Suara.com - Gajah lagi-lagi menjadi korban dari keserakahan manusia. Jumlahnya yang kian menyusut, semakin memburuk usai banjir besar yang melanda Sumatera sebagai salah satu habitatnya.
Dari sini, muncul pertanyaan tentang berapa sisa populasi gajah di Sumatera? Pasalnya, baru-baru ini beredar video viral yang menunjukkan gajah ikut terseret banjir Sumatera.
Bukti lain menunjukkan ditemukannya bangkai Gajah Sumatera di antara puing-puing kayu di kawasan Meureudu, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Bangkai gajah itu bahkan masih dibiarkan lantaran belum ada alat berat yang mampu menembus lokasi temuan.
Setengah badan bangkai gajah dewasa (Elephas maximus sumatranus) itu terkubur dengan kepala mengarah ke bawah. Seorang warga setempat, Muhammad Yunus mengaku bahwa tidak pernah ditemukan gajah di wilayahnya.
Karena itulah, gajah yang malang itu diduga terseret banjir dari hutan di bagian hulu sungai. Selain gajah, banjir itu juga dilaporkan membawa banyak kayu dari hutan. Ini sekaligus menjadi bukti bahwa hutan setempat memang sedang dialih fungsikan.
Dengan begitu, besar kemungkinan bahwa gajah akan semakin terancam kepunahan karena tidak memiliki tempat tinggal.
Berapa Sisa Populasi Gajah Sumatera?
Populasi Gajah Sumatera terus mengalami penyusutan signifikan dalam dua dekade terakhir.
Dari jumlah yang dahulu diperkirakan mencapai lebih dari dua ribu individu, kini populasi liarnya diperkirakan hanya berkisar di bawah 1.500 ekor di seluruh Pulau Sumatra. Angka ini bukan hanya menunjukkan penurunan, tetapi menggambarkan kondisi darurat konservasi yang sedang berlangsung.
Baca Juga: Apakah Dinding Perlu Diganti Setelah Banjir? Ini Perawatan dan Tips Mengatasinya
Penyebab utama penyusutan populasi tersebut adalah hilangnya habitat, fragmentasi hutan, perburuan, hingga konflik antara manusia dan gajah yang kian meningkat di berbagai wilayah.
Dengan ruang hidup yang semakin sempit dan jalur jelajah yang terpotong oleh kebun, jalan, maupun permukiman, gajah-gajah ini terpaksa keluar dari hutan untuk mencari makan dan sering kali berakhir dalam situasi berbahaya.
Peristiwa banjir besar yang melanda Sumatra baru-baru ini turut memperburuk keadaan. Video viral yang menunjukkan gajah terseret arus, serta temuan bangkai gajah dewasa yang ikut terbawa banjir, menjadi bukti bahwa gajah tidak hanya menghadapi ancaman dari manusia, tetapi juga dari bencana alam yang dampaknya semakin parah akibat kerusakan ekosistem hutan.
Ketika banjir membawa kayu-kayu dalam jumlah besar, hal tersebut sekaligus menandakan bahwa daerah hulu sungai sudah banyak mengalami alih fungsi lahan.
Kematian satu ekor gajah saja sudah berdampak besar bagi kelangsungan spesies, apalagi jika habitatnya sudah terfragmentasi dan jumlah populasinya kecil.
Karena itu, fokus konservasi kini bukan hanya mempertahankan jumlah gajah, tetapi juga memastikan habitat alaminya tetap berfungsi.
Taman Nasional Tesso Nilo
Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di Riau dahulu dikenal sebagai salah satu habitat paling penting bagi Gajah Sumatera.
Kawasan ini dulunya memiliki hutan dataran rendah yang sangat kaya, menyediakan makanan, mineral, hingga tanaman obat yang penting bagi kesehatan gajah. Pada awal 2000-an, populasi gajah di TNTN diperkirakan mencapai sekitar 200 ekor.
Namun kondisi itu berubah drastis. Kini populasi Gajah Sumatera di Tesso Nilo diperkirakan hanya sekitar 150 ekor. Penyusutannya tidak hanya disebabkan oleh kematian alami atau konflik, tetapi terutama akibat hilangnya kawasan hutan yang menjadi jalur jelajah mereka.
Sekitar 85% wilayah TNTN telah beralih fungsi, sebagian besar menjadi kebun sawit ilegal dan permukiman. Perubahan ini membuat jalur pergerakan gajah terputus, sehingga mereka kehilangan akses terhadap sumber makanan alami.
Pemerintah sebenarnya pernah melakukan operasi besar dengan membongkar sekitar 4.700 hektar kebun sawit ilegal di dalam kawasan taman nasional, namun kerusakan yang sudah terjadi tetap meninggalkan dampak panjang pada populasi gajah.
Ketika jalur-jalur jelajah menyempit, gajah terdorong keluar dari hutan untuk mencari pakan dan kerap masuk ke wilayah manusia. Konflik pun mudah terjadi, menyebabkan cedera hingga kematian, baik pada gajah maupun warga.
Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah kematian gajah tercatat di sekitar Tesso Nilo, mulai dari kasus penyakit, kelaparan akibat hilangnya pakan alami, hingga dugaan keracunan.
Kerusakan besar-besaran pada TNTN membuat kawasan yang dulunya menjadi pusat konservasi kini berubah menjadi lokasi yang kritis bagi keberlangsungan populasi gajah Sumatera. Tanpa pemulihan habitat secara konsisten, populasi sekitar 150 individu tersebut berisiko terus menyusut dan kehilangan kemampuan berkembang biak secara optimal.
Kontributor : Hillary Sekar Pawestri