Suara.com - Salat Qiyamul Lail adalah ibadah salat sunnah yang dikerjakan pada malam hari setelah salat Isya, utamanya di bulan Ramadan, hingga sebelum masuk waktu Subuh.
Secara bahasa, qiyam berarti berdiri dan lail berarti malam. Jadi, Qiyamul Lail bermakna menghidupkan malam dengan ibadah, khususnya salat.
Amalan ini memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena dilakukan pada waktu yang sunyi, ketika kebanyakan manusia terlelap tidur. Berikut adalah macam-macam salat Qiyamul Lail.
1. Salat Tahajud
Salat Tahajud adalah bagian paling dikenal dari Qiyamul Lail. Secara khusus, Tahajud adalah salat malam yang dikerjakan setelah tidur terlebih dahulu, meskipun hanya sebentar. Inilah yang membedakannya dari salat malam lainnya.
Jumlah rakaat Tahajud minimal dua rakaat dan tidak ada batas maksimalnya. Rasulullah sering melaksanakannya sebanyak delapan rakaat, kemudian ditutup dengan Witir.
Waktu terbaik untuk Tahajud adalah sepertiga malam terakhir, karena pada waktu itu doa-doa lebih mudah dikabulkan dan suasana lebih khusyuk.
Keutamaan Tahajud sangat besar. Selain menjadi tanda keimanan dan ketakwaan, salat ini juga menjadi sarana mendekatkan diri kepada Allah, memohon ampunan, serta menguatkan hati dalam menghadapi berbagai persoalan hidup.
![Ilustrasi salat tahajud. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/25/18028-salat-tahajud.jpg)
2. Salat Witir
Salat Witir adalah salat sunnah penutup pada malam hari dengan jumlah rakaat ganjil, minimal satu rakaat. Witir bisa dikerjakan satu, tiga, lima, atau lebih selama jumlahnya ganjil.
Witir sangat dianjurkan dan hampir tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah, baik saat mukim maupun dalam perjalanan. Karena kedudukannya yang istimewa, sebagian ulama bahkan menyebutnya sebagai sunnah muakkadah (sangat ditekankan).
Baca Juga: Ramadan dan Seni Mengendalikan Ego: Puasa Jari di Medsos yang Susah Minta Ampun
Dalam pelaksanaannya, Witir bisa dilakukan dengan dua rakaat salam lalu satu rakaat, atau tiga rakaat sekaligus dengan satu salam. Doa qunut sering dibaca dalam salat Witir, khususnya pada paruh kedua bulan Ramadan, meskipun di luar Ramadan juga diperbolehkan.
3. Salat Tarawih
Salat Tarawih adalah salat malam yang khusus dikerjakan pada bulan Ramadan. Ia termasuk bagian dari Qiyamul Lail karena dilakukan setelah salat Isya hingga sebelum Subuh.
Jumlah rakaat Tarawih yang umum di masyarakat adalah 8 atau 20 rakaat, belum termasuk Witir. Perbedaan jumlah ini berasal dari perbedaan praktik di kalangan sahabat dan ulama, dan keduanya sama-sama memiliki dasar yang kuat.
Tarawih memiliki keutamaan besar karena dilakukan di bulan penuh berkah. Rasulullah menyebutkan bahwa siapa yang melaksanakan Qiyam Ramadan dengan iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Tarawih menjadi momen kebersamaan umat Islam, biasanya dikerjakan secara berjamaah di masjid.
![Ilustrasi anak dan orang tua salat tarawih di masjid. [Gemini AI]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2026/02/25/47424-salat-tarawih.jpg)
4. Salat Hajat di Malam Hari
Salat Hajat adalah salat sunnah yang dilakukan ketika seseorang memiliki kebutuhan atau permohonan khusus kepada Allah. Meskipun dapat dikerjakan kapan saja selain waktu yang dilarang, banyak orang memilih melaksanakannya pada malam hari karena suasananya lebih tenang dan khusyuk.
Jumlah rakaatnya minimal dua rakaat, kemudian dilanjutkan dengan doa memohon hajat atau keperluan tertentu. Ketika dilakukan pada malam hari, salat ini termasuk dalam rangkaian Qiyamul Lail karena menjadi bagian dari ibadah malam.