Kita juga meminta keimanan yang kuat agar tidak mudah tergoda oleh kemalasan atau maksiat selama Ramadan. Bagian akhir doa menegaskan tauhid, bahwa bulan hanyalah makhluk Allah dan tidak memiliki kekuatan apa pun tanpa izin-Nya.
Berikut bacaan doanya:
Arab:
اللَّهُمَّ أَهِلَّهُ عَلَيْنَا بِالْيُمْنِ وَالْإِيمَانِ وَالسَّلَامَةِ وَالْإِسْلَامِ رَبِّي وَرَبُّكَ اللَّهُ
Latin:
Allâhumma ahillahu ‘alainâ bil yumni wal îmân, was salâmati wal islâm. Rabbî wa rabbukallâh.
Artinya:
“Ya Allah, terbitkanlah bulan sabit ini kepada kami dengan membawa keberkahan dan keimanan, keselamatan dan Islam. Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.”
3. Doa Panjang Menyambut Ramadan
Masih dalam riwayat yang dihimpun Imam Abul Qasim Sulaiman bin Ahmad ath-Thabrani, terdapat doa panjang yang dibaca ketika Ramadan hadir.
Doa ini sangat lengkap karena mencakup kebutuhan fisik dan spiritual. Kita memohon kesabaran agar mampu menahan lapar dan haus, serta keikhlasan agar ibadah bernilai pahala.
Selain itu, ada permohonan agar dijauhkan dari rasa malas, bosan, dan kantuk berlebihan. Ini penting karena tantangan terbesar di bulan puasa sering kali bukan lapar, tetapi rasa lelah dan kurang semangat.
Puncaknya adalah permohonan agar diberi kesempatan meraih Lailatul Qadar, malam yang lebih baik dari seribu bulan. Berikut bacaannya:
Arab:
اللهمَّ أَظَلَّ شَهْرُ رَمَضَانَ وَحَضَرَ، فَسَلِّمْهُ لِي وَسَلِّمْنِي فِيهِ وَتَسَلَّمْهُ مِنِّي، اللهمَّ ارْزُقْنِي صِيَامَهُ وَقِيَامَهُ صَبْرًا وَاحْتِسَابًا، وَارْزُقْنِي فِيهِ الْجِدَّ وَالْإِجْتِهَادَ وَالْقُوَّةَ وَالنَّشَاطَ، وَأَعِذْنِي فِيهِ مِنَ السَّآمَةِ وَالْكَسَلِ وَالنُّعَاسِ، وَوَفِّقْنِي فِيهِ لِلَيْلَةِ الْقَدْرِ
Latin: