Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi

Bernadette Sariyem | Suara.com

Selasa, 31 Maret 2026 | 16:16 WIB
Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
Kolase foto Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kiri), Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi (tengah) dan Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf (kanan). [Suara.com]
  • Sejak Revolusi Islam 1979, Iran melarang penjualan dasi karena dianggap simbol budaya Barat yang dekaden dan menundukkan Pahlavi.
  • Penolakan dasi oleh pejabat Iran merupakan penegasan identitas revolusioner, berbeda dengan standar busana profesional global.
  • Dasi dipolitisasi sejak era Pahlavi yang memaksakan pakaian Barat sebagai upaya modernisasi dan emansipasi sosial.

Suara.com - Bila kita perhatikan, Presiden Iran Masoud Pezeshkian, Menlu Iran Abbas Araghchi, dan pejabat lainnya di negeri para Mullah itu, tak pernah tampil menggunakan dasi. Kenapa bisa begitu?

Dasi adalah elemen pakaian yang nyaris universal, terutama untuk acara-acara resmi kenegaraan maupun politik. Tapi uniknya, tidak ada satu pun pejabat hingga diplomat Republik Islam Iran yang memakai dasi.

Sejatinya, di berbagai belahan dunia, kain panjang yang melingkar di leher ini dianggap sebagai standar busana profesional.

Dasi mampu menghidupkan setelan jas yang membosankan, atau secara seremonial memamerkan status sosial seseorang.

Namun, di balik fungsinya sebagai pemanis gaya, dasi menyimpan sejarah politis yang kelam dan kompleks di Republik Islam Iran.

Dilarang dijual

Sementara dunia teknologi abad ke-21 di Silicon Valley mulai meninggalkan jas dan dasi demi kaos oblong dan celana jins, serta budaya "Casual Fridays" merambah kantor-kantor korporat, mengenakan dasi di Iran bisa menjadi proposisi yang berisiko.

Sejak Revolusi Islam tahun 1979, lembaga keagamaan Iran yang dipimpin oleh Ayatollah Rohullah Khomeini telah melarang penjualan dasi, karena menganggap tekstil tersebut sebagai simbol budaya Barat yang dekaden.

Bagi pemerintah baru Iran pasca-revolusi, dasi dan dasi kupu-kupu dianggap tidak Islami dan dicap sebagai "simbol Barat".

Atribut ini dipandang sebagai penanda penundukan budaya di bawah kekuasaan monarki Pahlavi yang sekuler.

Inilah alasan mengapa setiap pejabat Iran, pegawai pemerintah, hingga kepala negara, tetap membiarkan kerah kemeja mereka terbuka meski mengenakan setelan jas formal di forum internasional.

Meskipun dilarang secara hukum, penegakan aturan ini mengalami pasang surut selama bertahun-tahun.

Di bawah pemerintahan presiden reformis Mohammad Khatami tahun 1995 sampai 2005, pembatasan tersebut sempat melonggar, di mana dasi mulai dijual kembali di butik-butik kota besar.

Menariknya, meski penjualannya dilarang, mengenakan dasi bukanlah pelanggaran yang dapat dihukum bagi warga sipil.

Banyak pria Iran masih terlihat mengenakan dasi di lingkungan universitas, pesta pernikahan, atau saat bekerja di sektor swasta.

Simbol kemewahan Monarkis

Untuk memahami mengapa dasi menjadi begitu dipolitisasi, kita harus menengok kembali ke era kepemimpinan despotik Reza Shah Pahlavi (1925-1941).

Di bawah kekuasaannya, Iran melakukan modernisasi paksa yang memberikan dampak traumatis bagi kehidupan sehari-hari warga.

Terinspirasi oleh gerakan republik di Turki, rezim Pahlavi berusaha "meng-Eropakan" penampilan rakyatnya melalui kebijakan berpakaian yang drakonian.

Pada tahun 1928, sebuah undang-undang disahkan yang mewajibkan semua pegawai negeri, kecuali pemimpin agama, untuk mengenakan pakaian Barat.

Kemudian pada tahun 1935, muncul dekrit yang mewajibkan penggunaan topi fedora bagi karyawan negara.

Puncaknya terjadi pada tahun 1936, ketika Shah melarang penggunaan cadar atau hijab bagi perempuan.

Kebijakan ini disambut baik oleh kelas menengah perkotaan di Teheran, namun ditentang keras di provinsi-provinsi dan oleh kelas pekerja.

Houchang Chehabi, dalam artikelnya untuk jurnal Iranian Studies, mencatat sebuah ironi besar dari kebijakan tersebut.

Pejabat dan rakyat setara

"Dengan melembagakan perbedaan lahiriah antara orang awam dan ulama, negara Pahlavi secara tidak sengaja berkontribusi pada penciptaan kelompok ulama yang memiliki batas-batas jelas... kelompok yang empat dekade kemudian akan memimpin keruntuhan dinasti tersebut," tulis Chehabi.

Chehabi berpendapat, standarisasi pakaian ini adalah bagian dari "rekayasa sosial berpakaian" yang dianggap sebagai syarat mutlak untuk emansipasi dan kesetaraan dalam sistem bangsa-bangsa global.

Namun, pasca-revolusi 1979, naskah gaya berpakaian ini berbalik arah sepenuhnya. Pejabat rezim saat ini menunjukkan identitas mereka justru melalui penolakan terhadap dasi.

