Perempuan di Dunia Kerja Modern: Menavigasi Berbagai Peran dan Tantangan Karier

Dinda Rachmawati

Jum'at, 06 Maret 2026 | 08:18 WIB
Perempuan di Dunia Kerja Modern: Menavigasi Berbagai Peran dan Tantangan Karier
Diskusi Perempuan di Dunia Kerja Modern: Menavigasi Berbagai Peran dan Tantangan Karier (Dok. Uniqlo)
baca 10 detik
  • Uniqlo bersama IBCWE mengadakan diskusi tentang interseksionalitas yang menyoroti pengaruh identitas pada perjalanan karier profesional.
  • Konsep interseksionalitas menekankan bahwa pengalaman kerja dipengaruhi gabungan lapisan identitas, bukan hanya satu aspek keberagaman saja.
  • Kepemimpinan inklusif dan peran sekutu penting untuk menciptakan ruang kerja aman agar setiap individu dapat berkontribusi autentik.

Suara.com - Dunia profesional sering kali diukur dari angka: target tercapai, strategi berjalan, kinerja meningkat. Namun di balik dinamika tersebut, ada dimensi lain yang jarang dibahas secara terbuka, bagaimana latar belakang dan identitas seseorang memengaruhi perjalanan kariernya.

Di banyak tempat kerja, seorang individu tidak hadir hanya sebagai pekerja. Ia membawa berbagai peran sekaligus. Seorang perempuan bisa memimpin tim di kantor sekaligus mengurus keluarga di rumah. 

Karyawan muda mungkin harus beradaptasi dengan budaya kerja yang berbeda dari lingkungan tempat ia dibesarkan. Ada pula pekerja yang harus menavigasi perbedaan usia, pendidikan, hingga kondisi sosial ekonomi dalam lingkungan profesionalnya.

Persilangan berbagai identitas inilah yang dikenal dengan istilah interseksionalitas. Konsep ini menyoroti bahwa pengalaman seseorang di dunia kerja tidak pernah berdiri sendiri, melainkan dipengaruhi oleh berbagai lapisan identitas yang saling berkaitan.

Topik tersebut menjadi fokus dalam diskusi yang diinisiasi oleh perusahaan ritel asal Jepang Uniqlo bersama Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) dalam rangka peringatan International Women’s Day 2026. 

Diskusi bertajuk “Interseksionalitas: Menavigasi Berbagai Lapisan Hambatan dalam Kehidupan Profesional” ini menghadirkan sejumlah pembicara dari berbagai latar belakang, antara lain Irma Yunita, Director Corporate Affairs Uniqlo Indonesia; Fetty Kwartati, Director PT Tara Naya Karsa; Rhaka Ghanisatria, Co-Founder Menjadi Manusia; serta Wita Krisanti, Executive Director IBCWE.

Ketika Identitas Bertemu di Tempat Kerja

Konsep interseksionalitas menantang cara lama dalam melihat keberagaman di perusahaan. Selama ini banyak organisasi sudah memiliki kebijakan Diversity, Equity & Inclusion (DEI). 

Namun pendekatan interseksional menekankan bahwa keberagaman tidak cukup dilihat dari satu aspek saja, seperti gender atau usia.

baca juga

Pengalaman seorang karyawan bisa sangat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor: latar pendidikan, kondisi sosial ekonomi, budaya, hingga peran dalam keluarga. 

Faktor-faktor tersebut sering kali menentukan bagaimana seseorang mendapatkan kesempatan, didengar suaranya, atau berkembang dalam kariernya.

Dalam diskusi tersebut, para peserta juga diajak merefleksikan makna inklusivitas melalui pengalaman nyata di tempat kerja. Banyak yang menyadari bahwa menciptakan ruang kerja yang inklusif bukan hanya soal kebijakan perusahaan, tetapi juga tentang perilaku sehari-hari di dalam tim.

Kepemimpinan yang Sensitif terhadap Perbedaan

Di tengah perubahan dunia kerja yang semakin cepat, kepemimpinan inklusif menjadi semakin relevan. Berbagai riset global menunjukkan bahwa perusahaan dengan kepemimpinan yang lebih beragam cenderung memiliki tingkat inovasi dan kinerja yang lebih baik.

Hal ini menunjukkan bahwa inklusi tidak hanya berkaitan dengan nilai sosial, tetapi juga memiliki dampak nyata terhadap keberlanjutan bisnis.

Irma Yunita, Director Corporate Affairs UNIQLO Indonesia, menilai bahwa keberagaman di tempat kerja harus diikuti dengan ruang yang memungkinkan setiap individu berkembang secara autentik.

“Keberagaman bukan hanya soal representasi. Ini tentang apakah setiap orang benar-benar memiliki ruang untuk berkembang dan berkontribusi secara autentik. Dalam industri ritel yang bergerak cepat, menjaga keseimbangan antara performa dan kepemimpinan inklusif memang menantang. Namun justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji,” ujar Irma Yunita.

Menurutnya, organisasi perlu terus membangun sistem yang adil dan transparan dalam pengembangan karyawan. Di Uniqlo Indonesia, pengembangan sumber daya manusia dilakukan melalui evaluasi berbasis kompetensi dan kinerja, serta berbagai program pelatihan kepemimpinan yang terbuka bagi karyawan dari berbagai level.

Perusahaan juga berupaya menciptakan ruang dialog terbuka antara manajemen dan karyawan agar setiap individu merasa didengar.

Pentingnya Peran “Sekutu” di Lingkungan Kerja

Selain kepemimpinan yang sensitif terhadap perbedaan, diskusi ini juga menyoroti pentingnya organizational allyship, peran individu yang secara aktif mendukung rekan kerja dari latar belakang berbeda.

