Bukan Buka Luka Lama, Psikolog Ungkap Pentingnya Aurelie Moeremans Tulis Pengalaman Traumatiknya

Selasa, 13 Januari 2026 | 18:58 WIB
Bukan Buka Luka Lama, Psikolog Ungkap Pentingnya Aurelie Moeremans Tulis Pengalaman Traumatiknya
Aurelie Moeremans (Instagram/aurelie)
Baca 10 detik
  • Aurelie Moeremans menulis buku Broken Strings atas saran terapis untuk memulihkan trauma.

  • Psikolog menilai menuliskan pengalaman traumatis adalah proses medis untuk menutup luka lama.

  • Keberanian bersuara membantu penyintas mengambil kendali hidup dan mengedukasi masyarakat luas.

Suara.com - Buku Broken Strings Aurelie Moeremans tengah menjadi perbincangan, karena mengungkap pengalaman kelam masa lalunya terkait child grooming dan hubungan abusif yang dialaminya 16 tahun silam.

Di tengah banyaknyaa dukungan publik untuk Aurelie Moeremans yang membagikan kisah hidupnya, ada pula segelintir orang yang menilai artis cantik itu hanya membuka kembali luka lamanya.

Sedangkan, mereka menilai Aurelie Moeremans dan sosok pelaku grooming yang diceritakannya dalam buku sudah memiliki kehidupan masing-masing.

Aurelie Moeremans lewat konten Youtube-nya pada Desember 2025 lalu sempat mengungkapkan alasannya menuangkan semua kisah masa lalunya dalam buku Broken Strings tersebut.

Artis cantik itu mengaku disarankan oleh terapisnya menuliskan seluruh pengalaman traumatisnya dulu, karena traumanya mengalami child grooming masih berbekas setelah 16 tahun berlalu.

"Awalnya aku ke hipnoterapis. Kalau aku sedih itu, kadang-kadang aku suka mukulin diri sendiri dan aku merasa pantas. Akhirnya terapis aku suruh aku nulis diary saja," ungkap Aurelie melalui kanal YouTube-nya.

buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (Instagram.com/aurelie)
buku Broken Strings karya Aurelie Moeremans (Instagram.com/aurelie)

Pandangan Psikolog soal Penyintas Menulis Pengalaman Traumatiss

Psikolog Anak dan Remaja, Anas Satriyo pun beranggapan bahwa langkah Aurelie Moeremans menuliskan pengalaman traumatisnya dalam sebuah buku bukanlah membuka luka lama, melainkan langkah medis untuk memulihkan kesehatan mentalnya.

Menurut Anas Satriyo, menulis ulang pengalaman hidup merupakan proses terapeutik yang sangat disarankan oleh ahli untuk membantu penyintas mengambil kembali kendali atas hidup mereka.

Baca Juga: Terpopuler: Vivo Kenalkan V70 Series, Rekomendasi HP Tahan Banting untuk Ojol

Melalui akun Threads-nya, Anas Satriyo membeberkan beberapa poin penting mengapa publikasi pengalaman traumatis seperti yang dilakukan Aurelie sangat krusial:

1. Bukan Membuka Luka, tapi Menutupnya dengan Sehat

Bagi banyak orang, bercerita mungkin terlihat seperti mengulik luka lama.

Namun bagi penyintas, ini adalah cara untuk memproses emosi yang tersumbat.

"Bercerita tidak sama dengan membuka luka. Sering kali, itu justru cara menutup luka dengan sehat," tegas Anas dalam akun Thread-nya pada Selasa 13 Januari 2026.

2. Mengambil Kembali Kendali Hidup

×
Zoomed

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

TERKINI