- Agresi militer AS-Israel telah merusak 131 monumen bersejarah dan 64 fasilitas pariwisata di Iran, dengan kerusakan terparah berada di wilayah ibu kota Teheran.
- Menlu Iran Abbas Araghchi mengutuk keras serangan terhadap situs warisan dunia tersebut dan mengecam sikap diam UNESCO yang dinilai tidak bisa diterima.
- Serangan terhadap warisan budaya ini merupakan kejahatan perang yang melanggar Konvensi Den Haag 1954, memicu balasan sah dari pihak militer Iran ke pangkalan musuh.
Suara.com - Serangan brutal dari Agresi AS-Israel yang membabi buta kini tidak hanya menargetkan fasilitas militer, tetapi juga telah meluluhlantakkan ratusan Monumen Bersejarah di wilayah Republik Islam tersebut.
Situasi ini memprihatinkan memicu kemarahan besar dari Abbas Araghchi yang tidak habis pikir melihat lambannya respons perlindungan dari komunitas internasional.
Sang menteri dengan tajam langsung melontarkan kritik keras kepada Organisasi UNESCO karena lembaga tersebut hanya bungkam saat peninggalan budaya berharga di Provinsi Teheran dan dihancurkan oleh musuh.
Kementerian Nasional Warisan Budaya, Pariwisata, dan Kerajinan Iran baru saja menerbitkan sebuah laporan resmi yang mengurangi kerugian besar pada situs sejarah akibat invasi militer tersebut.
Menurut catatan pemerintah setempat, sebanyak 131 situs bersejarah dan 64 fasilitas pariwisata yang mencakup situs warisan dunia telah hancur lebur akibat gempuran tanpa henti dari pihak lawan.
Pihak kementerian menegaskan bahwa tindakan biadab yang terus menghancurkan warisan budaya luhur bangsa ini merupakan sebuah pelanggaran yang sangat berdampak terhadap hukum internasional.
Berdasarkan analisis sebaran geografis dari serangan tersebut, wilayah ibu kota menjadi daerah paling menderita dengan total 61 lokasi bersejarah yang mengalami kerusakan parah.
Wilayah Isfahan dan Kordestan terpaksa menyusul di posisi kedua serta ketiga dengan masing-masing 23 dan 12 lokasi bersejarah yang menjadi korban kebrutalan serangan udara.
Jika dilihat dari klasifikasi fungsinya, terdapat 111 situs bersejarah dan museum di seluruh negeri yang kini kondisinya sangat memprihatinkan akibat hantaman rudal dari udara.
Selain itu, 11 bangunan bernilai sejarah tinggi di Ibu Kota serta 9 lokasi peninggalan era Pertahanan Suci di Provinsi Khuzestan juga hangus menjadi korban agresi.
Infrastruktur pendukung ekonomi pariwisata juga tidak luput dari kehancuran, di mana 64 fasilitas penting seperti bangunan hotel dan agen perjalanan dilaporkan mengalami kerusakan material.
Menariknya, laporan tersebut juga mencatat sebuah anomali karena masih ada sekitar 25.898.000 perjalanan wisata yang terjadi di seluruh penjuru negeri dari rentang tanggal 16 hingga 27 Maret.
Tingginya angka mobilitas warga tersebut diklaim oleh pemerintah sebagai bukti nyata dari ketangguhan serta kekuatan fundamental industri pariwisata Iran di tengah gempuran perang.
Laporan kementerian itu pada akhirnya mendesak komunitas internasional untuk segera memecah kebisuan mereka dan dengan tegas mengutuk serangan terhadap warisan budaya milik Iran yang berani.
Melalui unggahan di platform media sosial X pada 15 Maret lalu, diplomat tertinggi Iran ikut menyuarakan kecaman pedasnya terhadap tindakan vandalisme perang yang dilakukan musuh.