Kekerasan Terus Meningkat, Ini Cara Pemerintah Lindungi Anak dan Perempuan

Bimo Aria Fundrika

Rabu, 26 November 2025 | 18:10 WIB
Kekerasan Terus Meningkat, Ini Cara Pemerintah Lindungi Anak dan Perempuan
Ilustrasi Perempuan korban kekerasan seksual. (Wikimedia Commons/Rajulur Rasyid)
    • Kasus Kekerasan Tinggi: 330.097 kasus kekerasan berbasis gender tercatat pada 2024, mayoritas korban perempuan muda.
    • SAPA 129 Jadi Saluran Utama: Layanan pengaduan terintegrasi nasional, menangani ribuan kasus dan terhubung dengan Simfoni PPA.
    • Pemerintah Bergerak: Perluasan layanan, pelaporan anonim, edukasi, dan kampanye “Berani Lapor, Negara Lindungi” untuk perlindungan korban.

Suara.com - Kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak masih menjadi persoalan serius di Indonesia. Laporan yang masuk ke kanal resmi negara menunjukkan bahwa kelompok rentan ini masih menghadapi ancaman di rumah, sekolah, tempat kerja, hingga ruang publik. 

Catatan Tahunan (Catahu) Komnas Perempuan 2025 (data 2024) mencatat 330.097 kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan. Angka ini meningkat 14,17% dari tahun sebelumnya, dengan mayoritas korban berusia 18–24 tahun.

Sementara itu, para pelaku banyak berasal dari kelompok usia produktif hingga lansia. Data ini menunjukkan bahwa kekerasan masih terjadi secara meluas dan sering menimpa perempuan muda yang berada pada fase rentan dalam hidup mereka.

Ilustrasi Kekerasan Seksual. (Wikimedia Commons/Alnauval)
Ilustrasi Kekerasan Seksual. (Wikimedia Commons/Alnauval)

Dalam setahun terakhir, pemerintah mempercepat penguatan layanan SAPA 129 (Sahabat Perempuan dan Anak) sebagai pusat pelaporan nasional.

Langkah ini merupakan komitmen untuk memastikan negara hadir secara nyata bagi perempuan dan anak, terutama dalam konteks pemerintahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan perlindungan kelompok rentan sebagai salah satu prioritas utama.

Diluncurkan pada 8 Maret 2021, SAPA 129 kini berkembang menjadi sistem pelaporan dan pendampingan yang terintegrasi secara nasional. Melalui nomor 129 atau WhatsApp 08111-129-129, masyarakat dapat mengadukan berbagai bentuk kekerasan.

Layanan ini menjadi elemen penting dalam membangun pelayanan publik yang cepat, aman, dan berorientasi pada pemulihan korban.

Sepanjang Januari–Oktober 2025, terdapat 1.986 kasus kekerasan terhadap anak yang ditangani melalui SAPA 129. Dari jumlah tersebut, 1.386 korban adalah perempuan dan 887 adalah laki-laki. Sebanyak 1.540 laporan diterima melalui saluran WhatsApp, menandakan bahwa kanal digital menjadi jalur utama masyarakat untuk mencari pertolongan.

Provinsi Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah kasus tertinggi, yaitu 470 kasus dalam sepuluh bulan terakhir—angka yang ikut mencerminkan meningkatnya kesadaran masyarakat untuk melapor dan kepercayaan terhadap sistem layanan negara (sumber: Media Talk KemenPPPA, 15 November 2025).

Pemerintah memastikan setiap laporan yang diterima ditangani secara cepat dan terkoordinasi. Saat ini SAPA 129 telah terhubung dengan Sistem Informasi Online Perlindungan Perempuan dan Anak (Simfoni PPA), yang memungkinkan pelacakan kasus secara real-time di seluruh Indonesia.

Integrasi ini mengurangi risiko laporan terlewat serta memperkuat basis data nasional untuk perumusan kebijakan yang lebih efektif.

Jangkauan layanan juga terus diperluas. Hingga Oktober 2025, SAPA 129 aktif di 34 provinsi, dilengkapi dengan operator tambahan di UPTD PPA sehingga penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan dekat dengan korban. Langkah ini sejalan dengan upaya pemerintah mempercepat desentralisasi layanan perlindungan sosial.

Pada Agustus 2025, KemenPPPA bersama Save the Children Indonesia meluncurkan versi terbaru website SAPA 129 yang lebih ramah bagi perempuan dan anak.

Portal ini menyediakan panduan pelaporan, peta layanan, hingga opsi pelaporan anonim bagi mereka yang membutuhkan kerahasiaan penuh. Pembaruan ini menjadi bagian penting dari upaya negara memperkuat ekosistem digital perlindungan dari kekerasan berbasis gender dan anak.

Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan KemenPPPA, Ratna Susianawati, menjelaskan bahwa fungsi SAPA kini diperluas menjadi pusat koordinasi nasional, termasuk untuk kasus yang memerlukan rujukan lintas provinsi hingga lintas negara.

Ia menegaskan bahwa pemerintah menargetkan penurunan signifikan kasus kekerasan dalam lima tahun ke depan melalui strategi komprehensif, mulai dari edukasi pencegahan, penanganan cepat, hingga pemulihan dan reintegrasi sosial.

Sejalan dengan implementasi UU Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual (UU TPKS), SAPA 129 juga berfungsi sebagai kanal utama pelaporan kekerasan seksual di lingkungan pendidikan maupun komunitas masyarakat.

Kampanye “Berani Lapor, Negara Lindungi” terus diperkuat untuk mendorong keberanian korban dan saksi dalam mengadukan kasus, serta memastikan bahwa proses hukum berjalan dengan berpihak kepada korban.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Kasus Kekerasan di Jakarta Melonjak, Anak-anak Jadi Korban Paling Dominan

Kasus Kekerasan di Jakarta Melonjak, Anak-anak Jadi Korban Paling Dominan

News | Sabtu, 22 November 2025 | 17:22 WIB

Mengapa Remaja Perempuan Jadi Target Favorit Kekerasan Digital? Yuk Simak!

Mengapa Remaja Perempuan Jadi Target Favorit Kekerasan Digital? Yuk Simak!

Your Say | Sabtu, 22 November 2025 | 11:40 WIB

KSPI Desak RUU PPRT Disahkan: Pekerja yang Menopang Ekonomi Justru Paling Diabaikan

KSPI Desak RUU PPRT Disahkan: Pekerja yang Menopang Ekonomi Justru Paling Diabaikan

News | Jum'at, 21 November 2025 | 17:25 WIB

Terkini

Prabowo Bisa Berapa Bahasa? Kini Wajibkan Belajar Bahasa Prancis di Semua Sekolah

Prabowo Bisa Berapa Bahasa? Kini Wajibkan Belajar Bahasa Prancis di Semua Sekolah

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:20 WIB

5 Zodiak Paling Beruntung dan Kaya Sepanjang Juni 2026, Rezeki Mengalir Deras!

5 Zodiak Paling Beruntung dan Kaya Sepanjang Juni 2026, Rezeki Mengalir Deras!

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:15 WIB

3 Zodiak yang Bakal Lewat Masa Sulitnya Usai 31 Mei 2026, Tak Lagi Stres dan Tanpa Beban

3 Zodiak yang Bakal Lewat Masa Sulitnya Usai 31 Mei 2026, Tak Lagi Stres dan Tanpa Beban

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 16:14 WIB

5 Zodiak dengan Hasil Ramalan Bintang Terbaik Hari Ini, Siap-siap Hoki

5 Zodiak dengan Hasil Ramalan Bintang Terbaik Hari Ini, Siap-siap Hoki

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:25 WIB

4 Foundation Tasya Farasya Approved, Ampuh Tutupi Flek Hitam Mulai Harga Rp20 Ribuan

4 Foundation Tasya Farasya Approved, Ampuh Tutupi Flek Hitam Mulai Harga Rp20 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:25 WIB

Apa Saja Syarat dalam Ibadah Umrah di Mekkah Arab Saudi?

Apa Saja Syarat dalam Ibadah Umrah di Mekkah Arab Saudi?

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:15 WIB

Makeup Anti Luntur dan Bebas Cakey, Ini 5 Tips Pakai Bedak Tabur agar Tahan Lama

Makeup Anti Luntur dan Bebas Cakey, Ini 5 Tips Pakai Bedak Tabur agar Tahan Lama

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 15:00 WIB

Siapa Owner Hanania Travel yang Lakukan Penipuan Umrah?

Siapa Owner Hanania Travel yang Lakukan Penipuan Umrah?

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:30 WIB

Dibongkar Tasya Farasya, Produk Rp100 Ribuan Ini Mirip Foundation Estee Lauder

Dibongkar Tasya Farasya, Produk Rp100 Ribuan Ini Mirip Foundation Estee Lauder

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 14:15 WIB

5 Sepatu Puma Tanpa Tali untuk Jalan Kaki, Nyaman dan Stylish Mulai Rp600 Ribuan

5 Sepatu Puma Tanpa Tali untuk Jalan Kaki, Nyaman dan Stylish Mulai Rp600 Ribuan

Lifestyle | Minggu, 31 Mei 2026 | 13:35 WIB