Tak Ada Negara yang Beneran Aman Jika Perang Dunia III Pecah, Kenapa Indonesia Bisa Disebut Aman?

Farah Nabilla

Selasa, 03 Maret 2026 | 11:10 WIB
Tak Ada Negara yang Beneran Aman Jika Perang Dunia III Pecah, Kenapa Indonesia Bisa Disebut Aman?
Ilustrasi negara yang aman dari Perang Dunia III. [Pixabay]
baca 10 detik
  • KERIS menyatakan tidak ada lokasi di dunia yang sepenuhnya aman jika terjadi konflik global berskala besar.
  • Posisi strategis Indonesia sebagai jalur perdagangan vital membuatnya rentan terhadap perhitungan kepentingan geopolitik kekuatan besar.
  • Dampak rambatan konflik global terbukti menyebabkan kenaikan harga pangan dan gangguan rantai pasok di dalam negeri.

Suara.com - Isu tentang negara mana yang paling aman jika Perang Dunia III pecah kembali ramai dibicarakan. Beberapa daftar di media bahkan menyebut Indonesia sebagai salah satu wilayah yang relatif aman karena menganut politik luar negeri bebas aktif dan tidak terlibat dalam blok kekuatan besar. Namun, benarkah demikian?

Menurut penjelasan dari Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (KERIS), tidak ada satu pun tempat di dunia yang benar-benar aman jika konflik global berskala besar benar-benar terjadi.

Anggapan bahwa Indonesia aman dinilai sebagai ilusi yang bisa runtuh sewaktu-waktu ketika perang sudah pecah. Berikut penjelasan dari Lembaga KERIS yang dikutip dari sosial medianya.

Netral Bukan Berarti Kebal

Indonesia memang konsisten menjalankan politik luar negeri bebas dan aktif, tidak berpihak pada kekuatan global mana pun. Secara teori, posisi ini membuat Indonesia tidak menjadi target langsung dalam rivalitas militer antarnegara besar.

Ilustrasi perang dunia ke-3. [Ist]
Ilustrasi perang dunia ke-3. [Ist]

Namun, dalam perang dunia, batas geografis dan sikap netral tidak selalu menjadi jaminan perlindungan. Dalam konflik besar, pertimbangan strategis sering kali lebih dominan dibanding pertimbangan diplomatik.

Indonesia memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Letaknya berada di persilangan jalur perdagangan dunia, di antara Samudra Hindia dan Pasifik, serta diapit oleh berbagai kepentingan geopolitik besar di kawasan Asia dan Australia.

Posisi ini menjadikan Indonesia kerap dipandang sebagai buffer state, wilayah penyangga di antara kepentingan kekuatan besar.

Artinya, meskipun tidak terlibat langsung dalam perang, Indonesia tetap berpotensi masuk dalam perhitungan strategis pihak-pihak yang berkonflik.

baca juga

Dampak Rambatan Sudah Terlihat

Kita sebenarnya sudah merasakan bagaimana konflik global berdampak langsung ke dalam negeri. Perang antara Rusia dan Ukraina misalnya, menyebabkan lonjakan harga gandum dan pupuk yang berimbas pada kenaikan harga pangan di Indonesia.

Gangguan keamanan di Laut Merah beberapa waktu lalu juga memengaruhi rantai pasok global. Kapal-kapal pengangkut barang harus memutar jalur, meningkatkan biaya operasional, dan akhirnya berdampak pada kenaikan harga barang di dalam negeri.

Jika konflik regional saja sudah menimbulkan efek signifikan, maka skenario Perang Dunia III terlebih dengan kemungkinan penggunaan senjata nuklir, tentu akan menimbulkan dampak yang jauh lebih luas dan sulit dikendalikan.

Kerentanan Negara Maritim

Sebagai negara maritim, Indonesia memiliki tantangan tersendiri. Sekitar 90 persen perdagangan dunia diangkut melalui jalur laut. Perairan Indonesia, melalui Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI), menjadi salah satu jalur penting dalam arus perdagangan global dengan kontribusi signifikan terhadap lalu lintas pelayaran internasional.

Harga minyak dunia diprediksi meroket sangat tinggi efek perang di Timur Tengah [Suara.com]
Harga minyak dunia diprediksi meroket sangat tinggi efek perang di Timur Tengah [Suara.com]

Gangguan keamanan di jalur ini bukan sekadar masalah regional, melainkan persoalan global. Jika terjadi konflik besar di kawasan Indo-Pasifik, arus logistik bisa terganggu drastis. Dampaknya tidak hanya berupa kelangkaan barang, tetapi juga kenaikan harga komoditas seperti minyak, emas, dan bahan pangan.

Dalam skenario ekstrem, ancaman bukan hanya berupa invasi terbuka, tetapi juga sabotase, perang siber, perang informasi, hingga perang proxy.

Bahkan risiko kegagalan sistem persenjataan atau insiden salah sasaran, seperti jatuhnya serpihan rudal yang melintas tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan.

Efek Domino Ekonomi dan Keamanan

Perang dunia tidak hanya soal tembakan dan pergerakan pasukan. Ketidakpastian ekonomi global hampir pasti terjadi. Nilai tukar bisa tertekan, pasar saham bergejolak, harga energi melonjak, dan ketahanan pangan terganggu.

