Suara.com - Sejak banjir mulai menyapu beberapa wilayah di Sumatera, tim SAR setempat lekas berupaya sekeras mungkin mengevakuasi dan menyelamatkan warga. Meski sudah menjadi pekerjaanya, tentu kesigapan ini perlu diapresiasi. Beberapa orang bahkan menanyakan berapa gaji tim SAR yang rela mempertaruhkan nyawa di banjir Sumatera.
Dalam beberapa video beredar bahwa Tim SAR menyelamatkan nyawa seseorang yang terjebak di pepohonan di wilayah Bireuen, Provinsi Aceh. Wilayah ini diketahui merupakan salah satu yang terdampak cukup parah.
Marsekal Madya TNI Muhammad Syafii menegaskan bahwa fokus utama mereka memang penyelamatan “Prioritas kami adalah menyelamatkan nyawa dan mencari korban yang masih hilang,” ujarnya dalam rapat koordinasi di BNPB Jakarta.
Basarnas menyebutkan bahwa kini ada setidaknya delapan operasi SAR aktif yang digelar di tiga provinsi terdampak. Tantangan besar di sini adalah banyak akses jalan yang terputus akibat banjir dan longsor.
Badan Penanggulangan Bencana Aceh (BPBA) mencatat bahwa kini ada 30 korban jiwa dengan lebih dari 1.400 warga mengungsi dari 20 kabupaten/kota.
Berapa Gaji Tim SAR?
Setiap kali terjadi bencana besar seperti banjir Sumatera, masyarakat kerap bertanya-tanya: berapa sebenarnya gaji tim SAR yang setiap hari mempertaruhkan nyawa?
Anda perlu tahu bahwa sebagian besar personel SAR, terutama di Basarnas, merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) dengan struktur gaji yang sudah ditetapkan pemerintah. Artinya, besaran pendapatan mereka mengikuti golongan, masa kerja, serta tunjangan kinerja yang diberikan oleh instansi.
Secara umum, gaji pokok personel SAR berada dalam rentang Golongan II hingga Golongan III. Untuk gambaran:
Baca Juga: Berapa Sisa Populasi Gajah Sumatera? Viral Ikut Terseret Banjir
- Golongan II A – II D umumnya menerima gaji pokok sekitar Rp2,1 juta – Rp3,5 juta.
- Golongan III A – III D menerima gaji pokok sekitar Rp2,8 juta – Rp4,8 juta.
Selain gaji pokok, mereka juga menerima tunjangan kinerja (tukin) yang jauh lebih besar dibanding gaji pokok. Tunjangan ini diberikan berdasarkan bobot pekerjaan, risiko, dan intensitas operasi. Untuk pegawai Basarnas, besaran tukin berkisar antara Rp2,4 juta hingga lebih dari Rp12 juta per bulan, tergantung kelas jabatan serta tingkat senioritas.
Petugas lapangan SAR—terutama rescuer yang turun langsung ke lokasi banjir, gunung, atau wilayah longsor—umumnya berada pada kelas jabatan menengah dengan nilai tukin berkisar antara Rp4 juta hingga Rp7 juta per bulan.
Di luar itu, mereka juga berhak menerima:
- Honorarium operasi SAR ketika sedang bertugas di lapangan
- Tunjangan risiko kerja
- Biaya perjalanan dinas jika operasi dilakukan di luar wilayah markas
Dengan demikian, total pendapatan petugas SAR di lapangan dapat berada pada kisaran Rp7 juta—Rp12 juta per bulan. Namun penting dicatat bahwa jumlah ini tidak sebanding dengan risiko pekerjaan, mengingat mereka harus menghadapi arus banjir, badai, medan longsor, hingga kondisi cuaca ekstrem secara langsung.
Inilah alasan mengapa masyarakat sering memberikan apresiasi tinggi kepada tim SAR. Mereka bekerja tanpa menunggu sorotan media, memprioritaskan keselamatan orang lain, dan tetap bertugas meski harus meninggalkan keluarga di tengah bencana.
Melihat kinerja tim SAR dalam bencana banjir Sumatera, jelas bahwa pekerjaan mereka bukan sekadar tugas rutin, melainkan panggilan kemanusiaan. Meski pendapatan mereka berada pada struktur gaji ASN yang relatif tetap, risikonya jauh lebih besar dibanding profesi lain. Dedikasi para petugas inilah yang membuat banyak nyawa berhasil diselamatkan di tengah kondisi alam yang sangat tidak bersahabat.