Suara.com - Anak sulung Nia Ramadhani dan Ardi Bakrie, Mikhayla, baru saja lulus SD. Momen acara kelulusan Mikhayla pun langsung jadi bahan perbincangan netizen. Cara Mikhayla menerima rapor dari gurunya saat acara kelukusan itu menimbulkan pro kontra kantaran tidak ada budaya cium tangan yang umum dilakukan antara murid dan guru.
Dalam video yang beredar, anak Nia Ramadhani itu terlihat melangkah sangat percaya diri ketika namanya dipanggil dan langsung bersalaman sambil menerima rapor.
Setelah itu, Mikhayla langsung bergaya dengan membentuk tanda peace ketika foto bersama gurunya. Cuplikan video tersebut dibagikan ulang oleh akun TikTok @riani_update.
"Cara penerimaan rapot sekolah Mikhayla keren banget, saat foto bisa bergaya sesuai keinginan, selamat Mikhayla," kata akun tersebut yang mengunggah video itu pada Rabu (5/7/2023).
Namun video itu justru tuai pro kontra dari netizen. Menurut mereka, Mikhayla kurang beretika ketika berhadapan dengan guru. Netizen jug mengira kalau cucu politisi Aburizal Bakrie itu tidak bersalaman dengan guru yang memberinya rapor. Padahal, Mikhayla langsung mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan tangan satunya sambil mengambil rapotnya. Hanya saja memang tidam ada sesi cium tangan.
Diketahui Mikhayla menempuh pendidikan SD di sekolah internasional British School Jakarta. Sekolah internasional secara umum memang berbeda dengan kebanyakan sekolah nasional. Baik secara kurikulum maupun budaya yang terjalin secara global karena siswa yang ada di sana juga tidak hanya warga Indonesia, tapi juga bisa anak-anak warga negara asing.
Sementara itu, cium tangan memang telah menjadi budaya salam bagi masyarakat Indonesia. Pada umumnya cium tangan dilakukan oleh umat muslim sebagai bentuk salam dan hormat kepada orang yang lebih tua atau dimuliakan.
Dikutip dari jurnal UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, cium tangan sebenarnya bentuk akulturasi dari campuran budaya Jawa dan Agama Islam. Tak heran kalau aksi cium tangan juga dilakukan oleh masyarakat non muslim.
Adab murid ke guru dalam Islam sebenarnya tidak hanya cium tangan. Dikutip dari NU Online, ulama Imam al-Ghazali mengajarkan sepuluh antara murid dan guru selain cium tangan.
1. Mendahului beruluk salam. Seorang murid hendaknya mendahului beruluk salam kepada guru.
2. Tidak banyak berbicara di depan guru. Banyak berbicara bisa berarti merasa lebih tahu dari pada orang-orang di sekitarnya. Apa bila hal ini dilakukan di depan guru, maka bisa menimbulkan kesan seolah-seolah murid lebih tahu dari pada gurunya.
3. Berdiri ketika guru berdiri. Bila guru berdiri, murid sebaiknya lekas berdiri juga. Hal ini tidak hanya penting kalau-kalau guru memerlukan bantuan sewaktu-waktu, misalnya uluran tangan agar segera bisa tegak berdiri, tetapi juga merupakan sopan santun yang terpuji. Demikian pula jika guru duduk sebaiknya murid juga duduk
4. Ketika guru memberikan suatu penjelasan yang berbeda dengan apa yang pernah dijelaskan oleh orang lain, sebaiknya murid tidak langsung menyangkal penjelasan guru. Sebaiknya murid meminta izin terlebih dahulu untuk menyampaikan pendapat orang lain yang berbeda. Jika guru berkenan, murid tentu boleh menyampaikan hal itu.
5. Tidak bertanya-tanya kepada teman duduknya sewaktu guru sedang menjelaskan. Dalam majlis ta’lim atau kegiatan belajar mengajar di kelas, murid hendaknya bertanya kepada guru ketika ada hal yang belum jelas. Hal ini tentu lebih baik daripada bertanya kepada teman di sebelahnya.
6. Tidak mengumbar senyum ketika berbicara kepada guru. Guru tidak sama dengan teman, dan oleh karenanya tidak bisa disetarakan dengan teman. Seorang murid harus memosisikan guru lebih tinggi dari teman sendiri sehingga ketika berbicara dengan guru tidak boleh sambil tertawa atau bersenyum yang berlebihan.