Menjadi sekutu tidak selalu berarti memiliki solusi atas setiap masalah. Yang lebih penting adalah kesiapan untuk mendengarkan pengalaman orang lain dan terus belajar memahami perspektif yang berbeda.

Dalam praktik sehari-hari, sikap ini bisa muncul dari hal-hal sederhana: memberi kesempatan berbicara yang setara dalam rapat, membuka fleksibilitas kerja, atau berani mengoreksi bias yang mungkin tidak disadari.

Lingkungan kerja yang aman dan saling menghargai terbukti mampu mendorong karyawan lebih berani menyampaikan ide serta sudut pandang baru. Bagi perusahaan, hal tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi persaingan industri yang semakin kompleks.

Inklusi sebagai Investasi Masa Depan

Percakapan mengenai kepemimpinan inklusif di Indonesia memang semakin berkembang, meskipun masih menghadapi tantangan seperti budaya organisasi yang hierarkis dan bias tidak sadar dalam pengambilan keputusan.

Namun semakin banyak perusahaan yang mulai menyadari bahwa menciptakan lingkungan kerja yang inklusif bukan sekadar tren atau kampanye tahunan.

Sebaliknya, hal tersebut merupakan investasi jangka panjang bagi organisasi. Ketika seseorang tidak perlu menyembunyikan identitas atau latar belakangnya agar diterima di tempat kerja, ia dapat bekerja dengan lebih percaya diri dan maksimal.

Pada akhirnya, ruang kerja yang menghargai perbedaan bukan hanya memberi manfaat bagi individu, tetapi juga bagi tim dan perusahaan secara keseluruhan. Karena di tengah kompleksitas dunia kerja modern, keberagaman perspektif justru menjadi sumber kekuatan untuk terus berinovasi.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Seberapa Leo Sih Kamu? Mengukur Tingkat Percaya Diri dan Karisma
Ikuti Kuisnya ➔
Kalkulator Weton Online, Cek Hari Lahir Menurut Penanggalan Jawa
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kacamata Apa yang Paling Cocok dengan Gayamu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Sepatu Mana yang Cocok dengan Kepribadianmu?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan Si Zodiak Cancer?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Karakter Apakah Kamu Saat Mati Listrik Melanda?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Seberapa Kenal Kamu dengan MPR RI?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Standar Meja Makan Lebaran dan Tekanan Sosial Perempuan

Standar Meja Makan Lebaran dan Tekanan Sosial Perempuan

Your Say | Kamis, 05 Maret 2026 | 15:50 WIB

Hak Korban Kekerasan Seksual Terabaikan, LBH APIK Kritik Penerapan RJ dan Pemotongan Anggaran

Hak Korban Kekerasan Seksual Terabaikan, LBH APIK Kritik Penerapan RJ dan Pemotongan Anggaran

News | Rabu, 04 Maret 2026 | 19:03 WIB

4 Baju Koko Pria UNIQLO untuk Lebaran 2026: Nyaman dan Anti Gerah

4 Baju Koko Pria UNIQLO untuk Lebaran 2026: Nyaman dan Anti Gerah

Lifestyle | Rabu, 04 Maret 2026 | 18:15 WIB

Terkini

Dewi Natalia, Mantri BRI yang Tak Kenal Lelah Bantu Pedagang Keluar dari Jerat Rentenir

Dewi Natalia, Mantri BRI yang Tak Kenal Lelah Bantu Pedagang Keluar dari Jerat Rentenir

Lampung | Senin, 14 September 2026 | 15:11 WIB

14 Tahun Jadi Mantri BRI, Dewi Natalia Konsisten Dampingi Nasabah hingga Mandiri

14 Tahun Jadi Mantri BRI, Dewi Natalia Konsisten Dampingi Nasabah hingga Mandiri

Sumsel | Senin, 14 September 2026 | 15:08 WIB

Kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang Bantu Pedagang Lepas dari Rentenir

Kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang Bantu Pedagang Lepas dari Rentenir

Sumut | Senin, 14 September 2026 | 15:07 WIB

Helm yang Bagus Merek Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Lengkap Harganya

Helm yang Bagus Merek Apa? Ini 9 Rekomendasi Terbaik Lengkap Harganya

Otomotif | Senin, 14 September 2026 | 15:07 WIB

Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact

Menjaga Daya Kritis Gen Z, Suara.com dan Bulaksumur UGM Gelar Gen Z Impact

Your Say | Senin, 14 September 2026 | 15:06 WIB

Dari Pintu ke Pintu, Kisah Dewi Natalia Membawa Pedagang Pasar Lepas dari Rentenir

Dari Pintu ke Pintu, Kisah Dewi Natalia Membawa Pedagang Pasar Lepas dari Rentenir

Lampung | Senin, 14 September 2026 | 15:05 WIB

Akali Ulah Pak Ogah yang Suka Buka Jalan, Simpang Pesing Kini Diblokir Pakai Beton!

Akali Ulah Pak Ogah yang Suka Buka Jalan, Simpang Pesing Kini Diblokir Pakai Beton!

News | Senin, 14 September 2026 | 15:03 WIB

Kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang 14 Tahun Mengawal Ekonomi Masyarakat

Kisah Dewi Natalia, Mantri BRI yang 14 Tahun Mengawal Ekonomi Masyarakat

Bekaci | Senin, 14 September 2026 | 15:02 WIB

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

Bagaimana Malaysia Bisa Tambah Kuota BBM Subsidi Demi Ringankan Beban Hidup Rakyat?

News | Senin, 14 September 2026 | 15:00 WIB

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir

14 Tahun Mengabdi sebagai Mantri BRI, Dewi Bebaskan Warga Desa dari Jerat Rentenir

Bisnis | Senin, 14 September 2026 | 14:59 WIB

×