Persib Bandung, Perpanjangan Kontrak Marc Klok Ternyata Masih Abu-abu

Bola | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:45 WIB

PSEL Makassar Lanjut atau Batal? Ini Kata Wali Kota Munafri Arifuddin

PSEL Makassar Lanjut atau Batal? Ini Kata Wali Kota Munafri Arifuddin

Sulsel | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:45 WIB

Buntut Blackout Batam-Bintan, Bukti Rambut Kera di Trafo Seret 5 Orang Jadi Tersangka

Buntut Blackout Batam-Bintan, Bukti Rambut Kera di Trafo Seret 5 Orang Jadi Tersangka

News | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:44 WIB

Kesepakatan Batas Minimum Bunga Pindar Dinilai Bukan Kartel, Ini Penjelasannya

Kesepakatan Batas Minimum Bunga Pindar Dinilai Bukan Kartel, Ini Penjelasannya

Bisnis | Selasa, 20 Oktober 2026 | 17:43 WIB

×