Suara.com - Selama bulan Ramadan, perhatian publik biasanya tertuju pada fluktuasi harga bahan pangan. Namun, ada satu komponen biaya dan sumber daya yang sering luput dari perhitungan, yakni lonjakan penggunaan air bersih.
Langkah efisiensi air kini bukan lagi sekadar anjuran moral, melainkan kebutuhan mendesak yang harus diterapkan secara masif, baik di sektor domestik, komunitas, maupun industri.
Fenomena Lonjakan Konsumsi Air
Statistik menunjukkan bahwa pola konsumsi air berubah drastis selama Ramadan. Aktivitas domestik yang dimulai sejak waktu sahur hingga berbuka meningkatkan beban infrastruktur air bersih. Di beberapa wilayah perkotaan di Indonesia, beban puncak penggunaan air bergeser ke dini hari, dengan estimasi kenaikan volume antara 15% hingga 20% dibandingkan hari biasa.
Jika tidak dikelola dengan bijak, pola ini akan mempercepat krisis air yang sudah di depan mata. Pemborosan air bukan hanya soal tagihan bulanan, tetapi soal ketahanan lingkungan jangka panjang. Berikut adalah beberapa data krusial yang perlu menjadi perhatian:
- Penurunan Muka Air Tanah: Pengambilan air tanah yang berlebihan secara terus-menerus (ekstraksi) menyebabkan penurunan muka tanah. Di Jakarta, rata-rata penurunan mencapai 10–12 cm per tahun di beberapa titik akibat beban pengambilan air bawah tanah.
- Kelangkaan Air Global: Menurut data World Resources Institute (WRI), Indonesia diprediksi akan mengalami tingkat cekaman air (water stress) yang tinggi pada tahun 2040 jika pola konsumsi tidak berubah.
- Limbah Domestik: Semakin banyak air bersih yang digunakan secara boros, semakin besar volume air limbah yang dihasilkan. Tanpa sistem pengolahan yang baik, air limbah ini mencemari ekosistem sungai dan sumber air permukaan.

Akibat Busa dan Keran Dengan Debit Air Besar
Fenomena kebocoran biaya akibat perilaku boros air ini menjadi sorotan PT Prasadha Pamunah Limbah Industri (PPLI). Perusahaan yang bergerak di bidang pengelolaan limbah ini menekankan bahwa efisiensi air adalah kunci keseimbangan antara ibadah, kelestarian alam, dan kesehatan finansial keluarga.
Salah satu pemicu utama borosnya air adalah kebiasaan mencuci pakaian dengan detergen berlebih. Laboratorium Manager PPLI, Muhamad Yusuf Firdaus, menjelaskan bahwa kebiasaan masyarakat menggunakan busa yang melimpah justru menjadi bumerang bagi lingkungan. Selain membutuhkan volume air bilasan yang lebih banyak, limbah busa juga dapat merusak ekosistem sungai.
"Untuk mencuci, kadang ibu-ibu suka detergen yang busanya melimpah. Padahal busa ini jadi masalah, kalau menumpuk terus ujung-ujungnya sinar matahari tidak bisa masuk ke sungai. Oksigen tidak dapat masuk, biota air di sungai terganggu," ujar Yusuf, Kamis (12/3/2026) dalam keterangannya.
Baca Juga: Belanja Ramadan Kini Jadi Momen Bonding Bersama Keluarga
Selain detergen, ritual bersuci seperti wudhu juga sering menjadi titik perhatian karena dapat menyebabkan pemborosan air. Yusuf menyayangkan kebiasaan berwudhu dengan membuka keran lebar-lebar. Hal ini menyebabkan debit air yang keluar menjadi lebih besar. Padahal, sebenarnya keran kecil saja sudah cukup.
Supervisor Environmental Database and Program PPLI, Irfan Maulana mengungkapkan, rata-rata penggunaan air untuk satu kali wudhu dapat mencapai 2,9 hingga 5 liter per orang. Angka ini sangat jauh di atas kebutuhan sunnah.
Selisih penggunaan air yang jika dihitung bisa berkali-kali lipat ini sebenarnya dapat digunakan untuk beberapa anggota keluarga lainnya dan menjadi lebih hemat. Tentunya juga bisa memberikan angka yang signifikan pada meteran air rumah tangga.
Direktur LAZNAS Al-Azhar, Iwan Rahman, menilai faktor kultur dan melimpahnya air tanah di Indonesia membuat masyarakat menjadi kurang peka terhadap nilai ekonomi air. "Sebagai negara yang air tanahnya melimpah, kita tidak pernah merasakan panasnya gurun. Sehingga mengonsumsi air dalam jumlah besar seolah hal biasa," kata Iwan.
Efisiensi Adalah Tanggung Jawab Bersama
Untuk mengatasi hal tersebut, sektor industri kini mulai memberikan contoh pengelolaan air untuk menekan biaya operasional sekaligus menjaga lingkungan. Melalui program Corporate Social Responsibility (CSR), PPLI telah mengolah sekitar 225 ribu meter kubik limbah menjadi air yang dapat digunakan kembali untuk kebutuhan internal. Contoh kecilnya yakni untuk mencuci kendaraan pengangkut.