- Tinggi gula dan lemak (terutama lemak jenuh)
- Rendah protein dan serat
- Cenderung "kalori kosong"
Nastar juga bisa mengandung lemak kurang lebih gram per buah serta gula yang cukup tinggi.
Dampak ke Tubuh: Kenyang vs "Kalori Tersembunyi"
Ini yang membuat nastar lebih "berbahaya" dari nasi jika dikonsumsi berlebihan. Alasannya antara lain:
1. Tidak Mengenyangkan
Perut tidak akan merasa kenyang setelah makan tiga butir nastar. Akibatnya, terjadi fenomena "kalori tumpang tindih". Anda tetap akan mengonsumsi makan besar (nasi dan lauk) karena merasa belum makan apa-apa.
2. Lonjakan Gula Darah
Nastar adalah kombinasi sempurna dari karbohidrat sederhana: tepung terigu putih, gula halus, dan selai nanas yang diproses dengan banyak gula. Komposisi ini memiliki indeks glikemik yang sangat tinggi.
3. Mudah Overeating
Nastar sering kali dikonsumsi dalam kondisi mindless eating, yakni makan tanpa sadar. Sambil asyik mengobrol dengan sanak saudara atau menonton televisi, tangan kita seolah memiliki magnet yang terus kembali ke dalam stoples.
Tips Aman Makan Nastar saat Lebaran
Meski demikian, bukan berarti Anda harus menghindari nastar sepenuhnya. Kuncinya adalah kontrol porsi.
- Batasi 2–3 butir saja per hari
- Jangan dimakan bersamaan dengan makanan berat
- Imbangi dengan buah dan air putih
- Tetap makan makanan utama bergizi seimbang
Jadi, apakah 3 butir nastar sama dengan sepiring nasi? Secara kalori memang iya, hampir setara atau bahkan lebih tinggi. Tapi secara gizi tidak sama.
Nasi memberi energi yang lebih stabil dan seimbang, sementara nastar lebih tinggi gula dan lemak. Itulah kenapa, meskipun terlihat kecil, konsumsi nastar tetap perlu dibatasi agar tidak berlebihan dalam asupan kalori harian.
Kontributor : Rishna Maulina Pratama