Benarkah Pakaian Impor Bekas dari Orang Mati? Begini Fakta dan Asal-Usul Baplres Baju Thrifting

Farah Nabilla

Rabu, 29 Oktober 2025 | 14:32 WIB
Benarkah Pakaian Impor Bekas dari Orang Mati? Begini Fakta dan Asal-Usul Baplres Baju Thrifting
Pemusnahan pakaian bekas impor dengan cara dibakar di tempat penimbunan pebaean (TPP) Bea Cukai, Cikarang Utara, Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/3). (Suara.com / Danan arya)

Suara.com - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menunjukkan ketegasan dalam memberantas impor pakaian bekas ilegal atau "balpres". Kebijakan ini disertai sanksi berlapis untuk menghentikan mafia impor yang merugikan negara dan industri lokal.

Selain denda, Purbaya memperkenalkan sanksi blacklist permanen. "Kalau dia pernah bal pres, saya akan blacklist, nggak beli impor barang-barang lagi," tegasnya di Kantor Kemenkeu, Jakarta Pusat pada Rabu (22/10/2025).

Hal ini berarti pelaku kehilangan izin impor selamanya untuk semua jenis barang. Sementara itu strategi pemberantasan difokuskan di pelabuhan, bukan pasar tradisional.

"Saya nggak akan merazia ke pasarnya, cuma di pelabuhan aja," ujar Purbaya.

Pendekatan ini memutus rantai pasokan dari sumbernya melalui Direktorat Jenderal Bea dan Cukai. Namun di tengah impor pakaian bekas yang diperketat, muncul mitos bahwa pakaian bekas impor berasal dari orang meninggal.

Lantas dari mana asal pakaian bekas? Benarkah dari orang meninggal? Simak penjelasan berikut ini.

Dari Mana Asal Pakaian Bekas Impor?

Aktivitas thrifting di Pasar Senen masih digemari masyarakat. (Fajar/Suara.com)
Aktivitas thrifting di Pasar Senen masih digemari masyarakat. (Fajar/Suara.com)

Salah satu mitos yang berkembang di masyarakat adalah anggapan bahwa pakaian bekas impor berasal dari orang yang telah meninggal dunia. Narasi ini tidak memiliki dasar faktual dan perlu diluruskan.

Faktanya, pakaian bekas yang beredar di Indonesia mayoritas berasal dari negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan Tiongkok.

Pakaian-pakaian tersebut adalah barang "preloved" atau bekas pakai yang masih dalam kondisi layak.

baca juga

Pemilik aslinya menjual atau menyumbangkan pakaian yang sudah tidak terpakai, bukan karena mereka meninggal, tetapi karena alasan seperti perubahan trend mode, pergantian musim, atau perubahan ukuran tubuh.

Di negara-negara maju, budaya fast fashion menghasilkan volume pembuangan pakaian yang sangat tinggi setiap tahunnya.

Jalur Masuk Pakaian Bekas ke Indonesia

Pakaian bekas impor, yang dikemas dalam bentuk karung besar bertekanan tinggi atau "balpres", masuk ke Indonesia melalui dua jalur utama.

Jalur pertama adalah pasokan langsung dari negara-negara Asia Timur seperti Tiongkok, Jepang, dan Korea Selatan yang memiliki industri mode dinamis dengan tingkat pembuangan tinggi. Negara-negara ini menjadi sumber utama produk thrifting berkualitas baik.

Jalur kedua memanfaatkan negara-negara tetangga di Asia Tenggara seperti Singapura, Malaysia, Thailand, dan Vietnam sebagai titik transit. Pakaian bekas dikirim ke negara-negara ini terlebih dahulu sebelum diselundupkan ke Indonesia melalui berbagai pelabuhan, memanfaatkan kedekatan geografis dan celah pengawasan.

Metode penyelundupan ini dipilih untuk menghindari pajak, bea masuk, dan pembatasan impor yang ketat. Pelabuhan-pelabuhan menjadi sasaran utama operasi Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) dalam upaya pemberantasan praktik ilegal ini.

Popularitas Pakaian Bekas

Tidak dapat dipungkiri bahwa pakaian bekas impor memiliki daya tarik tersendiri bagi konsumen Indonesia. Harga yang sangat terjangkau dan ketersediaan merek-merek terkenal dengan harga jauh lebih murah menjadi alasan utama popularitasnya.

Istilah "preloved" sendiri merujuk pada barang-barang bekas berkualitas baik yang berpindah tangan melalui proses jual-beli yang normal.

Namun, popularitas ini menjadi pedang bermata dua. Para pedagang pakaian bekas di kawasan seperti Pasar Senen, Jakarta Pusat, mengeluhkan kebijakan pemerintah tersebut karena khawatir akan berdampak pada penghasilan.