Indonesia, dengan ketergantungan pada perdagangan internasional dan stabilitas kawasan, tentu tidak akan kebal dari efek domino tersebut. Bahkan tanpa keterlibatan langsung, tekanan ekonomi dan keamanan tetap akan terasa di dalam negeri.

Belum lagi ancaman di sektor ruang angkasa yang kini semakin relevan, mengingat ketergantungan sistem komunikasi dan navigasi pada satelit. Konflik yang meluas ke domain ini bisa berdampak pada sistem perbankan, transportasi, hingga pertahanan nasional.

Kenapa Indonesia Disebut Aman?

Lalu, mengapa Indonesia kerap muncul dalam daftar negara aman?

Jawabannya biasanya merujuk pada dua hal: tidak memiliki musuh langsung dalam konflik global saat ini dan tidak menjadi basis militer negara besar. Namun, penilaian ini cenderung menyederhanakan realitas geopolitik.

Dalam konflik global, faktor strategis seperti jalur laut, sumber daya alam, dan posisi geografis bisa menjadi pertimbangan utama. Indonesia memiliki ketiganya. Dengan potensi sumber daya yang melimpah dan lokasi yang vital, Indonesia tetap memiliki daya tarik strategis bagi berbagai kepentingan.

Tantangan Bukan Soal Terlibat atau Tidak

Pada akhirnya, pertanyaannya bukan sekadar apakah Indonesia akan terlibat langsung atau tidak dalam Perang Dunia III. Tantangan yang lebih besar adalah sejauh mana Indonesia siap menghadapi konsekuensi strategis, ekonomi, dan keamanan yang hampir pasti muncul.

Lembaga Kajian Pertahanan Strategis menegaskan bahwa tidak ada negara yang benar-benar aman dalam perang global. Menganggap Indonesia sepenuhnya aman justru berpotensi meninabobokan kesiapsiagaan.

Kesadaran bahwa risiko itu nyata menjadi langkah awal untuk memperkuat ketahanan nasional, baik di sektor pertahanan, ekonomi, maupun keamanan siber.

Dalam skenario perang dunia, yang terpenting bukanlah merasa aman, melainkan siap menghadapi kemungkinan terburuk.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

20 Rekomendasi Film dan Serial Perang Iran vs AS-Israel, Ada Homeland

20 Rekomendasi Film dan Serial Perang Iran vs AS-Israel, Ada Homeland

Lifestyle | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:56 WIB

40 Anak Tewas di Minab Akibat Serangan: Cerita Warga Iran saat Serangan

40 Anak Tewas di Minab Akibat Serangan: Cerita Warga Iran saat Serangan

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:53 WIB

Benarkah Indonesia Setara Swiss, Aman dari Perang Dunia Ketiga?

Benarkah Indonesia Setara Swiss, Aman dari Perang Dunia Ketiga?

Lifestyle | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:46 WIB

Kesaksian Warga & Turis Saat Serangan Iran ke UEA: Ini Bukan Dubai

Kesaksian Warga & Turis Saat Serangan Iran ke UEA: Ini Bukan Dubai

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:45 WIB

Dunia Memanas: Rusia, China, dan Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran

Dunia Memanas: Rusia, China, dan Korea Utara Kutuk Serangan AS-Israel ke Teheran

News | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:29 WIB

Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Kronologinya

Kenapa Israel dan AS Menyerang Iran? Ini Kronologinya

Lifestyle | Selasa, 03 Maret 2026 | 10:14 WIB

Terkini

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Bukan Cuma Jualan Dawet, Cerita Siti Aminah Bikin Usaha Tradisional Tetap Laris

Lifestyle | Kamis, 20 Agustus 2026 | 00:03 WIB

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Mengintip EIGER Nature, Wajah Baru Ekowisata Bogor yang Buka September 2026

Bogor | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:57 WIB

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Kata Warga, Pedagang hingga Ojol soal Demo Mahasiswa Digelar di Bundaran HI

Jakarta | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:36 WIB

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Bukan Sekadar Bikin Citra, Ini Cara PR Membangun Kepercayaan di Era AI

Lifestyle | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Mendagri Apresiasi Posko Sikka, Dirjen Bina Adwil Dorong Percepatan Pendataan Pascagempa Maumere

Bali | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:30 WIB

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Gudang Solar Subsidi 5.350 Liter di Palembang Ternyata Beroperasi di Balik Bengkel Las

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 23:09 WIB

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bawa Produk Lokal Tembus Pasar Internasional, BRI Fasilitasi UMKM di GMBPF 2026

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:59 WIB

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

5.990 PPPK di Sumsel Masih Menunggu Kepastian, Harapan Jadi Penuh Waktu Tergantung Anggaran

Sumsel | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:52 WIB

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Promo Mr. DIY, Dapatkan Cashback 45 Persen dengan QRIS BRImo

Bri | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:41 WIB

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

Indonesia Bisa Tiru! Begini Cara Pemkot Seoul Hadapi Gelombang Panas yang Mematikan

News | Rabu, 19 Agustus 2026 | 22:40 WIB

×