Suara.com - Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia kini turut menjawab desas-desus soal dampak perang Iran vs Amerika Serikat dan Israel terhadap pasokan minyak nasional RI.
Adapun sebelumnya, para ahli memproyeksikan bahwa perdagangan minyak akan terdampak besar perang Iran.
Terlebih, Selat Hormuz yang menjadi 'jantung' mobilitas pergerakan minyak bumi dunia kini bak menjadi medan perang.
Bahlil dalam rapat bersama Presiden RI Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Senin (2/3/2026) positif bahwa cadangan minyak nasional tetap masih bisa sampai 20 hari ke depan setelah perang Iran membuat pergerakan minyak dunia terhambat.
Sang mentri ESDM juga berseloroh bahwa sejauh ini, ia belum melihat masalah yang serius terkait dampak perang Iran terhadap kondisi minyak bumi nasional dan BBM.
Namun, ia tak menutup kemungkinan adanya koreksi harga minyak bumi dunia seiring dengan berjalannya konflik.
Lebih lanjut, Bahlil akan mengadakan diskusi dengan Dewan Energi Nasional (DEN) RI untuk mendapat analisis lebih dalam.
Prroyeksi yang dibuat Bahlil memang perlu kajian yang menyeluruh terkait cadangan minyak bumi RI.
Lantas, bagaimana kondisi riil soal cadangan minyak yang dimiliki RI?
Proyeksi Cadangan Minyak RI
Mengacu pada data SKK Migas, Indonesia saat ini menghadapi tantangan serius dalam kedaulatan energi.
Cadangan minyak bumi terbukti (proven reserves) Indonesia diproyeksikan hanya akan bertahan sekitar 10 hingga 12 tahun ke depan jika tidak ditemukan cadangan baru yang signifikan.
Angka ini menunjukkan bahwa Indonesia telah bertransformasi sepenuhnya menjadi negara importir minyak (net importer) untuk memenuhi kebutuhan domestik yang terus melonjak.
Sementara di sisi lain laju produksi alami (decline rate) di sumur-sumur tua terus merosot.
Berdasarkan data yang sama, m yoritas lapangan minyak di Indonesia, seperti Blok Rokan dan Minas, adalah lapangan tua (mature fields).
ecara alami, kemampuan reservoir untuk mendorong minyak ke permukaan terus menurun setiap tahun.
Tanpa intervensi teknologi tinggi seperti Enhanced Oil Recovery (EOR) atau injeksi kimia, produksi nasional akan terus merosot di bawah angka 600.000 barel per hari.
Padahal konsumsi domestik terus melonjak melewati 1,5 juta barel per hari.
Kondisi ini diperparah oleh eskalasi konflik di Timur Tengah pada Februari 2026 yang melibatkan Iran, Amerika Serikat, dan Israel.
Perang ini mengakibatkan disrupsi rantai pasok global yang ekstrem.
Harga minyak mentah dunia melambung tinggi karena ketidakpastian keamanan di jalur perdagangan internasional.
Sebagai negara yang bergantung pada impor, Indonesia terpukul oleh tingginya biaya pengadaan BBM dan membengkaknya beban subsidi APBN.
Bisakah Indonesia survive selama 20 hari?
Menyinggung bahasan sebelumnya, Bahlil menyebutkan bahwa cadangan penyangga energi nasional hanya mampu membuat Indonesia bertahan selama kurang lebih 20 hari jika jalur distribusi utama, yakni Selat Hormuz, ditutup total akibat perang.
Selat Hormuz adalah urat nadi minyak dunia. Jika Iran menutup jalur ini sebagai respons atas serangan AS dan Israel, pasokan minyak global akan lumpuh.
Angka '20 hari' ini sebenarnya adalah alarm keras.
Secara teknis, angka ini merujuk pada Operational Stock milik Pertamina, bukan cadangan strategis negara (Strategic Petroleum Reserves) yang seharusnya dimiliki oleh negara berdaulat dalam jangka panjang.
Artinya, jika dalam 20 hari jalur tersebut tidak dibuka atau Indonesia tidak menemukan sumber impor alternatif, stabilitas nasional akan terancam.
Kelangkaan BBM di SPBU akan terjadi, yang diikuti oleh lonjakan harga barang pokok dan inflasi hebat.
Indonesia memang bisa 'survive' secara jangka pendek, namun tanpa diversifikasi energi dan peningkatan cadangan strategis, kedaulatan minyak nasional berada di titik yang sangat rentan.
Kontributor : Armand Ilham