"Sementara dalam pertemuan internasional seorang pemimpin Arab mungkin mengenakan jilaba dan politisi Pakistan mengenakan shirvani, pejabat Republik Islam Iran hanya menonjol karena penolakan mereka untuk memakai dasi, sebuah penolakan yang lebih berkaitan dengan populisme revolusioner daripada dengan Islam," catat Chehabi.

Ironi terdalam dari semua kontroversi ini adalah kemungkinan bahwa dasi sebenarnya memiliki asal-usul kuno dari Iran.

Secara historis, dasi modern diturunkan dari cravat yang pertama kali dipakai oleh tentara bayaran Kroasia di Prancis pada abad ke-17.

Sejarawan Inggris Noel Malcom mengklaim bahwa syal leher tersebut awalnya dipakai oleh suku Kroasia yang bermigrasi ke wilayah Balkan dari dataran tinggi Iran selama periode Sassanid.

Jika teori ini benar, maka benda yang kini ditolak keras oleh Teheran sebagai simbol Barat sebenarnya adalah warisan nenek moyang mereka sendiri yang telah menempuh perjalanan ribuan tahun.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Geografi Indonesia Sejauh Mana Anda Mengenal Peta Nusantara?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Sudah Cair? Ungkap Karakter Asli Keuangan Kamu
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Pecahkan 10 Kasus Misterius Ini, Kamu Detektif atau Cuma Amatir?
Ikuti Kuisnya ➔
SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔

Komentar

Terkait

Apakah Kapal Tanker Indonesia Boleh Melewati Selat Hormuz? Cek Info Terkini

Apakah Kapal Tanker Indonesia Boleh Melewati Selat Hormuz? Cek Info Terkini

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:01 WIB

Iran Tarik Biaya Tambahan Kapal Lewat Selat Hormuz, Teman AS - Israel Haram Melintas

Iran Tarik Biaya Tambahan Kapal Lewat Selat Hormuz, Teman AS - Israel Haram Melintas

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:45 WIB

Iran Siapkan Cara Baru Bikin Israel Makin Sengsara

Iran Siapkan Cara Baru Bikin Israel Makin Sengsara

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:27 WIB

Pasukan Penerjun Payung Amerika Tiba di Timur Tengah, Skenario Operasi Darat ke Iran

Pasukan Penerjun Payung Amerika Tiba di Timur Tengah, Skenario Operasi Darat ke Iran

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:50 WIB

Kejahatan Perang Baru AS-Israel Terbongkar, Incar Museum dan Situs Sejarah Iran

Kejahatan Perang Baru AS-Israel Terbongkar, Incar Museum dan Situs Sejarah Iran

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:34 WIB

Ejek Donald Trump, Iran Serukan Persatuan Negara Arab untuk Usir Kekuatan AS dari Timur Tengah

Ejek Donald Trump, Iran Serukan Persatuan Negara Arab untuk Usir Kekuatan AS dari Timur Tengah

News | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:12 WIB

Jejak Hitam Ghalibaf, Ketua DPR Iran yang Disebut Jadi Jagoan Trump

Jejak Hitam Ghalibaf, Ketua DPR Iran yang Disebut Jadi Jagoan Trump

Video | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:30 WIB

Terkini

Apakah Kapal Tanker Indonesia Boleh Melewati Selat Hormuz? Cek Info Terkini

Apakah Kapal Tanker Indonesia Boleh Melewati Selat Hormuz? Cek Info Terkini

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 16:01 WIB

Apakah Tarif Listrik PLN Naik? Heboh Gonjang Ganjing Kenaikan Harga Imbas Krisis BBM Global

Apakah Tarif Listrik PLN Naik? Heboh Gonjang Ganjing Kenaikan Harga Imbas Krisis BBM Global

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:57 WIB

Label Dapat Didaur Ulang Starbucks Dipertanyakan, Pakar Ungkap Realitas Sebenarnya

Label Dapat Didaur Ulang Starbucks Dipertanyakan, Pakar Ungkap Realitas Sebenarnya

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:30 WIB

7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam

7 Bedak Wardah yang Tahan Lama Seharian, Makeup Flawless dari Pagi sampai Malam

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:02 WIB

5 Sepatu Lari dengan Busa Responsif yang Bikin Langkah Lebih Ringan dan Hemat Tenaga

5 Sepatu Lari dengan Busa Responsif yang Bikin Langkah Lebih Ringan dan Hemat Tenaga

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 15:00 WIB

Apa Penyebab Flek Hitam di Wajah? Ini 7 Faktornya

Apa Penyebab Flek Hitam di Wajah? Ini 7 Faktornya

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:49 WIB

3 Skincare Korea Alternatif Retinol, Bantu Kulit Cerah dan Awet Muda Tanpa Efek Samping

3 Skincare Korea Alternatif Retinol, Bantu Kulit Cerah dan Awet Muda Tanpa Efek Samping

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:06 WIB

Clara Shinta Viral karena Apa? Kini Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami

Clara Shinta Viral karena Apa? Kini Bongkar Dugaan Perselingkuhan Suami

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 14:04 WIB

Isu BBM Naik Per 1 April 2026, Begini Cara Cek Harga Resmi Pertamina Biar Gak Kena Hoaks

Isu BBM Naik Per 1 April 2026, Begini Cara Cek Harga Resmi Pertamina Biar Gak Kena Hoaks

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:47 WIB

Limbah Makanan Menggunung, Ini Solusi Sederhana untuk Menguranginya

Limbah Makanan Menggunung, Ini Solusi Sederhana untuk Menguranginya

Lifestyle | Selasa, 31 Maret 2026 | 13:05 WIB