- KH. Anwar Manshur disebut dalam program Xpose Uncensored yang menuai kontroversi.
- Beliau adalah pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri.
- Dikenal sebagai ulama sepuh yang sederhana, berilmu tinggi, dan dihormati di kalangan pesantren.
Suara.com - Nama KH. Anwar Manshur, pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur, tengah menjadi sorotan usai disebut dalam program Xpose Uncensored yang tayang di Trans7.
Dalam episode yang menyinggung kehidupan pesantren, sosok KH. Anwar Manshur digambarkan dengan cara yang dianggap merendahkan tradisi pesantren.
Narasi yang digunakan dalam program "Xpose Uncensored" dianggap merendahkan para santri. Secara khusus narasi tentang santri yang disebut "rela ngesot" demi memberikan amplop kepada kiai yang dibuat acara tersebut dianggap melecehkan martabat ulama. Terutama sosok kiai sepuh Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, yakni KH. Anwar Manshur.
Tayangan tersebut menuai kecaman luas dari masyarakat, hingga muncul tagar #BoikotTrans7 di media sosial.
Di balik kontroversi itu, KH. Anwar Manshur dikenal luas sebagai ulama sepuh yang berilmu tinggi, sederhana, dan sangat dihormati. Berikut profil dan biodata lengkapnya.
Profil dan Biodata KH. Anwar Manshur
Nama lengkap: KH. Anwar Manshur
Tempat lahir: Kediri, Jawa Timur
Keturunan: Dzurriyah (keturunan) dari KH. Abdul Karim (Mbah Manab), pendiri Pondok Pesantren Lirboyo
Baca Juga: Buntut Tayangan Kontroversial Trans7, Fungsi KPI Dipertanyakan
Jabatan: Pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri
Organisasi: Salah satu Rois Aam Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU)
KH Anwar Manshur dikenal oleh para santrinya karena kealiman, kesederhanaan, dan peran penting dalam menjaga tradisi pesantren salaf di Indonesia.
Perjalanan Pendidikan KH Anwar Mansur
Sejak muda, KH. Anwar Manshur telah hidup di lingkungan pesantren dan menekuni ilmu-ilmu agama Islam klasik. Ia menimba ilmu di berbagai pesantren ternama di Jawa Timur, termasuk di lingkungan Pondok Pesantren Lirboyo sendiri.
Saat kecil ia menimba ilmu di Ponpes Tarbiyatunnasyiin, Paculgowang, Diwek, Jombang. Pesantren itu didirikan oleh ayahnya sendiri. Kemudian ia belajar di Pondek Pesantren Tebuireng hingga tingkat tsanawiyah (setara SMP).
KH Anwar Manshur belajar di bawah bimbingan para ulama besar seperti KH. Marzuki Dahlan, pendiri Madrasah Hidayatul Mubtadi’in (HM) Lirboyo dan KH. Mahrus Aly, tokoh penting yang mengembangkan sistem pendidikan di Lirboyo.
Dari para guru tersebut, KH. Anwar dikenal sebagai santri yang tekun, rendah hati, dan sangat menghormati ilmu serta pengajarnya, nilai yang kemudian ia tanamkan kepada ribuan santrinya.
Peran dan Kiprah di Lirboyo
KH Anwar Manshur menikah dengan Umi Kulsum, putri KH Mahrus Aly. Pasangan ini dikaruniai 8 orang anak. Namun, Nyai Umi Kulsum wafat terlebih dahulu.
KH Anwar Manshur kemudian menikah dengan Nyai Husnah binti Ahyat.
Sebagai pengasuh utama Pondok Pesantren Lirboyo, KH. Anwar Manshur memiliki peran sentral dalam menjaga identitas salaf (tradisional) pesantren. Di bawah kepemimpinannya, Lirboyo tidak hanya menjadi pusat kajian kitab kuning terbesar di Indonesia, tapi juga rumah bagi puluhan ribu santri dari berbagai daerah.
Beliau dikenal tegas dalam prinsip, namun lembut dalam bimbingan. Gaya kepemimpinannya yang mengedepankan adab sebelum ilmu menjadi ciri khas pendidikan di Lirboyo hingga kini.
Selain mengajar, KH. Anwar juga aktif dalam bahtsul masail, sebuah forum ilmiah para ulama untuk membahas hukum Islam kontemporer berdasarkan kitab klasik.
KH. Anwar Manshur dikenal bukan karena banyak tampil di publik, tetapi karena keteladanan sikap dan ucapannya. Salah satu pesan beliau yang sering dikutip para santri adalah:
“Ilmu itu tidak akan barokah kalau tidak disertai ta’dzim kepada guru.”
Pesan ini menjadi pegangan banyak alumni Lirboyo di seluruh Indonesia, menegaskan pentingnya adab dalam menuntut ilmu.
Meski memimpin pesantren besar dengan ribuan santri, KH. Anwar Manshur tetap hidup sederhana. Beliau lebih banyak menghabiskan waktu di lingkungan pondok, mengajar, dan berdialog dengan para santri.
Kesederhanaannya membuat beliau disegani tak hanya oleh santri, tapi juga oleh para kiai muda dan tokoh masyarakat di berbagai daerah. Banyak yang menilai KH. Anwar adalah sosok ulama yang menjaga ruh pesantren di tengah arus modernisasi.