Mereka berargumen bahwa konsumen lebih menyukai pakaian impor karena kualitas yang lebih baik dengan harga terjangkau, dibanding produksi lokal yang dinilai kurang berkualitas dan cenderung lebih mahal.

Kontributor : Trias Rohmadoni

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

Gryffindor atau Slytherin? Cek Kepribadianmu di Kuis Asrama Hogwarts
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Fakta-fakta Pakaian Bekas Impor: Dari Mana Asal Negara Baju Thrifting?

Fakta-fakta Pakaian Bekas Impor: Dari Mana Asal Negara Baju Thrifting?

Lifestyle | Selasa, 28 Oktober 2025 | 19:01 WIB

Sejarah Thrifting di Indonesia, Purbaya Siap Sikat Mafia Baju Impor Ilegal

Sejarah Thrifting di Indonesia, Purbaya Siap Sikat Mafia Baju Impor Ilegal

Lifestyle | Selasa, 28 Oktober 2025 | 15:29 WIB

Menkeu Purbaya Mau Tangkap Pelaku Bisnis Thrifting

Menkeu Purbaya Mau Tangkap Pelaku Bisnis Thrifting

Bisnis | Selasa, 28 Oktober 2025 | 07:59 WIB

Menkeu Purbaya Mau Tindak Pakaian Bekas Impor Ilegal, Saleh Husin: Ayo Gas Terus!

Menkeu Purbaya Mau Tindak Pakaian Bekas Impor Ilegal, Saleh Husin: Ayo Gas Terus!

Bisnis | Senin, 27 Oktober 2025 | 14:49 WIB

Terkini

DSI Harus Jadi  Integrated Data Center dan Pengawas, Kesuksesan Diukur dari Perbaikan Tata Kelola

DSI Harus Jadi Integrated Data Center dan Pengawas, Kesuksesan Diukur dari Perbaikan Tata Kelola

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 21:28 WIB

Tak Harus Jago Teknologi, Ini 5 Cara AI Bisa Bantu UMKM Kembangkan Bisnis

Tak Harus Jago Teknologi, Ini 5 Cara AI Bisa Bantu UMKM Kembangkan Bisnis

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 21:24 WIB

Raksasa Alat Berat China Bangun Pusat Layanan Purnajual di Balikpapan

Raksasa Alat Berat China Bangun Pusat Layanan Purnajual di Balikpapan

Bisnis | Kamis, 17 September 2026 | 21:18 WIB

Hangat di Rel LRT Jakarta, Dingin di Peta Politik 2029: Mengapa Duet Prabowo-Pramono Sulit Terwujud?

Hangat di Rel LRT Jakarta, Dingin di Peta Politik 2029: Mengapa Duet Prabowo-Pramono Sulit Terwujud?

News | Kamis, 17 September 2026 | 21:11 WIB

Bahlil Ungkap Hasil Rapat DEN dengan Prabowo di Istana

Bahlil Ungkap Hasil Rapat DEN dengan Prabowo di Istana

Video | Kamis, 17 September 2026 | 21:10 WIB

Padukan Realita dan AI, Lea Simanjuntak Hadirkan Visual Magis dalam Video Klip Ruang Dihatimu

Padukan Realita dan AI, Lea Simanjuntak Hadirkan Visual Magis dalam Video Klip Ruang Dihatimu

Entertainment | Kamis, 17 September 2026 | 21:08 WIB

KPK Sita Dokumen Layanan Pertanahan Usai Geledah 3 Ruang Dirjen ATR/BPN

KPK Sita Dokumen Layanan Pertanahan Usai Geledah 3 Ruang Dirjen ATR/BPN

News | Kamis, 17 September 2026 | 20:55 WIB

Arti Mimpi Bencana Alam, Pertanda Baik atau Buruk?

Arti Mimpi Bencana Alam, Pertanda Baik atau Buruk?

Lifestyle | Kamis, 17 September 2026 | 20:55 WIB

Viral Gaya Bicara Diduga Kajari Bandung 'Ngajak Ribut' Bikin Wartawan Naik Pitam

Viral Gaya Bicara Diduga Kajari Bandung 'Ngajak Ribut' Bikin Wartawan Naik Pitam

Video | Kamis, 17 September 2026 | 20:55 WIB

Tiga Orang Tewas, Pemerintah Mulai Kaji Penggunaan Sound Horeg

Tiga Orang Tewas, Pemerintah Mulai Kaji Penggunaan Sound Horeg

News | Kamis, 17 September 2026 | 20:41 WIB

×